Keroncong, Sejarah Panjang Akulturasi Budaya
![]() |
| Foto: www.ads.natamedia.com |
Dalam bentuknya yang paling dikenal hari ini, musik keroncong hadir dari komposisi permainan sejumlah alat musik, yakni ukulele (cak dan cuk), biola, selo, flute, dan sejumlah instrumen modern lainnya. Musik keroncong biasanya bertempo lambat dengan tembang yang mendayu-dayu. Tak heran, remaja dewasa ini menganggap musik tersebut membosankan.
Penghargaan kaum
muda kini terhadap keroncong bisa jadi lebih besar andai mereka tahu sejarah
panjang lahirnya keroncong di bumi Nusantara. Sejumlah sejarawan musik Tanah
Air percaya keroncong lahir dari tradisi kesenian masyarakat Moor-Portugis
bernama fado yang dibawa para pelaut
mereka ke Nusantara pada Abad ke-16.
Kekalahan Portugis
dari Belanda pada 1648 telah menyebabkan Portugis terusir dari Tanah Malaka dan
Maluku yang mereka kuasai. Dalam kondisi tersebut, para budak-budak niaga
mereka, yang merupakan bangsa Moor (etnis keturunan Arab-Afrika di Portugal),
serta etnis India dari daerah Bengali, Malabar dan Goa, menjadi tawanan pihak
Belanda.
Oleh Belanda, para
budak tersebut dibawa dan ditahan di Batavia, sebelum akhirnya dibebaskan pada
1661. Para budak yang tak punya pilihan akhirnya menetap di Batavia, di sekitar
rawa-rawa Cilincing, lebih khusus di Kampung Tugu—tempat yang kemudian melahirkan
varian keroncong tugu.
Mereka hidup dengan
bercocok tanam dan berburu. Sesekali, ketika senggang, mereka memainkan
kesenian fado, atau dalam tradisi
bangsa Moor disebut Moresco, yakni tradisi bertutur dengan iringan musik.
Umumnya, cerita yang dibawakan berbicara tentang kesedihan. Sejak saat itu,
bermula dari Batavia, kesenian tersebut berakuluturasi dengan kebudyaan
Indonesia dan mendapatkan nama baru: keroncong.
Istilah keroncong
konon mengacu pada bunyi “crong” yang dihasilkan ukulele. Ada juga yang
mengangap istilah kerconong berasal dari kata kata Portugis ‘croucho’ (kecil),
kata yang digunakan Bangsa Portugis menyebut ukulele yang merupakan gitar dalam
bentuk kecil. Terlepas dari asal-usul namanya, keroncong terus menyebar ke
seluruh Indonesia, bahan hingga ke Malaysia, dan sangat populer pada awal Abad
ke-19.
Di daerah Solo, Jawa
Tengah, keroncong mendapatkan pengaruh dari kesenian Jawa, sehingga mulai
dimainkan dengan gamelan atau seruling bambu, begitu pun iramanya yang
mendayu-dayu sebagaimana musik Jawa pada umumnya. Akulturasi tersebut
melahirkan genre keroncong yang disebut langgam jawa, yang kemudian menjadi
cikal bakal lahirnya seni musik campur sari. Penyanyi keroncong legendaris yang
membawakan gaya ini, di antaranya adalah Waljinah.
Selain langgam jawa,
keroncong juga banyak memiliki gaya lain dan berpadu dengan berbagai alat musik
lain. Kelompok musik Koes Plus, misalnya menciptakan komposisi berjudul
Keroncong Pertemuan, yakni memadukan antar keroncong dan rock. Ada juga istilah
congdut, mengacu pada perpaduan antara keroncong dan musik dangdut yang
belakangan lebih digandrungi masyarakat.
Keroncong semakin
pudar sejak masuknya musik rock pada dekade 1950-an, serta genre-genre musik
baru dari luar yang masuk ke Indonesia setelah periode tersebut. Hari ini,
keroncong masih di mainkan oleh sejumlah kelompok musik, termasuk anak-anak
muda yang kembali tertarik terhadap kesenian tersebut.
Cara Keroncong
Menyapa Kaum Muda
![]() |
| Foto: www.spanel.server1. natamedia.com |
Bagi gernerasi muda
hari ini, musik keroncong boleh jadi dianggap sebagai kesenian dari masa lalu,
yang tersisa hanya untuk dinikmati kakek-nenek mereka. Jarang terdengar para remaja
berbondong-bondong mendatangi pertunjukan keroncong. Atau bisa jadi karena
keroncong sudah tak banyak lagi tampil di depan publik, utamanya di lingkaran
pergaulan anak muda.
Cerita miring
tersebut agaknya ingin dikikis sejumah akademisi Institut Kesenian Jakarta
(IKJ). Kamis malam, 19 Juni 2014, mereka menginisiasi sebuah pertunjukan
bertema “KRL, Keroncong, Rhytm and Light”, yang mengambil tempat di Bentara
Budaya Jakarta (BBJ), Jakarta Barat. Tak hanya menyuguhkan musik keroncong, KRL
menawarkan konsep pertunjukan eksperimental yang unik dan berhasil mengundang
decak kagum para hadirin.
Digelar di pelataran
terbuka, pertunjukan diawali dengan sebuah kejutan kecil. Begitu pengarah acara
memanggil para musisi, mereka yang ditunggu-tunggu hadirin tak datang dari
belakang panggung, melainkan dari kerumunan penonton. Tiga puluhan pemusik yang
didominasi wajah-wajah muda tampil ke panggung, membuat formasi orkestra yang
sudah ditata sebelumnya.
Di bawah pimpinan
Liliek Jasqee, komponis yang juga pengajar di Jurusan Seni Musik IKJ, KRL
menyuguhkan sejumlah komposisi gubahan mereka sendiri. Setiap nomor dikarang
dengan eskplorasi musik yang unik. Ada yang bergaya jazz, dengan sentuhan
permainan flute yang lembut, seperti pada lagu “Rindu”. Ada yang bertempo
dinamis didominasi permainan ukulele dan petikan kontrabas, seperti pada
tembang “Langgam Tsunami”. Ada pula suguhan harmonisasi keroncong dan orkestra
klasik dalam nomor berjudul “Keroncong Concerto”.
Sebagai bagian dari
keunikan konsep pertunjukan, setiap lagu dibawakan oleh penyanyi berbeda, yang
hadir bergantian dari balik panggung. Mereka terdiri dari penyanyi muda,
sejumlah nama yang sudah tersohor di dunia keroncong, seperti Tuti Maryati dan
Endah Laras, serta ada juga penampilan khusus musisi Singapura, Rudy Djoe.
Dalam beberapa jeda,
disuguhkan pemutara video dokumenter pendek bertema keroncong, perkembangan
keroncong hari ini, serta petikan-petikan pendapat para pelaku seni keroncong.
Selain itu, ada juga sejumlah kejutan-kejutan kecil yang dihadirkan ke dalam
pertunjukan. Dalam tembang berjudul
“Lumpia Semarang”, misalnya, tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam barisan
penonton. Sambil melenggak-lenggok, mereka menjajakan lupia di atas nampan yang
mereka bawa.
Dalam penampilan
tembang “Lumpia Semarang” tersebut, juga hadir secara tiba-tiba dua anak muda
berpenampilan hiphop memasukan musik rap dalam tembang mendayu tersebut. Sontak
aksi bagi-bagi lumpia dan kejutan musik rap tersebut mengundang tepuk tangan
dari para hadirin. Sang komponis Liliek Jasqee pun sempat beberapa kali
berganti kostum, termasuk mengenakan pakaian adat Jawa dalam tembang berjudul
“Gethuk Magelang”.
Liliek menutup
suguhan musik yang menghibur tersebut setelah lagu kesepuluh. Namun dari bangku
pentonton, beberap orang memaksa mereka tampil kembali. Liliek dan orkestranya
menyanggupi, penonton pun bersorak senang. Namun rupanya hal tersebut juga
bagian dari sekenario pertunjukan. Dalam persembahan lagu Jali-Jali yang
dimainkan, sejumlah hadirin berdiri dari duduknya, lalu menjadi paduan suara mengisi
penampilan tersebut. Itulah kreativitas yang sengaja disiapkan, dan terbukti
berhasil menjadi klimaks dalam pertunjukan.
Suguhan Keroncong,
Rhytm and Light tersebut sejatinya merupakan kolaborasi tiga mahasiswa
pascasarjana IKJ, yakni Liliek Jasqee di bidang musik, Rika Hindra di bidang
film, serta Koes Adiati yang berlatar belakang Ekonomi Manajemen. Dengan
kemampuan masing-masing, mereka bekerjasama atas dukungan IKJ dan BBJ untuk
menciptakan pertunjukan KRL tersebut. Di akhir pertunjukan, ketiganya tampil
memberikan salam penutup. Berdiri berjejer Koes Adiati, Rika Hindra, serta
Liliek Jasqee. Dari huruf depan nama merekalah rupanya pertunjukan digagas.
