Mencuci Pakaian dari Zaman ke Zaman
![]() |
| Foto: pkmart.pk |
Mencuci pakaian merupakan salah satu budaya tertua dalam sejarah peradaban manusia. Sejak nenek moyang manusia mengenal sandang untuk menutupi tubuh dan auratnya, sejak itu juga mereka biasa membersihkan pakaian untuk menghilangkan kotoran dan bau yang menempel. Sebelum manusia mengenal teknologi mesin pencuci dan pengering dewasa ini, orang-orang terdahulu menggunakan berbagai teknik dan perlengkapan dalam membersihkan pakaian mereka.
Hampir semua bangsa di dunia mula-mula melakukan aktivitas mencuci di sungai, yang umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka memanfaatkan arus air untuk membersihkan noda-noda dan bau tak sedap pada pakaian mereka. Agar noda dan bau tersapu air lebih optimal, mereka mamanfaatkan bebatuan untuk menggilas kain-kain yang dicuci. Lalu, mereka menjemur pakaian-pakaian itu pada dahan dan ranting yang terkena sinar matahari.
![]() |
| Foto: invention.yukozimo.com |
Proses mencuci di sungai telah berlangsung ribuan tahun, bahkan masih bisa dijumpai di negara-negara berkembang hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Sementara di Eropa, selain memanfaatkan bantuan alam, sabun cuci mulai digunakan pada abad ke-16. Lemak, abu dan air seni merupakan beberapa bahan utama yang digunakan dalam pembuatan sabun ketika itu.
Bagi masyarakat yang jauh dari sungai, proses mencuci dilakukan dengan merendam pakaian dalam bejana yang dipanaskan di atas tungku. Setelah diangkat dari bejana, kain-kain yang dicuci dipilin dan dipukul-pukul dengan tongkat kayu untuk membersihkan kotoran, kemudian dibilas dengan air bersih.
Selain mencuci di sungai, sekitar abad ke-18 dan ke-19, di Eropa juga bermuculan rumah-rumah cuci bersama atau wash-house di sekitar pemukiman warga. Pada prinsipnya, fasilitas yang dibangun pemerintah tersebut memiliki dua kolam, yakni kolam tempat mencuci dan kolam untuk membilas bersih pakaian. Air yang mengaliri kolam biasanya berasal dari sungai atau mata air. Di tempat ini, para ibu tidak perlu lagi khawatir akan derasnya air sungai, serta terhindar dari sengatan sinar matahari karena terpayungi atap.
Bersamaan dengan munculnya budaya mencuci bersama, hadir sejumlah teknologi awal alat pencuci yang utamanya dimiliki oleh keluarga-keluarga mampu. Sejumlah model pertama mesin cuci diperkenalkan sejumlah penemu, di antaranya Jacob Christian Schaffer (Jerman) tahun 1752 dan Henry Sidgier (Inggris) pada 1782.
Mesin-mesin tersebut terbuat dari tabung kayu dengan rangka besi, di mana tuas digerakan oleh tangan untuk menguras rendaman cucian di dalam tabung. Namun demikian, untuk noda-noda yang membandel, mesin-mesin tersebut dinilai tidak lebih ampuh dibandingkan dengan mencuci dengan tangan.
Awal abad ke-19 dan abad ke-20, tercatat sejumlah nama peneliti yang mendaftarkan paten produk mereka. Sempat berkembang catatan sejarah yang menyebutkan Alva J Fisher asal Amerika Serikat (AS) sebagai penemu pertama mesin cuci listrik, yakni tahun 1908.
Namun kemudian, informasi tersebut banyak dibantah dan sejumlah nama lain dianggap sebagai penemu yang lebih awal. Di antaranya adalah James King pada 1851 dan Hamilton Smith pada 1858. Hingga hari ini, wacana penemu mesin cuci masih simpang siur dan menuai perdebatan. Karya Fisher dan sejumlah penemu mesin cuci lainnnya pada waktu itu apda dasarnya berupa tabung kayu dengan gerigi di dalam yang digerakan oleh motor listrik. Pada 1928, 913.000 unit mesin cuci tercatat terjual di AS. Pada 1932, jasa gerai cuci (laundromat) dengan sistem koin dibuka di Fort Worth, Teksas.
Baru selepas Perang Dunia II, pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, sejumlah pabrikan AS meluncurkan dan bersaing memasarkan mesin-mesin otomatis dengan model buka-tutup di bagian atas. Pada 1947, perusahaan Bendix Dulux mengenalkan model buka-tutup di bagian depan. Sejak saat itu, mesin cucui, mesin pengering, dan berbagai inovasi di bidang laundry terus berkembang hingga produk-produk mutakhir yang kita kenal hari ini.
| Foto: Helmy Chandra |
Laundry Koin, Menyongsong Budaya Mandiri
Lebih dari setengah abad berkembang di negara-negara Barat, teknologi laundry koin kini sampai juga di Indonesia. Mulai awal 2014, seorang pengusaha laundry di Jakarta memrakarsai berdirinya sejumlah gerai laundry koin yang dioperasikan secara swalayan. Digadang-gadang memiliki banyak kelebihan, laundry koin diprediksi segera membudaya di tengah masyarakat Indonesia.
