Gandrung, Seni Tari Berbalut Mitologi
Foto: musicamoviles.com |
Membicarakan gandrung tidak bisa hanya sebatas menyangkut kesenian tari. Latar belakang sejarahnya begitu pajang dan banyak bersinggungan dengan wacana politik, keyakinan, juga mitologi. Teori paling umum meriwayatkan gandrung lahir dari lingkungan masyarakat Suku Osing, warga Kerjaan Hindu Blambangan yang disebut-sebut sebagai penduduk awal Banyuwangi, Jawa Timur.
Tahun 1767, Blambangan yang berada dalam penguasaan kerajaan Mengwi, Bali, mendapatkan serangan besar-besaran dari balapasukan Belanda yang dibantu Mataram dan Madura. Upaya penaklukan itu telah mengobarkan perlawanan hebat dari rakyat Blambangan yang dikenal dengan perang Puputan Bayu pada 1771. Peperangan yang berakhir dengan kemenangan tenara Belanda pada 1772 tersebut, konon berlangsung sangat tragis. Sekitar enam puluh ribu jiwa rakyat Blambangan dikabarkan tewas, tertawan, hilang, hingga melarikan diri ke hutan-hutan.
Diriwayatkan, hanya sekitar lima ribu orang rakyat Blambangan tersisa, didominasi oleh anak-anak, janda, serta para orang tua. Mereka tersebar di desa-desa dan tempat persembunyian di hutan-hutan. Keadaan mereka sangat mengenaskan. Tak lama berselang, sejumlah pria Suku Osing memulai tradisi menari berkeliling ke desa-desa luar dengan berdandan sebagai perempuan.
Hal tersebut mereka lakukan untuk menyambung hidup, serta menyebarkan intrik-intrik terhadap penjajah Belanda. Warga desa yang mampu biasa memberi imbalan berupa beras atau hasil bumi kepada para penari gandrung. Oleh gandrung dan anggota kelompok penabuh musik, hasil tersebut lalu dibagi dengan para pengungsi yang hidup dengan derita berkepanjangan di hutan-huntan.
Meski perang telah usai, tradisi gandrung terus berkembang dengan mengalami sejumlah pergeseran konsep. Gandrung yang semula dimainkan laki-laki (gandrung lanang), kemudian punah dan digantikan para penari perempuan (gandrung wadhon). Catatan sejarah menyebutkan, tahun 1890 gandrung laki-laki lenyap dari Banyuwangi. Hal tersebut tidak terlepas dari desakan para pengajur Islam yang tidak menghendaki laki-laki berdandan seperti perempuan.
Selain merupakan nama kesenian yang dimainkan, istilah ‘gandrung’ juga merujuk pada diri sang penari. Penari gandrung perempuan pertama dikenal dengan sebutan gandrung Semi, yang pada 1895 masih berusia 10 tahun. Namun demikian, gandrung disebut baru benar-benar hilang pada 1914 setlah wafatnya Marsan, yang merupakan gandrung lanang terakhir.
Setelah dibawakan perempuan, gandrung berkembang sebagai seni hiburan dalam berbagai hajatan di desa. Gandrung biasanya dimulai sekitar pukul 21.00 dan berakhir menjelang subuh. Pertunjukan gandrung terbagi ke dalam tiga babak, yakni jejer, ngibing, dan seblang subuh. Jejer merupakan pembuka, di mana gandrung menembang secara solo. Dalam babak selanjutnya, ngibing, para tamu bergantian menari bersama sang gandrung.
Gandrung akan memilih pasangan menarinya, dengan mula-mula menarik orang yang paling dianggap penting dengan selendangnya. Pada kesempatan tersebut, tak jarang terjadi keributan karena para lelaki berebutan menari, serta tak jarang sebagian di antaranya dalam kondisi mabuk. Ketika itu gandrung akan mendapatkan saweran dari rekan dia menari.
Selanjutnya, babak seblang subuh adalah penutup. Temabang-tembang bertema sedih dilantunkan. Suasana mistis terasa pada bagian tersebut, di mana fase tersebut masih terkait dengan ritual seblang, yakni prosesi penyembuhan atau penyucian jiwa.
Koreografer sekaligus peneliti tari gandrung, Elly D Luthan menjelaskan, pada saat seblang subuh, biasanya para perempuan dan anak-anak akan datang. “Pada saat itu, gandrung akan meminta maaf kepada para perempuan, jika saja mereka terganggu karena suami-suami menari bersama dia,” ujar Elly, dijumpai seusai pertunjukan “Gama Gandrung”, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu, 11 Juni 2014.
Elly bersyukur, hari ini gandrung masih lestari di Banyuwangi, meskipun suasana mistis tidak terasa lagi. Selain tarian gandrung tradisional, menurut Elly gandrung juga banyak menginspirasi penciptaan tari kreasi kontemporer yang banyak dimotori anak-anak muda.
Tiga penari cantik itu memainkan tubuh dan
selendangnya dengan begitu gemulai. Berbalut pakaian tradisional dan mahkota
emas berpendaran, ketiganya menjadi primadona di antara para penari pengiring
yang melingkung di sekitar mereka. Namun meskipun berdandan dan bergaya
feminin, tiga primadona panggung itu terang adalah kaum pria. Mereka adalah
para gandrung lanang.
Pria-pria cantik itu membawakan tarian kreasi berlakon “Gama Gandrung”,
interpretasi atas sejarah tari gandrung dari Banyuwangi, Jawa Timur. Dikarang
koreografer muda Bathara Saverigadi Dewandoro, “Gama Gandrung” dipentaskan Rabu
malam, 11 Juni 2014. Pertunjukan bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta
Pusat.