Pertunjukan
berdurasi sekitar dua jam tersebut dihadiri seratusan pengunjung. Selain orang
tua, sebagian penonton adalah remaja. Salah seorang dari mereka, Arum (20),
mengaku datang ke tempat pertunjukan tersebut karena diundang salah seorang
temannya yang juga turut tampil dalam orkestra. Arum mengaku terkesan dengan
pertunjukan keroncong pertamanya itu. “Saya
excited, ternyata keroncong yang
jadul bisa juga dibuat modern, jadi menarik,” ujar dia.
Selain Arum, ada
juga Shafira, siswi kelas 2 SMP, yang juga adalah putri Liliek Jasqee, komponis
dalam pertunjukan tersebut. Shafira bercerita, mula-mula mengenal keroncong
dari sang ayah, seperti remaja lain dia merasa ngantuk mendengarkan musik
tersebut. Tapi kesan tersebut kemudian berubah begitu dia mulai dijarkan cara
bermain musik dan menyanyikan keroncong.
Cat.:tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Gandrung, Seni Tari Berbalut Mitologi
![]() |
| Foto: musicamoviles.com |
Membicarakan gandrung tidak bisa hanya sebatas menyangkut kesenian tari. Latar belakang sejarahnya begitu pajang dan banyak bersinggungan dengan wacana politik, keyakinan, juga mitologi. Teori paling umum meriwayatkan gandrung lahir dari lingkungan masyarakat Suku Osing, warga Kerjaan Hindu Blambangan yang disebut-sebut sebagai penduduk awal Banyuwangi, Jawa Timur.
Tahun 1767, Blambangan yang berada dalam penguasaan kerajaan Mengwi, Bali, mendapatkan serangan besar-besaran dari balapasukan Belanda yang dibantu Mataram dan Madura. Upaya penaklukan itu telah mengobarkan perlawanan hebat dari rakyat Blambangan yang dikenal dengan perang Puputan Bayu pada 1771. Peperangan yang berakhir dengan kemenangan tenara Belanda pada 1772 tersebut, konon berlangsung sangat tragis. Sekitar enam puluh ribu jiwa rakyat Blambangan dikabarkan tewas, tertawan, hilang, hingga melarikan diri ke hutan-hutan.
Diriwayatkan, hanya sekitar lima ribu orang rakyat Blambangan tersisa, didominasi oleh anak-anak, janda, serta para orang tua. Mereka tersebar di desa-desa dan tempat persembunyian di hutan-hutan. Keadaan mereka sangat mengenaskan. Tak lama berselang, sejumlah pria Suku Osing memulai tradisi menari berkeliling ke desa-desa luar dengan berdandan sebagai perempuan.
Hal tersebut mereka lakukan untuk menyambung hidup, serta menyebarkan intrik-intrik terhadap penjajah Belanda. Warga desa yang mampu biasa memberi imbalan berupa beras atau hasil bumi kepada para penari gandrung. Oleh gandrung dan anggota kelompok penabuh musik, hasil tersebut lalu dibagi dengan para pengungsi yang hidup dengan derita berkepanjangan di hutan-huntan.
Meski perang telah usai, tradisi gandrung terus berkembang dengan mengalami sejumlah pergeseran konsep. Gandrung yang semula dimainkan laki-laki (gandrung lanang), kemudian punah dan digantikan para penari perempuan (gandrung wadhon). Catatan sejarah menyebutkan, tahun 1890 gandrung laki-laki lenyap dari Banyuwangi. Hal tersebut tidak terlepas dari desakan para pengajur Islam yang tidak menghendaki laki-laki berdandan seperti perempuan.
Selain merupakan nama kesenian yang dimainkan, istilah ‘gandrung’ juga merujuk pada diri sang penari. Penari gandrung perempuan pertama dikenal dengan sebutan gandrung Semi, yang pada 1895 masih berusia 10 tahun. Namun demikian, gandrung disebut baru benar-benar hilang pada 1914 setlah wafatnya Marsan, yang merupakan gandrung lanang terakhir.
Setelah dibawakan perempuan, gandrung berkembang sebagai seni hiburan dalam berbagai hajatan di desa. Gandrung biasanya dimulai sekitar pukul 21.00 dan berakhir menjelang subuh. Pertunjukan gandrung terbagi ke dalam tiga babak, yakni jejer, ngibing, dan seblang subuh. Jejer merupakan pembuka, di mana gandrung menembang secara solo. Dalam babak selanjutnya, ngibing, para tamu bergantian menari bersama sang gandrung.
Gandrung akan memilih pasangan menarinya, dengan mula-mula menarik orang yang paling dianggap penting dengan selendangnya. Pada kesempatan tersebut, tak jarang terjadi keributan karena para lelaki berebutan menari, serta tak jarang sebagian di antaranya dalam kondisi mabuk. Ketika itu gandrung akan mendapatkan saweran dari rekan dia menari.
Selanjutnya, babak seblang subuh adalah penutup. Temabang-tembang bertema sedih dilantunkan. Suasana mistis terasa pada bagian tersebut, di mana fase tersebut masih terkait dengan ritual seblang, yakni prosesi penyembuhan atau penyucian jiwa.
Koreografer sekaligus peneliti tari gandrung, Elly D Luthan menjelaskan, pada saat seblang subuh, biasanya para perempuan dan anak-anak akan datang. “Pada saat itu, gandrung akan meminta maaf kepada para perempuan, jika saja mereka terganggu karena suami-suami menari bersama dia,” ujar Elly, dijumpai seusai pertunjukan “Gama Gandrung”, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu, 11 Juni 2014.
Elly bersyukur, hari ini gandrung masih lestari di Banyuwangi, meskipun suasana mistis tidak terasa lagi. Selain tarian gandrung tradisional, menurut Elly gandrung juga banyak menginspirasi penciptaan tari kreasi kontemporer yang banyak dimotori anak-anak muda.
Tiga penari cantik itu memainkan tubuh dan
selendangnya dengan begitu gemulai. Berbalut pakaian tradisional dan mahkota
emas berpendaran, ketiganya menjadi primadona di antara para penari pengiring
yang melingkung di sekitar mereka. Namun meskipun berdandan dan bergaya
feminin, tiga primadona panggung itu terang adalah kaum pria. Mereka adalah
para gandrung lanang.
Pria-pria cantik itu membawakan tarian kreasi berlakon “Gama Gandrung”,
interpretasi atas sejarah tari gandrung dari Banyuwangi, Jawa Timur. Dikarang
koreografer muda Bathara Saverigadi Dewandoro, “Gama Gandrung” dipentaskan Rabu
malam, 11 Juni 2014. Pertunjukan bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta
Pusat.
Dalam bahasa Sanksekerta, kata ‘gama’ berarti ‘perjalanan’. “Gama
Gandrung” sendiri meriwayatkan rentang sejarah dan perkembangan tari gandrung,
kesenian yang hari ini menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. Cerita dimulai dengan
babak kelahiran gandrung, ketika sejumlah lelaki menari berkeliling desa demi
menyambung hidup. Tak hanya ‘mengamen’, para penari itu sekaligus menyebar
intrik politik terhadap pasukan Belanda yang telah memporak-porandakan
desa-desa mereka.
Pada perkembangannya, konflik dalam budaya
gandrung tak terhindarkan ketika sejumlah kalangan mengharamkan laki-laki
berdandan seperti perempuan. Maka babak baru gandrung lahir, di mana para
perempuan sesungguhnya yang membawakan tarian penghibur yang penuh energi
mistis itu. Namun para gandrung wadhon (penari gandrung perempuan)
tersebut juga tak luput mendapat cibiran. Sebagian orang menganggap mereka
perempuan sundal yang membuat kaum pria keblinger, tergila-gila.
“Gama Gandrung” dibawakan belasan penari,
laki-laki dan perempuan. Sebagian besar gerak adalah rekaan sang kreator,
dengan mengambil sejumlah bagian dari komposisi tari gandrung. Misalnya adalah egol
atau goyang pinggul, permainan kipas, serta permainan mengibas dan mebeberkan
sempur (selendang). Para penari keluar-masuk panggung membawakan berbagai
peran, termasuk sosok para prajurit kompeni, yang berhubungan dengan latar
sejarah lahirnya tari gandrung.
Bathara, sang koregrafer, memainkan peran
Marsan, sosok gandrung lanang (penari gandrung laki-laki) terakhir.