Dari sang pengusaha, Helmy Chandra, saya mendapat banyak cerita tentang laundry koin dan perkembangan bisnis di bidang tersebut. Helmy bercerita, salah satu motivasinya memelopori bisnis tersebut karena konsep laundry koin terbukti berkembang tak hanya di negeri-negeri Barat, tetapi juga di negara-negar tetangga, seperti Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.
“Malaysia sudah lebih dahulu memulai sejak tiga tahun lalu. Di sana fasilitas seperti ini sudah sangat banyak dan membudaya,” Ujar Helmy, dijumpai di salah satu gerai miliknya di kawasan Depok, Jawa Barat.
Menurut Helmy, dibandingkan laundry sistem kiloan yang kini menjadi pilihan utama masyarakat, laundry koin memiliki sejumlah kelebihan. Menurut dia, beberapa kelebihan tersebu di antaranya adalah praktis, murah, higienis dan bersifat privat.
Dijelaskan Helmy, layanan laundry koin praktis karena tidak memerlukan waktu lama. Kata dia, hanya butuh waktu 1 hingga 1,5 jam untuk satu kali mencuci dan mengeringkan pakaian. Satu kali mencuci tersebut, lanjut dia, cukup dengan memasukan tiga hingga empat koin, tergantung jenis bahan pakaian yang dicuci. “Satu koin harganya Rp 10 ribu, maksimal satu kali mencuci enam kilogram. Jadi bisa dihitung, per kilogramnya jauh lebih murah dibandingkan dengan laundry kiloan,” ujar Helmy antusias.
Helmy menjelaskan, setelah dikeluarkan dari mesin pengering, pakaian tidak musti disetrika. Menurut dia, bahan-bahan pakaian sehari-hari, seperti kaos atau kemeja-kemeja tipis sebenarnya tidak perlu disetrika, dengan catatan pakaian-pakaian tersebut langsung dilipat.
Kata Helmy, yang biasanya membuat pakaian kusut adalah proses penjemuran di bawah sinar matahari yang menjadikan pakaian kaku dan tidak rapi. Namun, ia menambahkan, jika konsumen laundry kiloan belum merasa puas dan ingin menyetrika pakaiannya, fasilitas setrika bisa didapat dengan sedikit biaya tambahan. Proses menyetrika pun bisa dilakukan di gerai laundry kiloan.
Lalu menurut Helmy, laundry koin higienis karena konsumen mendapatkan mesin sendiri. Sehingga, kata dia, pakaian mereka tidak bercampur dengan milik konsumen lain. Helmy menjelaskan, di laundry- laundry biasa, pakaian beberapa orang pelanggan umumnya dicampurkan, sehingga sering terjadi pakaian konsumen tertukar.
“Di tempat laundry biasa, konsumen perempuan, misalnya, sering malu kalau mau mencuci pakaian dalam, apa lagi penjaganya mas-mas. Nah, di sini mereka bisa nyaman karena mencuci sendiri dan privasinya terjaga,” tutur Helmy.
Gerai Helmy tempat kami bertemu berada di sebuah apartemen, di sekitar kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok. Di tempat yang dia beri nama Laundry Cafe tersebut, terdapat sejumlah mesin cuci dan mesin pengering, yang beberapa di antaranya berukuran besar. Kata Helmy, mesin yang lebih besar untuk mencucui bed cover.
Di satu sisi, terdapat meja memanjang yang menempel pada dinding dilengkapi beberapa kursi. Di sudut, ada stan operator yang juga memajang makanan dan minuman instan. Dalam konsep Helmy, seperti yang dia kembangkan, fasilitas laundry swalayan bisa dibuat nyaman, agar selama mencuci, konsumen bisa mengerjakan banyak hal, dari mulai mengakses internet dengan fasilitas wi-fi gratis, atau makan minum sambil bersosialisasi.
Di gerai Laundry Cafe itu Helmy mempekerjakan dua orang staf. Seperti kami lihat, ketika itu mereka tampak sibuk merapikan pakaian-pakaian. Lalu Hemy bercerita, salah satu tantangan yang dia hadapi saat ini adalah merubah paradigma masyarakat yang biasa dilayani. Kadang, menurut dia, ada saja konsumen yang menitipkan pakaiannya, lalu mengambilnya kemudian waktu. Rupanya para pekerja yang saya lihat saat itu sedang menjalankan tugasnya, membantu para konsumen yang ‘nitip’.
“Tapi itu tidak masalah, ini fase transisi. Tidak semua begitu. Banyak juga yang suka nongkrong di sini, terutama mahasiswa. Semua kami lakukan bertahap, mobil juga tidak tiba-tiba matik, tapi manual terlebih dahulu, ” kata dia dengan nada guyon.