Dalam bahasa Sanksekerta, kata ‘gama’ berarti ‘perjalanan’. “Gama
Gandrung” sendiri meriwayatkan rentang sejarah dan perkembangan tari gandrung,
kesenian yang hari ini menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. Cerita dimulai dengan
babak kelahiran gandrung, ketika sejumlah lelaki menari berkeliling desa demi
menyambung hidup. Tak hanya ‘mengamen’, para penari itu sekaligus menyebar
intrik politik terhadap pasukan Belanda yang telah memporak-porandakan
desa-desa mereka.
Pada perkembangannya, konflik dalam budaya
gandrung tak terhindarkan ketika sejumlah kalangan mengharamkan laki-laki
berdandan seperti perempuan. Maka babak baru gandrung lahir, di mana para
perempuan sesungguhnya yang membawakan tarian penghibur yang penuh energi
mistis itu. Namun para gandrung wadhon (penari gandrung perempuan)
tersebut juga tak luput mendapat cibiran. Sebagian orang menganggap mereka
perempuan sundal yang membuat kaum pria keblinger, tergila-gila.
“Gama Gandrung” dibawakan belasan penari,
laki-laki dan perempuan. Sebagian besar gerak adalah rekaan sang kreator,
dengan mengambil sejumlah bagian dari komposisi tari gandrung. Misalnya adalah egol
atau goyang pinggul, permainan kipas, serta permainan mengibas dan mebeberkan
sempur (selendang). Para penari keluar-masuk panggung membawakan berbagai
peran, termasuk sosok para prajurit kompeni, yang berhubungan dengan latar
sejarah lahirnya tari gandrung.
Bathara, sang koregrafer, memainkan peran
Marsan, sosok gandrung lanang (penari gandrung laki-laki) terakhir.
Sementara peran Semi, gandrung wadhon pertama, dimainkan khusus
oleh Cahwati, penari muda yang lebih dahulu bersinar di panggung kesenian tari
tradisional. Pergantian dua zaman gandrung, dari lanang ke wadhon,
divisualisasikan secara cantik dengan berpindahnya omprok, mahkota
gandrung, dari kepala Marsan ke kepala Semi. Lantunan tembang Banyuwangi
mengalun khidmat sekaligus penuh kegetiran, membuat perasaan sedih sekaligus
mencekam.
Tak hanya melalui gerak, cerita juga
dihantarkan lewat narasi dan tembang. Narasi terkadang dibawakan seseorang di
luar penggung, kadang juga oleh penari, utamanya tokoh Marsan. Tembang syahdu
dilantunkan, baik lagu rakyat Banyuwangi maupun lagu gubahan baru berbahasa
Indonesia. Penata musik, dalang Sri Waluyo, menghadirkan tak hanya aransemen
tradisional yang khas gandrung, tetapi juga memberi sentuhan musik kontemporer
melalui gitar listrik.
Panggung dan pencahayaan dirancang teatrikal.
Di sudut kanan, replika omprok besar berdiri dengan jaring-jaring
selendang terpancang ke segala penjuru. Ditembak lampu warna-warni, instalasi
tersebut menambah pesona pertunjukan.
Tentang Koreorafer
Bathara Saverigadi Dewandoro, sang koreografer
adalah remaja berusia 17 tahun. Pada usianya yang masih belia, Bathara
telah menjadi seniman tari muda yang bersinar. Sejumlah penghargaan dia terima
dari berbagai ajang perlombaan, baik di dalam dan luar negeri. Tak heran,
beberapa stasiun televisi Ibu Kota pernah secara khusus mengangkat
profilnya.
Bathara mewarisi darah tari dari kedua orang
tuanya. Ayahnya, Suryandoro, adalah seniman wayang orang dan penari senior
alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sementara sang ibu, Dewi
Sulastri, juga penari kenamaan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta. Keluarga tersebut kini mengelola lembaga seni tradisional Swargaloka
di Jakarta.
Menurut Bathara, proses penciptaan "Gama
Gandrung" berlangsung lebih kurang empat bulan. Dua bulan merupakan proses
pengumpulan bahan, yakni berbagai pengetahuan tentang gandrung Banyuwangi, dan
dua bulan merupakan proses penciptaan komposisi gerak.
Dijumpai seusai pertunjukan, pemuda kelas 2
SMA Angkasa 2, Jakarta Timur, degan fasih menceritakan sejarah dan motivasinya
mengangkat tema gandrung dalam pementasannya. "Saya suka tari gandrung,
dan saya berharap anak-anak muda hari ini paham sejarah tarian tersebut,"
ujar dia.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Maret
(22)
- Keroncong, Sejarah Panjang Akulturasi Budaya
- Surga Pewayangan Bernama Indonesia
- Mencuci Pakaian dari Zaman ke Zaman
- Ramai-Ramai Fotografi Jalanan
- Gandrung, Seni Tari Berbalut Mitologi
- Ragam Seni Lakon Petani
- Hip Hop, Kembang Api yang tak Pernah Padam
- Cara Fotografi Menggugat Peradaban Kota
- Terpikat Pesona Golek Pesisiran
- Jawa dalam Peta Teh Dunia
- Fin Komodo, Ketangguhan Mobil Patriotik
- Kopi Jawa di Takhta Dunia
- 100 Tahun Ismail Marzuki
- Kanvas Protes Yayak Yatmaka
- Menengok PDS HB Jassin, Sebuah Museum Sastra
- Ketika Mahluk Galaksi Hebohkan Jakarta
- Perjalanan Mudah dan Murah Ala Backpacker
- Mengudara ke Zaman Radio
- Tersenyum Bersama Barang Jadul
- Balada Ojek Ibu Kota
- Orang Manggil Saya ‘Ibrahim Belalang’
- Sabtu Sore di Taman Suropati
-
▼
Maret
(22)