Sementara peran Semi, gandrung wadhon pertama, dimainkan khusus
oleh Cahwati, penari muda yang lebih dahulu bersinar di panggung kesenian tari
tradisional. Pergantian dua zaman gandrung, dari lanang ke wadhon,
divisualisasikan secara cantik dengan berpindahnya omprok, mahkota
gandrung, dari kepala Marsan ke kepala Semi. Lantunan tembang Banyuwangi
mengalun khidmat sekaligus penuh kegetiran, membuat perasaan sedih sekaligus
mencekam.
Tak hanya melalui gerak, cerita juga
dihantarkan lewat narasi dan tembang. Narasi terkadang dibawakan seseorang di
luar penggung, kadang juga oleh penari, utamanya tokoh Marsan. Tembang syahdu
dilantunkan, baik lagu rakyat Banyuwangi maupun lagu gubahan baru berbahasa
Indonesia. Penata musik, dalang Sri Waluyo, menghadirkan tak hanya aransemen
tradisional yang khas gandrung, tetapi juga memberi sentuhan musik kontemporer
melalui gitar listrik.
Panggung dan pencahayaan dirancang teatrikal.
Di sudut kanan, replika omprok besar berdiri dengan jaring-jaring
selendang terpancang ke segala penjuru. Ditembak lampu warna-warni, instalasi
tersebut menambah pesona pertunjukan.
Tentang Koreorafer
Bathara Saverigadi Dewandoro, sang koreografer
adalah remaja berusia 17 tahun. Pada usianya yang masih belia, Bathara
telah menjadi seniman tari muda yang bersinar. Sejumlah penghargaan dia terima
dari berbagai ajang perlombaan, baik di dalam dan luar negeri. Tak heran,
beberapa stasiun televisi Ibu Kota pernah secara khusus mengangkat
profilnya.
Bathara mewarisi darah tari dari kedua orang
tuanya. Ayahnya, Suryandoro, adalah seniman wayang orang dan penari senior
alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sementara sang ibu, Dewi
Sulastri, juga penari kenamaan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta. Keluarga tersebut kini mengelola lembaga seni tradisional Swargaloka
di Jakarta.
Menurut Bathara, proses penciptaan "Gama
Gandrung" berlangsung lebih kurang empat bulan. Dua bulan merupakan proses
pengumpulan bahan, yakni berbagai pengetahuan tentang gandrung Banyuwangi, dan
dua bulan merupakan proses penciptaan komposisi gerak.
Dijumpai seusai pertunjukan, pemuda kelas 2
SMA Angkasa 2, Jakarta Timur, degan fasih menceritakan sejarah dan motivasinya
mengangkat tema gandrung dalam pementasannya. "Saya suka tari gandrung,
dan saya berharap anak-anak muda hari ini paham sejarah tarian tersebut,"
ujar dia.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Ragam Seni Lakon Petani
![]() |
| Foto: beritadaerah.co.id |
Petani dan alam pedesaan adalah jati diri dan wajah Indonesia. Dari gerak laku petani di alam desa, lahirlah nilai-nilai dan ekspresi budaya yang kita warisi hari ini. Sayang, pergeseran tatanan sosial membuat bangsa ini gagap dan semakin kehilangan identitas. Di hadapkan pada kondisi tersebut, sebagian kecil orang kini tengah bekerja keras merawat, bahkan menggali kembali kultur petani yang telah, atau nyaris hilang dari tengah masyarakat.
Mengangkat tema “Daulat Para Jagoan”, lembaga
Bentara Budaya Jakarta (BBJ) menampilkan empat ragam seni tentang petani awal
Juni 2014. Keempat bentuk kesenian tersebut, yakni drama tari, lukisan, lukisan
kaca, dan wayang hama, mengeksplorasi nilai dan budaya petani, dipersembahkan
oleh pekarya yang merupakan maestro di bidang masing-masing.
Bukan sekedar mempertontonkan seni, hajatan
tersebut secara khusus mengangkat kisah perjuangan petani dalam memperjuangkan
kemandirian atas pupuk, obat, dan benih. Beberapa orang petani yang bergiat
dalam Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) asal Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat, didaulat untuk berbagi kisah. Melengkapi cerita para
petani tersebut, dipamerkan juga sejumlah instalasi berbagai perlengkapan
aktivitas mereka sehari-hari.
Bertempat di kompleks BBJ, kawasan Palmerah,
Jakarta Pusat, kegiatan yang berlangsung sepekan lebih itu dibuka dengan
suasana meriah dan artistik. Drama tari dengan lakon “Lesungku” dipentaskan
oleh Sanggar Tari Mulya Bhakti asal Indramayu, asuhan koreografer dan dalang
perempuan Wangi Indriya.
Drama tari tersebut digali Indriya dari tari
tradisi Grombyangan yang kini sudah hampir hilang, bahkan di daerah asalnya
Indramayu. Berkisah tentang suasana desa ketika gerhana bulan, “Lesungku”
dimainkan 20-an penari, perempuan dan laki-laki. Kaum pria tampil mengenakan
baju pangsi hitam-hitam dan berikat kepala, sementara para wanita
berbusana kebaya dengan kain melilit pinggang.
Diiringi ketukan lesung dan tetabuhan
alat-alat musik bambu dan tembang berbahasa Jawa Indramayu, empat orang remaja
putri bercaping melenggak-lenggok di atas panggung. Dalam beberapa bagian,
tetabuhan lesap digantikan alunan seruliing, menyeruakan suasana purba yang
terasa mistis.
Dikisahkan, malam tiba-tiba gelap. Bunyi
kentongan bertalu-talu, diikuti masuknya sejumlah pria ke atas panggung. “Telah
terjadi gerhana, bulan di makan Betara Kala”. Begitu pergunjingan yang terjadi
di antara mereka. Salah seorang dari mereka lalu tersadar bahwa istrinya tengah
mengandung. Tergesa dia pulang menuju rumahnya.
Setiba di rumah, sang istri langsung dia suruh
masuk ke bawah ranjang, sementara si lelaki menaburkan abu di atas tempat
tidur. Begitulah sang koregrafer mengangkat sepenggal kepercayaan lokal ke atas
panggung. Didukung oleh tata panggung yang artistik, dikelilingi oleh tanaman
padi menguning serta orang-orangan sawah, penonton diajak merasakan suasana
kehidupan leluhur pada zaman lampau.
Sementara itu, kesenian lain disuguhkan untuk
publik di ruang pameran. Ada koleksi lukisan-lukisan kaca karya maestro seni
lukis kaca asal Cirebon, Rastika. Sejalan dengan tema besar acara, sejumlah
karya mengangkat tema petani yang diramu dengan kisah dan visualisasi dunia
pewayangan.
Karya berjudul “Bima Meluku” (cat minyak pada
kaca) menggambarkan kesatria Bima tengah membajak sawah bersama dua ekor kerbau
berwarna merah muda, dengan latar belakang gunung biru dan mentari yang
mengintip dari balik awan. Termasuk karya “Bima Meluku”, lukisan-lukisan Rastika
yang ditampilkan sangat memikat, dengan warna dan komposisi gradasi yang
memanjakan mata.
Dua jenis karya lainnya, puluhan lukisan karya
perupa Yogyakarta Herjaka HS, serta ‘wayang hama’ karya perupa Magelang Sujono,
juga tidak kalah menariknya. Karya-karya Herjaka mengangkat tokoh Dewi Sri,
sang dewi pelindung tanaman dalam bentuk karakter wayang. Sementara itu,
‘wayang hama’ karya Sudjono merupakan eksperimen atas rupa-rupa hama, semisal
kinjeng, kepik, gasir, yang diangkat dalam bentuk wayang.
Kisah Para Petani Jagoan dari Indramayu
![]() |
| Foto: fao.org |
Awal Juni 2014, Bentara Budaya Jakarta (BBJ)
punya hajatan unik bertema “Daulat Para Jagoan”. Sejumlah seni yang hendak
ditampilkan, termasuk drama tari dan lukisan kaca, disebut-sebut hanya dipasang
sebagai pendamping. Banyak hadirin, termasuk wartawan, datang membawa rasa
penasaran. Barulah semua terang begitu Direktur BBJ Hariadi Saptono memberikan
sambutan.
Rupanya kegiatan tersebut mengetengahkan isu
soal kultur dan perjuangan petani. Sebuah komunitas petani padi asal Indramayu,
Jawa Barat, yakni Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI)
diboyong ke Jakarta untuk berbagi cerita. Menurut Hariadi, pihaknya terkesan
dengan keberhasilan kelompok petani tersebut dalam mengelola pertanian secara
mandiri. Termasuk menciptaan pestisida alami, pupuk alami, serta penemuan
berbagai varietas benih baru.
Hadir mewakili teman-teman mereka di desa,
enam orang petani diminta tampil ke atas penggung. Pentolan mereka adalah
Warsyiah, lelaki 57 tahun, asal Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten
Indramayu. Pria yang hanya tamat sekolah dasar tersebut menjadi salah satu
motor dalam menggalang gerakan pertanian mandiri di lingkungan Kabupaten
Indramayu dan sekitarnya.
Bermodal pengetahuan sekedarnya yang didapat
dari program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Tanaman (SLPHT) yang
diselenggarakan Bappenas pada tahun 1990-an, Warsiyah memulai eksperimennya. Ia
dan sejumlah kawannya alumni program tersebut dengan tekun melakukan berbagai
penelitian soal tanam-menanam padi.
Sekitar periode 1998, keberhasilan mereka
meramu iinsektisida dan pupuk organik menguatkan kepercayaan diri mereka untuk
melakukan lebih banyak percobaan. Saat itu, Warsiyah dan kawan-kawan sukses
mengoplos kecubung, kencing sapi dan kencing kambing untuk insektisida, serta
limbah buah-sayur dan kotoran sapi untuk pupuk organik. Sejak saat itu, berbagai
bahan lain semakin banyak ditemukan untuk menciptakan bermacam pestisida juga
pupuk yang ampuh. Hal itu membuat mereka berhasil meninggalkan sama sekali
pestisi dan pupuk kimia.
Tahun 2002 Warsiyah dan 40-an anggota IPPHTI
Indramayu mendapat kesempatan mengikuti Sekolah Pemuliaan Tanaman
Parsitipatoris (SPTP). Program tersebut difasilitasi LSM internasional,
Farmer’s Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (Field). Dari
sana, Warsiyah dan rekan-rekan mendapat pengetahuan soal silang-menyilang padi
untuk menemukan varietas baru. Sejak saat itu mereka berhasil memproduksi
varietas padi baru, bahkan menemuakan kembali jenis-jenis padi lokal yang
banyak dilupakan.
Dengan tulus, para petani tersebut menyebarkan
ilmu bertani kepada sesama petani, tanpa pernah menuruti nafsu serakan untuk
menguangkan hasil-hasil penemuan mereka. Dalam perjalanannya, perjuangan
menegakan kemandirian kultur bertani yang digalakkan Warsiyah dan rekan-rekan
tidaklah mudah.
Para bandar pestida, pupuk, dan benih menjadi
penentang yang hebat bagi gerakan mereka. Alih-alih membela, pemerintah
setempat tak jarang malah menjadi agen-agen perusahaan sarana produksi
pertanian yang turut menekan mereka. Namun Warsiyah dan rekan-rekannya tetap
teguh di jalan mereka untuk mewujudkan upaya kemandirian bertani lewat cara
yang alami dan sederhana.
Keberhasilan komunitas petani tersebut dalam
membangun kultur pertanian mandiri mendapat apresiasi dari Organisasi Pangan
Dunia (FAO) PBB. FAO menganggap IPPHTI sebagai slah satu kelompok petani yang
berhasil mengembangkan paradigma petani baru yang siap mengantisipasi perubahan
iklim dan pemanasan global.
Karena kesungguhannya, Warsyiah yang dianggap
paling cakap di antara kelompok lainnya, mulai November 2013 terpilih menjadi
salah satu penyuluh pertanian FAO. Warsiyah kini mengemban misi mendidik para
petani di berbagai daerah untuk beralih pada model pertanian yang aman dan
ramah lingkungan. Kelompok-kelompok binaan Warsiyah yang berjumlah 25-27 orang
sudah tersebar di berbagai desa di Indramayu, bahkan hingga ke luar kota.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Hip Hop, Kembang Api yang tak Pernah Padam
![]() |
| Foto: totoutart.org |
Akar sejarah hip hop bisa ditarik mulai periode 1940-1950, ketika sejumlah musisi kulit hitam Amerika Serikat (AS) mereka-reka efek suara sound system dan bernyanyi memainkan kata-kata dengan tempo cepat. Sejak saat itu, hip hop terus berkembang dari sekedar ekspresi musik menjadi sebuah budaya.
Belum ada argumen
yang kuat menjelaskan asal-usul istilah “hip hop”. Konon, hip hop mula-mula dikenal sebagai
improvisasi yang dilontarkan ketika musisi kulit hitam bernyanyi. Secara
etimologis, ada yang menyebut istilah ‘hip’
mengacu pada kosakata slang Bahasa Inggris Afrika-Amerika yang berarti sadar
atau mengetahui, sementara ‘hop’
adalah kata Bahasa Inggris yang bermakna lompatan. Atau kurang lebih bisa
dimaknai melompat dan bergerak secara sadar.
Dekade 1970 istilah
“hip hop” muncul di Bronx Selatan, pinggiran New York, sebagai gerakan budaya
yang diperkenalkan Clive “Kool Herc” Campbell. Kool Herc merupakan imigran asal
Jamaika yang kelak dikenal sebagai bapak hip hop. Herc dan rekan-rekan di
komunitasnya mengembangkan minat terhadap aktivitas emceeing (bernyanyi rap), breakbeats
(musik elektronik), serta kerap menjadikan musik tersebut sebagai hiburan dalam
pesta-pesta rumahan (house party).
Pada periode yang
sama, terinspirasi oleh Kool Herc, tokoh hip hop lainnya, Afrika Bambaataa,
mendirikan komunitas bernama Universal Zulu Nation. Kelompok tersebut
menjadikan hip hop sebagai media mengurangi budaya kekerasan dan kehidupan gang
di kalangan remaja pinggiran, khususnya kaum miskin kulit hitam.
Lahir dan berkembang
dari kalangan para imigran pinggiran, generasi awal musisi hip hop banyak
memasukan isu-isu sosial-politik dalam lagu-lagu mereka. Pada 1980-1990-an,
kelompok Young Black American menjadikan hip hop sebagai media kampanye dalam
gerakan HAM. Dari sana hip hop banyak ditentang kaum konservatif karena
dianggap menyulut kekerasan dan pelanggaran hukum.
Sejak kemunculannya
pada dekade 1970, budaya hip hop terus berkembang. Dalam perjalannya, berbagai subkultur
lahir dari budaya hip hop, di antaranya musik rap DJ, breakdance, grafiti,
beatbox, serta kostum kedodoran yang khas
. Sifatnya yang ringan sekaligus progresif membuat budaya hip hop dengan
mudah diterima oleh kaum muda di seluruh dunia.
Musik hip hop
disebut berakar pada musik funk, disco, rhytmn and blues atau RnB, serta
mendapat pengaruh dari sejumlah aliran musik lainnya, termasuk musik-musik
daerah Afrika yang dibawa para imigran kulit hitam. Bersamaan dengan tumbuh dan
berkembangnya musik hip hop, tari hip hop juga hari ini begitu digemari kaum
muda di dunia. Tari hip hop adalah ekspresi gerak dinamis, yang dikembangkan
dari dari gerakan street dancing,
tarian Afrika-Brazil, seni bela diri Asia, dan tarian rakyat Russia.
Hip hop hari ini
menjadi salah satu budaya besar di dunia. Di satu sisi, hip hop kini semakin
mapan sebagai komoditas industri hiburan. Di sisi yang lain, tradisi kritis hip
hop masih dilajuntkan oleh sebagian kelompok kaum muda, termasuk berperan dalam
memberikan sokongan kultural pada gerakan Musim Semi Arab atau Arab Springs beberapa
tahun lalu. Sebagai budaya, hip hop ibarat kembang api yang tak pernah padam. Terus memercikan warna-warni bunga api yang semarak dan meninggalkan kesan.
Menikmati Hip Hop
Rasa Perancis
![]() |
| Foto: frequence-sud.fr |
Budaya hip hop memang lahir dan besar di
Amerika Serikat (AS). Namun universalitas nilai yang terkandung di dalamnya
membuat kultur tersebut dengan mudah diterima dan digandrungi masyarakat di
hampir seluruh belahan dunia. Hip hop kini berkembang semakin kaya di berbagai
negara, tak terkecuali di Perancis, negeri yang selama ini dikenal dengan
tradisi seninya yang adiluhung.
Selasa, awal Juni 2014, lewat penampilan
kelompok penari Pockemon Crew, publik Jakarta berkesempatan menikmati hip hop yang
dibawakan para penari asal Perancis. Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta
(GKJ), grup pernari hip hop asal Kota Lyon tersebut diboyong Insitiut Perancis
Indonesia (IFI) untuk menampilkan tarian kreasi baru mereka yang diberi judul
“Silence on Tourne!”.
Dibawakan oleh sembian pemuda, “Silance on
Tourne!” mengangkat dua latar cerita, yakni sejarah hip hop dan sejarah sinema.
Dua tema tersebut dijalin menjadi sebuah alur yang membentuk cerita. Tema
sejarah hip hop menyuguhkan kehidupan dan suasana pinggiran New York tahun
1940-1950-an, periode yang menjadi tonggak kelahiran kultur hip hop dari
kalangan para imigran Afrika dan kaum Hispanik. Dalam tema sejarah sinema,
penonton diajak merasakan atmosfir kota asal para penari, Lyon, tahun 1940-an,
babak yang dianggap menandai lahirnya dunia sinematografi modern.
Berbagai koreografi memukau mereka peragakan
membawakan cerita, lengkap dengan konflik dan sisipan adegan komedi yang
membuat hadirin tertawa. Atraksi-atraksi dari sejumlah genre tarian hip hop
mereka pertontonkan, mulai dari b-boying, yakni gerakan meliuk-liukan
badan dengan posisi tangan dan kepala di lantai, locking, yaitu tarian
berdiri dengan kaki bergerak maju-mundur dengan iringan musik funk, hingga popping,
alias gerakan kaku bergaya robot.
Semua gerakan tersebut mereka bawakan, dari
mulai dengan teknik sederhana hingga gerakan-gerakan baru yang jarang dilihat
dalam pertunjukan tari hip hop pada umumnya. Tak jarang atraksi memukau
dihadirkan secara mengejutkan. Sebagai contoh, dalam suasana hening, tiba-tiba
seorang penari salto berjumpalitan dari belakang layar, lalu ditangkap dengan
akurasi yang sempurna oleh rekannya yang berada di panggung.
Dengan kostum khas periode 1940-150-an,
seperti kemeja dengan bretel atau topi pet, para penari membawakan peran
masing-masing. Salah satu babak misalnya menghadirkan drama perseteruan para
pekerja hotel dengan tuan-tuan kaya tamu mereka. Cerita itu bisa ditafsirkan
berlatar sejarah hip hop di Amerika yang memang lahir dari kelompok sosial
pinggiran.
Sementara babak lain menghadirkan gerak
artistik salah seorang pemain dalam suasana gedung pertunjukan sinema jaman
dulu, lengkap dengan proyektor yang menembak pada layar serta tata suara jadul
yang khas. Dia menari memperminkan siluet tubuhnya di layar. Penonton pun
bersorak menikmati pertunjukan solo sang penari.
Musik pengiring direka begitu kaya. Tak hanya
rap atau musik elektronik, ada juga iringan jazz big band, funk, juga piano
tunggal. Panggung pertunjukan ditata mewakili tema, dengan properti yang tak
hanya menjadi hiasan, tetapi juga mendukung koregrafi, seperti tangga atau rel
kamera. Tata cahaya pun dimanfaatkan betul untuk memberikan efek kejut.
Sewaktu-waktu lampu bisa menyorot tempat yang tidak terduga menandai kehadiran
penari.
Sebagai pertunjukan atraktif yang penuh dengan
risiko kesalahan, nyaris tak terlihat sama sekali cela dalam suguhan seni
tersebut. Semarak tepuk tangan dan elu-elu hadirin menggema di akhir
pertunjukan. Alih-alih meninggalkan ruangan, ada-ada saja, sejumlah remaja
meneriakan permintaan agar para penari tampil kembali. “We want more,
we want more...,” teriak mereka.
Cat.: tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Cara Fotografi Menggugat Peradaban Kota
![]() |
| Foto: Komunitas Salihara |
Pemuda 30 tahunan itu menyandarkan tubuhnya yang kurus pada tiang-tiang besi di suatu sudut kota. Bercelana jins, mengenakan kaos lusuh, air wajahnya menyiratkan kelelahan panjang dan kepasrahan menghadapi hari depan. Rambutnya yang panjang dan kusut, serta larik-larik tato di tangan kiri-kanannya ibarat sebuah pengakuan atas perjuangan kerasnya mempertahankan hidup di jalanan kota.
![]() |
Bertrand Meunier
Foto: Komunitas Salihara
|
Adegan di atas terrekam dalam salah satu foto
jepretan fotografer Perancis Bertrand Meunier, yang dipamerkan di Galeri
Salihara, Jakarta Selatan, 25 Mei-10 Juni, 2014. Mengangkat tema “Hub Side
Down”, pameran tersebut menghadirkan puluhan foto hitam-putih berlatar
kehidupan orang-orang pinggiran di lima kota besar dunia, yakni Hong Kong,
Bangkok, Tokyo, Shanghai, dan Jakarta.
Di ruang pameran yang bergaya melingkar,
foto-foto Meunier dicetak dalam ukuran besar. Gambar-gambar tersebut
dikelompokan dalam beberapa bagian yang mewakili subtema yang serupa. Foto pria
bertato yang diceritakan sebelumnya, sebagai misal, bersandingan dengan dua
gambar sosok lainnya. Satu adalah foto seorang pemuda yang tengah duduk melamun
di emperan toko sambil memainkan bibirnya, yang lainnya adalah gambar seorang
nenek berwajah kepayahan tengah berjalan meninggalkan hiruk-pikuk cafe-cafe
tenda.
Berbagai subtema ditampilkan dengan
mencampurkan berbagai foto yang diambil dari kota-kota berbeda. Si pemuda
bertato sepertinya adalah orang Indonesia, diduga begitu karena pada kaosnya
bertuliskan “Republik Malioboro”. Pemuda di emperan toko juga terlihat berwajah
Indonesia, atau mungkin juga Thailand. Sementara si nenek tampaknya berasal
dari Shanghai atau Hong Kong, terlihat dari dandanannya yang cenderung modis
dan latar belang cafe-cafe di belakangnya yang rapi.
Selain subtema ‘wajah’ dengan tiga sosok di
atas ada sejumlah subtema lain, salah satunya menghimpun foto-foto aktivitas
‘seorang’ warga kota dalam berbagai aktivitas. Ada seorang gelandangan tengah
mengemis mengenakan topeng, ada kuli dengan punggung penuh tato sedang duduk
beristirahat, ada seorang perempuan muda tidur tertunduk di bangku kereta, dan
beberapa gambar lainnya.
Ditemui dalam pembukaan pameran, Meunier, sang
juru foto mengatakan, gambar-gambar tersebut dia abadikan setiap kali dia
mengunjungi kota-kota besar tersebut. Selama sepuluh tahun mendatangi kota-kota
itu,kata dia, semakin resah jiwanya mencari jawaban, apa yang terjadi dengan
kota dan manusia-manusia tersebut.
“Apa sebenarnya yang kita cari? Apa artinya
hidup ini dengan ketimpangan sosial yang begitu mengganggu? Kebahagiaan seperti
apa yang kita mau? iPhone? Mall, atau apa?” ujar Meunier kepada saya dan sejumlah
wartawan lain.
Memerhatikan saksama foto-foto Meunier, jelas
persoalan teknis memotret menjadi topik yang tidak terlalu menarik
diperbincangkan. Berbagai pertanyaan filosofis yang dilayangkan sang juru foto
tanpa basa-basi langsung menghinggapi perasan para pengunjung yang hadir
mengapresiasi karya-karyanya.
“Kota boleh berbeda, tapi maslah sosial
ternyata sama. Lihatlah foto-foto mereka,” ujar Muenir menutup pernyataannya.
![]() |
| Foto: Bertrand Meunier |
![]() |
| Foto: Bertrand Meunier |
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, April 2014.
100 Tahun Ismail Marzuki
![]() |
| Foto: acara-event.com |
Siapa yang tak bergetar hatinya mendengar komposisi musik “Gugur Bunga”. Jalinan nada minor yang mendayu serta syair yang mengharukan sungguh meremas perasaan. Tak jarang orang berurai air mata jika menghayatinya. Dikarang pada 1945, lagu tersebut menceritakan kesedihan yang mendalam atas tewasnya para prajurit kemerdekaan di medan pertempuran.
“Gugur Bunga” kemudian menjadi salah satu lagu wajib nasional. Selain diajarkan kepada para siswa di sekolah, tembang tersebut mustilah berkumandang setiap kali seorang pemimpin besar negara wafat. Salah satu frasa di dalamnya, “gugur satu, tumbuh seribu”, menjadi ungkapan yang populer di tangah masyarakat, yang berarti setiap hal baik yang hilang akan tergantikan oleh lebih banyak kebaikan.
Sang pengarang lagu tersebut adalah Ismail Marzuki, salah seorang komponis terbsesar yang pernah dimiliki Bangsa Indonesia. Lahir di Kampung Kwitang, kawasan Senen, Jakarta, pada 11 Mei 1914, Ismail Marzuki semasa hidupnya telah menciptakan lebih dari 200 tembang dengan berbagai aliran, mulai dari jazz, klasik hingga keroncong.
Selain “Gugur Bunga”, lagu-lagu kebangsaan karya Ismail yang terkenal, di antaranya adalah “Rayuan Pulau Kelapa” serta “Indonesia Pusaka”. Sejumlah tembang cinta romantis karyanya hingga kini juga masih sering banyak digubah dan dibawakan orang, semisal “Aryati”, “Juwita Malam”, dan “Slendang Sutera”.
Terlahir sebagai seorang Bumi Putera di zaman pahit kolonialisme, kepiawaian Ismail memainkan alat musik, dari piano hingga akordeon, serta kejeniusannya mereka komposisi musik, terasa sebagai keajaiban. Pada 11 Mei 2014 tahun ini, jika masih hidup, sang komponis kebanggaan Indonesia itu genap berusia 100 tahun.
Memperingati sebabad seniman besar itu, Taman Ismail Marzuki (TIM), pusat kebudayaan Pemerintah Jakarta yang dibangun mengabadikan nama besarnya, awal Mei 2014 menyelenggarakan sejumlah kegiatan. Berbagai mata acara digelar dalam kegiatan bertema “100 Tahun Ismail Marzuki” tersebut. Mulai dari pameran foto dan benda-benda peninggalan Ismail Marzuki, diskusi budaya, hingga pertunjukan teater dan sejumlah konser musik, diselenggarakan sejak tanggal 7 sampai 17 Mei 2014.
Pameran yang bertempat di gedung Teater Kecil, TIM, menghadirkan puluhan foto Ismail Marzuki. Foto-foto lawas tersebut menampilkan Ismail dalam berbagai latar suasana. Beberapa gambar memerlihatkan dia bersama sejumlah alat musik, seperti piano, akordeon, juga dalam formasi kelompok keseniannya. Ada juga potret-potret Ismail bersama istri dan keluarganya, foto dia tengah tampil di atas panggung, serta foto prosesi pemakamannya pada 1958 yang ramai dipadati pelayat.
Selain foto, dipertontonkan juga pada publik ratusan koleksi partitur musik Ismail. Lembar-lembar guratan komposisi nada tersebut asli karya tangan Ismail Marzuki. Garis-garisnya dibuat oleh tangan, dan ada juga beberapa lembar partitur yang diberi ilustrasi, seperti gambar pemandangan atau potret wajah seorang gadis. Benda antik milik Ismail yang dipajang adalah akordeon, biola, serta jam dinding, yang semuanya buatan luar negeri.
Berjalan-jalan melihat bermacam koleksi tersebut, pengunjung sedikit-banyak bisa merasakan alam sosial dan kebesaran ismail Marzuki. Dari perangkat audio, lamat-lamat mengalun sejumlah lagu syahdu karangan sang maestro, seperti “Selendang Sutera” dan “Bandung Selatan di Waktu Malam”.
Sekilas Mengenal Ismail “Ma’ing” Marzuki
![]() |
| Foto: pahlawancenter.com |
Namanya tersohor, bahkan di kalangan anak-anak SD. Dia adalah Ismail Marzuki, salah satu musikus terhebat Indonesia yang hidup pada masa pergerakan kemerdekaan. Dia dikenal terutama karena lagu-lagu kebangsaan ciptaannya, seperti “Gugur Bunga”, “Rayuan Pulau Kelapa”, serta “Indonesia Pusaka”. Lagu-lagu tersebut hari ini diajarkan di sekolah-sekolah dan sering dijadikan bahan ujian pelajaran bermusik.
Ismail Marzuki yang akarab disapa Ma’ing atau Bang Ma’ing, lahir pada 11 Mei 1914, di Kampung Kwitang, daerah Senen, Jakarta. Meskipun terlahir dari keluarga Betawi, ayah Ma’ing, Marzuki, termasuk kalangan terdidik dan berpenghasilan cukup. Dia bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan reparasi mobil bernama Ford Reparatieer. Kegemaran Marzuki bermain kecapi serta hobinya membeli piringan hitam agaknya menjadi stimulus terhadap minat Ma’ing berkesenian.
Sejak di sekolah dasar hingga Ma'ing beranjak remaja, setiap kali naik tingkat, sang ayah biasa menghadiahkan berbagai alat musik, semisal gitar, mandolin, atau harmonika. Selepas lulus MULO (setara SMP), Ma'ing memiliki biola pertamanya, yang dia beli dari gajinya bekerja sebagai kasir di perusahaan bernama Socony Service Station.
Merasa tak sesuai dengan minatnya, pekerjaan sebagai kasir dia tinggalkan, lantas beralih profesi menjadi penjual piringan hitam di sebuah perusahaan musik. Sejak saat itu jalan dia menjadi musisi profesional semakin terbuka lebar. Ma’ing bekernalan dengan berbagai kalangan pemusik, serta semakin banyak mendapat referensi musik luar negeri dari piringan hitam yang dia beli.
Tahun 1936, Ma'ing memiliki grup musik sendiri bernama Lief Java. Dalam grup tersebut, dia bermain saksofon, gitar, dan akordeon. Lief Java semakin dikenal setelah stasiun radio yang didirikan Belanda pada 1934, Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM), sering memberi mereka kesempatan mengisi siaran musik.
Ma'ing dan grupnya mula-mula memainkan lagu-lagu Barat, sebelum akhirnya menciptakan lagu-lagu sendiri, seperti "Ali Baba Rumba" dan "Ohle le di Kotaraja". Sejumlah lagu diciptakan dengan berbagai genre berbeda, dari mulai jazz, hawaiian, hingga keroncong.
Pendudukan Jepang atas Indonesia, yang kemudian mengambil alih NIROM, menjadi titik mula Ma'ing produktif menciptakan lagu-lagu bertema perjuangan. Di seputar periode 1945, lahir lagu-lagu yang kelak melambungkan namanya, seperti "Rayuan Pulau Kelapa", "Indonesia Pusaka" dan "Halo-halo Bandung". Di masa itu pula, terlahir lagu "Gugur Bunga", yang terilhami oleh kesedihan ditinggal wafat sang ayah.
Semangat patriotisme tak kemudian menghentikan Ma'ing menulis lagu bertema cinta. Bedanya, tembang-tembang romantis itu dihadirkan dalam lantar heroisme perjuangan, seperti lagu "Sepasang Mata Bola", "Melati di Tapal batas", dan “Saputangan dari Bandung Selatan".
Ma'ing alias Ismail Marzuki menutup usia pada 25 Mei, 1958, pada usia 44 tahun. Dia meninggal akibat sakit paru-paru yang dideritanya sedari muda. Sejak 1968, Ismail Marzuki diabadikan menjadi nama pusat kesenian milik pemerintah DKI Jakarta. Pada 2004, musisi jenius dari Tanah Betawi itu dihadiahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. (Diolah dari berbagai sumber).
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014.
Ketika Mahluk Galaksi Hebohkan Jakarta
![]() |
| Foto: Adriandhy/deviantart.com |
Jakarta, akhir pekan di awal Mei 2014, geger diserbu para mahluk galaksi. Dua kubu, baik dan jahat, terlibat peperangan. Aidan, bocah Bumi berumur enam tahun, turut mengangkat senjatanya. Tak terlihat takut, bocah kelas enam SD itu menembaki sejumlah prajurit jahat yang dia temui. Atas kebaikannya membantu pasukan baik, Aidan mendapat stiker tanda jasa. Dia tampak senang dan berlari menuju ibunya.
Begitu sedikit cerita dari Star Wars Weekend
Jakarta 2014, pesta akbar para penggemar Star Wars di Indonesia. Digelar akhir
pekan lalu di mal Kuningan City, Jakarta Selatan, kegitan tersebut menghadirkan
semua hal tentang Star Wars, film fiksi ilmiah rekaan Hollywood. Mulai dari peragaan
kostum, pameran poster, pameran mainan dan pernak-pernik, dan lain-lain, ada di
sana.
Kisah bocah Aidan di atas terjadi di salah
satu pojok, di stan 501st (baca: five-o-first) Legion Indonesia. Dalam
kegitan tersebut, 501st Legion, komunitas kreator dan pencinta kostum Star
Wars, menyuguhkan permainan amal bertema “Blast A Trooper”. Dengan
membayar Rp 20 ribu, pengunjung bisa bersenang-senang menembaki para
Stormtrooper, yakni pasukan jahat dalam kisah Star Wars. Menurut panitia,
seluruh dana yang terumpul dari permainan amal tersebut akan disumbangkan kepada
Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo.
Serunya Star Wars Weekend terasa, bahkan
sebelum saya memasuki gerbang
arena kegiatan. Mendengar musik orkestra pengiringnya yang khas, atmosfer Star
Wars langsung mendominasi perasaan. Terlebih berjumpa dengan orang-orang
berkostum tokoh Star Wars, suasana kadang benar-benar terasa seperti berada di galaksi
ruang angkasa. Semua tampak begitu mirip, dari mulai Darth Veder, si pemimpin
pasukan jahat, hingga R2-D2, robot penyimpan pesan yang menggemaskan.
Rahmi, seorang ibu muda datang bersama putera-puterinya,
Haman (7) dan Raka (4). Sejak kecil, Rahmi mengaku menggemari film-film Star
Wars, bahkan berhasil menularkan kegemarannya itu pada anak-anaknya. Haman,
anak tertuanya, kata dia, begitu menyukai Star Wars, bahkan masih sering
menonton film-filmnya berulang-ulang. “Filmnya menurut saya, sih,
edukatif, aman lah buat ditonton anak-anak,” ujar Rahmi.
Rahmi yang seorang desain grafis kali itu sengaja
membuatkan jubah kaum Jawa (mahluk-mahluk mungil penghuni planet Tatooine)
untuk kedua anaknya. Haman tampak asik memain-mainkan lightsaber, pedang
bersinar milik para tokoh jagoan dalam Star Wars. Sementra adiknya, Raka,
terlihat senang bermain di kolam lego.
Menikmati meriahnya Star Wars Weekend rasanya
tak cukup hanya dengan satu atau dua jam, terlebih bagi mereka para pehobi Star
Wars. Berbagai pertunjukan ditampilkan di panggung yang desain khusus bergaya
luar angkasa, dari mulai atraksi lightsaber, hingga parade kostum tokoh-tokoh
Star Wars.
Riza Satyagraha, salah seorang inisiator
kegiatan, menjelaskan, Star Wars Weekend diselenggarakan sebagai perayaan
Star Wars Day yang jatuh setiap tanggal 4 Mei. Pada tanggal tersebut, menurut
Riza, penggemar Star Wars di seluruh dunia akan menyelenggarakan berbagai
kegiatan seputar Star Wars. “Kegiatan ini bertujuan mempopulerkan Star Wars di
Indonesia, selebihnya menjadi tempat berbagi sesama penggemar Star Wars,” ujar
Riza, yang juga pegiat Order 66, kominitas penggemar Star Wars terbesar di
Indonesia.
Menurut Riza, tahun ini, penyelenggaraan Star
Wars Weekend adalah yang ketiga kalinya di Indonesia. Tahun ini, kata dia,
panitia menargetkan seribu hingga 1200 pengunjung, setelah tahun sebelumnya
sukses dihadiri lebih dari 800 orang.
“Star Wars”, dari Film ke Budaya Pop
![]() |
| Foto: magz.shoutnet.co |
Bermula dari sebuah film, Star Wars kini
menjadi salah satu budaya populer yang mendunia. Sejak pertama kali dirilis
pada 1977, Star Wars berhasil mendapat pengakuan sebagai salah satu tonggak
perfilman fiksi ilmiah. Saking gandrungnya banyak orang terhadap cerita
rekaan George Lucas tersebut, para penggemar membuat peringatan khusus bernama
Star Wars Day.
Star Wars Day yang jatuh setiap 4 Mei,
ditetapkan mengacu pada sejumlah momen bersejarah dalam perjalanan Star Wars.
Kini, Star Wars Day dirayakan di seluruh dunia, dimotori oleh
komunitas-komunitas penggemar, yang juga terorganisasi secara internasional. Di
Indonesia, akhir pekan di awal Mei 2014, Star Wars Day dirayakan di mal
Kuningan City, Jakarta Selatan, dengan tajuk Star Wars Weekend Jakarta 2014.
Star Wars adalah cerita peperangan
antarkelompok mahluk galaksi, yang berpusat pada pertentangan dua kubu, yakni
Galactic Empire yang ingin menguasai tatasurya, melawan Rebel Alliance,
kelompok yang bertekad mengembalikan perdamaian. Hingga kini, telah terbit enam
film Star Wars. Trilogi pertama, yang kemudian disebut original trilogy dirilis
berturut-turut pada 1977, 1980, dan 1983. Sementara trilogi kelanjutannya
diluncurkan pada 1999, 2002,dan 2005. Menyusul kesuksesan dua trilogi
sebelumnya, trilogi ketiga diberitakan sedang diproduksi, dan akan mulai
diluncurkan pada 2015 ini.
Menurut Aryo Gono, pegiat 501st Legion
Indonesia, komunitas penggemar Star Wars Indonesia yang terafiliasi secara
internasional, kisah Star Wars sebenarnya tak beda dengan kisah kepahlawanan
lainnya. Diceritakan, kubu baik melawan kubu jahat, dibumbui dengan
drama-drama, yang menurut Aryo, tak lebih dari opera sabun. Namun demikian, menurut
Aryo, yang istimewa adalah latar kisah tersebut yang berlangsung di luar
angkasa. “Ketika itu, konsep seperti ini untuk pertama kalinya diciptakan,”
ujar Aryo.
Bagi Aryo, yang sudah menggemari Star Wars
sejak 1980-an, imajinasi si pembuat (George Lucas) tetang kehidupan tatasurya
sangat orisinal. Tak heran, sejak kemuculannya, tema luar angkasa mulai
digemari secara populer, termasuk menginspirasi lahirnya film-film sejenis.
Orisinalitas juga mencakup karakter-karakter yang diciptakan, yang hingga kini
masih sangat ikonik. Sebut saja Darth Veder, Strormtrooper, atau robot C-3PO.
Aryo menceritakan, komunitas 501st Legion,
berfokus pada minat kreasi dan apresiasi kostum Star Wars. Diceritakan Aryo,
anggota 501st Legion berkreasi dengan cara mengimitasi semirip mungkin karakter
aslinya. Kadang, menurut dia, untuk membuat kostum yang bagus dan mirip,
diperlukan biaya yang tidak murah. Kostum Stormtrooper yang dia buat misalnya,
menghabiskan dana hingga Rp 7 juta. “Seperti halnya orang lain yang punya hobi,
ya, inilah hobi kami. Menerut kami, sih, uang yang dikeluarkan
tak seberapa kalau dibanding hobi golf, diving,
dan yang lainnya, yang lebih mahal,” ujar dia seraya tertawa.
Selain 501st legion, menurut Aryo, di
Indonesia masih ada sejumlah kelompok penggemar lainnya. Ia mencontohkan,
yang sedang booming di kalangan anak-anak muda perkotaan adalah
komunitas atraksi lightsaber, pedang sinar, senjata para jagoan di dalam
cerita Star Wars. Seperti kali itu, sejumlah komunitas lightsaber dijadwalkan
menunjukan atraksinya di atas panggung, berupa koreografi pertarungan.
Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Menggali Akar Budaya Tanjidor
![]() |
| Foto: Kulatmabok/deviantart.net |
Lebih dari sekedar kesenian musik, tanjidor ibarat diorama kehidupan masyarakat Betawi. Di dalamnya tersuguh dinamika sosial dan bentang zaman yang dilewati orang Betawi di wilayah Ibu Kota dan sekitarnya. Sayang, orkestra rakyat itu kini nasibnya semakin tersisih oleh budaya hiburan modern.
Merespon kondisi tersebut, lembaga kebudayaan
Bentara Budaya Jakarta (BBJ) mengelar pagelaran bertema “Parade Tanjidor”, pada
20 hingga21 Maret 2014. Bertempat di gedung kesenian BBJ, di Jalan Palmerah
Utara, Jakarta Selatan, sejumlah mata acara disuguhkan. Di antaranya adalah diskusi
publik, pertunjuan tanjidor, serta tak lupa sajian kuliner khas Betawi.
Sesi diskusi menghadirkan pemerhati budaya
Rachmat Ruchiyat, serjarwan JJ Rizal, serta seniman sepuh Tanjidor, Said
Neleng. Rachmat Ruchiyat yang pernah terlibat program pendokumentasian tanjidor
zaman Gubernur Ali Sadikin bercerita, kesenian dengan peralatan musik
serba-Barat tersebut memang lahir dari lingkungan para bangsawan Belanda.
Ketika itu, menurut Rachmat, demi memenuhi
hasrat akan hiburan dan kemewahan, para juragan Belanda mendatangkan para
pelatih musik dari negerinya untuk mengajar orang-orang bumiputera. Salah
seorang bangsawan Belanda yang dicatat dalam sejarah tanjidor adalah Augustijn
Michiels, atau lebih dikenal sebagai Mayor Jantje. Rachmat meriwayatkan, di
istananya yang berada di wilayah Citeureup, Bogor, Mayor Jantje mempekerjakan
tak kurang dari 320 pembantu.
Sejumlah kecil pembantu terpilih kemudian
diberi tugas untuk menghibur keluarga sang majikan dengan musik. Kata Rachmat,
ketika itu Mayor Jantje memiliki hingga enam kelompok pemusik, dari mulai
pemusik gesek, pemusik gamelan, termasuk grup orkes. Grup yang terakhir kemudian
dikenal sebagai kesenian tanjidor. Masing-masing memiliki waktu tampilnya
sendiri. Kelompok tanjidor, misalnya, bermain untuk perayaan menyambut tamu,
serta suasana lainnya yang bersifat meriah.
Rachmat tidak memungkiri, ketika itu, para
pemusik kepunyaan tuan-tuan Belanda tersebut bisa diperjualbelikan, bahkan
dihadiahkan dalam pergaulan sesama bangsawan. Rachmat mengibaratkan, mereka seperti
para pesepak bola profesional hari ini yang memiliki nilai jual karena
keahliannya. Berbeda dengan Rachmat, JJ Rizal tak canggung menyebut para
pemusik pribumi itu sebagai kaum budak, sehingga muncul istilah slaven
orchest atau orkes budak.
Rizal menambahkan, pada 1870, Pemerintah
Kolonial Belanda menerbitkan larangan praktik jual-beli manusia, termasuk para
pemusik. Ketika itulah orkes tanjidor yang semula musik para bangsawasan
terusir dari istana. Tanjidor kemudian memasuki babak baru. “Setelah tidak di
istana, mereka kemudian membentuk grup-grup tanjidor keliling, lalu mencari
uang dengan ngamen dari rumah ke rumah,” kata Rizal.
Rizal melanjutkan, pada perjalanannya,
bermunculan banyak grup tanjidor keliling. Mereka menjadi bagian dari berbagai
perayaan hari besar, seperti Imlek, Lebaran, atau Tahun Baru. “Orang-orang
Tionghoa waktu itu senang kalau rumahnya didatangi tanjidor, mereka menganggap
itu sebagai pengusir roh jahat,” ujar dia.
Rachmat Ruchyat melanjutkan, setelah zaman
kemerdekaan, tanjidor memasuki babak baru ketika Sudiro, Walikota Jakarta Raya
waktu itu, melarang grup-grup tanjidor untuk ngamen. Menurut Rachmat, ketika itu Sudiro tak ingin orang-orang
pribumi berkesenian dengan cara yang dia anggap mengemis, terlebih kepada warga
keturunan Tionghoa.
Alhasil, kelompok-kelompok tanjidor pun
semakin menyusut jumlahnya. Menurut Rachmat, sempat ada upaya untuk kembali
membudayakan musik tanjidor pada masa Gubernur Ali Sadikin. Namun sayang, pada
akhirnya kesenian tanjidor tak bisa menghindar dari perubahan zaman dan
pergeseran paradigma masyarakat.
Secara khusus, Rachmat memuji perjuangan
kelompok tanjidor sejauh ini. Menurut dia, tanjidor masih tersisa karena
kemampunannya beradaptasi. Dia mencontohkan, tanjidor yang dulu hanya memainkan
musik-musik Belanda, kemudian juga memainkan lagu-lagu tradisional, bahkan
mengiringi dangdut.
Bukti lain fleksibilitas tanjidor, menurut
dia, adalah hadirnya berbagai varian kesenian, sebagai buah dari penggabungan
tanjidor dengan seni pertunjukan lain. Kesenian tersebut, contohnya jinong, merupakan
penggabungan tanjidor dan lenong, atau jipeng, perpaduan tanjdor dan seni
topeng.
Direktur Eksekutif Bentara Budaya
Hariadi Saptono melaporkan, sejauh upaya pihaknya mencari kelompok
tanjidor, hanya ada enam grup saja yang masih aktif berkesenian di Jakarta dan
sekitarnya. Sisanya, sudah kurang aktif, atau dengan peralatan yang tidak
lengkap.
Satu di antara sedikit kelompok tanjidor yang
masih hidup adalah grup tanjidor Tiga Sodara, pimpinan Said Neleng. Malam itu,
kelompok Tiga Sodara yang para pemainnya rata-rata sudah sepuh menjadi pembuka
malam parade tanjidor.
Musik Hibrida Bernama Tanjidor
![]() |
| Foto: Dok. Enoch Atmadibrata/disparbud.jabarprov.go.id |
Tanjidor adalah musik hibrida, percampuran berbagai kebudayaan yang ditempa oleh dinamika sosial yang panjang. Alat musiknya semua serba Eropa, terdiri dari berbagai jenis alat tiup dan tabuh, termasuk trompet kontrabass yang paling ikonik di antara yang lainnya. Dulu, di rumah-rumah para juragan kumpeni, orkes tanjidor hanya memainkan lagu-lagu Belanda. Kini, tanjidor juga mengiringi lagu-lagu tradisional.
Orkes tanjidor umumnya dimainkan oleh sembilan
hingga sepuluh orang, yang semuanya laki-laki. Alat musik yang digunakan
terdiri dari varian terompet, bass drum, serta simbal. Yang berperan memainkan
irama adalah klarinet dan flute, sisanya menjadi pengiring. Terkadang, penabuh
drum melontarkan saut-sautan yang membuat musik semakin semarak.
Setelah melalui proses asimilasi dengan budaya
Betawi, para pemain tanjidor mengenakan baju adat muslim Betawi, yakni celana
kain hitam, baju koko putih, peci, serta kain sarung tergantung di leher. Pada
perkembangannya, orkes tanjidor kerap disandingkan dengan ondel-ondel, sepasang
boneka raksasa, yang juga menjadi ikon kebudayaan Betawi.
Musik tanjidor diwariskan dari generasi ke
generasi hanya berdasarkan ingatan, tanpa catatan partitur. Para seniman
tanjidor merekam pakem lagu-lagu tanjidor dalam memori. Ketika mengajarkannya,
mereka menyenandungkan lagu-lagu tersebut. Wajar saja, kalangan yang mengerti
ilmu musik akan menemukan banyak nada sumbang dalam musik tersebut.
“Itulah tanjidor, kalau nggak sumbang,
bukan tanjidor,” ujar sejarawan JJ Rizal, dalam diskusi tentang tanjidor di
Bentara Budaya Jakarta, 21 Maret 2014.
Para pemain tanjidor memiliki istilah untuk
lagu-lagu yang mereka mainkan. Ada musik luar, mengacu pada lagu-lagu warisan
Belanda. Ada musik dalem, yakni tembang-tembang dari dalam negeri,
termasuk lagu-lagu tradisional. Hal yang unik, semua istilah lagu luar disebut
dalam bahasa mereka sendiri. Lagu-lagu bertempo cepat untuk baris-berbaris
prajurit mereka sebut mares, asal kata dari mars.
Ada macam-macam mares yang biasa mereka
mainkan, yang juga disebut seingatnya. Ada mares wilmes, berasal dari
Mars Wilhelminus, lagu untuk Ratu Belanda Wilhelmina. Ada juga yang disebut mares
jalan, mares jerit, mares Jepang, dan judul-judul lainnya, yang
menurut JJ Rizal, semua serba disebut sekenanya. Selain mares, dikenal
juga lagu-lagu wos, asal kata dari waltz,
musik lambat untuk berdansa.
Rachmat Ruchyat, peneliti kebudayaan Betawi
berpendapat tanjidor telah menjadi simbol keselarasam masyarakat Ibu Kota. Dia
menggambarkan, tanjidor mampu hadir dalam berbagai ruang sosial, seperti
prosesi adat, misalnya pernikahan dan sunatan, juga dalam perayaan hari-hari
besar, semisal Imlek, Tahun Baru, juga Lebaran.
Para pemerhati budaya Betawi tak sepenuhnya
faham dari mana munculnya istilah tanjidor. Dalam manuskrip-manuskrip warisan
zaman kolonial, tak ditemukan sebutan tersebut. Rachmat Ruchyat, peneliti
budaya Betawi berasumsi, tanjidor berasal dari kata Portugis tanger,
yang artinya musik. Ada juga yang berpendapat, akhiran dor dalam
Tanjidor mewakili bunyi tetabuhan yang ada dalam orkes tersebut.
Cat.: tulisan ini pernah dipublikasihan di Harian Republika, Maret 2014
Cat.: tulisan ini pernah dipublikasihan di Harian Republika, Maret 2014
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)


