Beberapa gerai Laundry Cafe yang dibuat Helmy diakuinya hanya sebagai contoh. Karena menurut pria 40 tahunan itu, bisnis perusahaannya bergerak di bidang penyediaan mesin dan berbagai perlengkapan bisnis laundry, juga memberikan pelatihan-pelatihan bisnis laundry.
Setelah diluncurkan pada akhir Novemeber 2013, mesin-mesin laundry koin yang dia impor dari Amerika Serikat (AS) itu sudah banyak mendapatkan pesanan. Dalam cataan mereka, sudah ada 40 gerai yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. Helmy percaya, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat, sistem laundry swalayan akan populer dan membudaya.
Cat.: tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Ragam Seni Lakon Petani
![]() |
| Foto: beritadaerah.co.id |
Petani dan alam pedesaan adalah jati diri dan wajah Indonesia. Dari gerak laku petani di alam desa, lahirlah nilai-nilai dan ekspresi budaya yang kita warisi hari ini. Sayang, pergeseran tatanan sosial membuat bangsa ini gagap dan semakin kehilangan identitas. Di hadapkan pada kondisi tersebut, sebagian kecil orang kini tengah bekerja keras merawat, bahkan menggali kembali kultur petani yang telah, atau nyaris hilang dari tengah masyarakat.
Mengangkat tema “Daulat Para Jagoan”, lembaga
Bentara Budaya Jakarta (BBJ) menampilkan empat ragam seni tentang petani awal
Juni 2014. Keempat bentuk kesenian tersebut, yakni drama tari, lukisan, lukisan
kaca, dan wayang hama, mengeksplorasi nilai dan budaya petani, dipersembahkan
oleh pekarya yang merupakan maestro di bidang masing-masing.
Bukan sekedar mempertontonkan seni, hajatan
tersebut secara khusus mengangkat kisah perjuangan petani dalam memperjuangkan
kemandirian atas pupuk, obat, dan benih. Beberapa orang petani yang bergiat
dalam Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) asal Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat, didaulat untuk berbagi kisah. Melengkapi cerita para
petani tersebut, dipamerkan juga sejumlah instalasi berbagai perlengkapan
aktivitas mereka sehari-hari.
Bertempat di kompleks BBJ, kawasan Palmerah,
Jakarta Pusat, kegiatan yang berlangsung sepekan lebih itu dibuka dengan
suasana meriah dan artistik. Drama tari dengan lakon “Lesungku” dipentaskan
oleh Sanggar Tari Mulya Bhakti asal Indramayu, asuhan koreografer dan dalang
perempuan Wangi Indriya.
Drama tari tersebut digali Indriya dari tari
tradisi Grombyangan yang kini sudah hampir hilang, bahkan di daerah asalnya
Indramayu. Berkisah tentang suasana desa ketika gerhana bulan, “Lesungku”
dimainkan 20-an penari, perempuan dan laki-laki. Kaum pria tampil mengenakan
baju pangsi hitam-hitam dan berikat kepala, sementara para wanita
berbusana kebaya dengan kain melilit pinggang.
Diiringi ketukan lesung dan tetabuhan
alat-alat musik bambu dan tembang berbahasa Jawa Indramayu, empat orang remaja
putri bercaping melenggak-lenggok di atas panggung. Dalam beberapa bagian,
tetabuhan lesap digantikan alunan seruliing, menyeruakan suasana purba yang
terasa mistis.
Dikisahkan, malam tiba-tiba gelap. Bunyi
kentongan bertalu-talu, diikuti masuknya sejumlah pria ke atas panggung. “Telah
terjadi gerhana, bulan di makan Betara Kala”. Begitu pergunjingan yang terjadi
di antara mereka. Salah seorang dari mereka lalu tersadar bahwa istrinya tengah
mengandung. Tergesa dia pulang menuju rumahnya.
Setiba di rumah, sang istri langsung dia suruh
masuk ke bawah ranjang, sementara si lelaki menaburkan abu di atas tempat
tidur. Begitulah sang koregrafer mengangkat sepenggal kepercayaan lokal ke atas
panggung. Didukung oleh tata panggung yang artistik, dikelilingi oleh tanaman
padi menguning serta orang-orangan sawah, penonton diajak merasakan suasana
kehidupan leluhur pada zaman lampau.
Sementara itu, kesenian lain disuguhkan untuk
publik di ruang pameran. Ada koleksi lukisan-lukisan kaca karya maestro seni
lukis kaca asal Cirebon, Rastika. Sejalan dengan tema besar acara, sejumlah
karya mengangkat tema petani yang diramu dengan kisah dan visualisasi dunia
pewayangan.
Karya berjudul “Bima Meluku” (cat minyak pada
kaca) menggambarkan kesatria Bima tengah membajak sawah bersama dua ekor kerbau
berwarna merah muda, dengan latar belakang gunung biru dan mentari yang
mengintip dari balik awan. Termasuk karya “Bima Meluku”, lukisan-lukisan Rastika
yang ditampilkan sangat memikat, dengan warna dan komposisi gradasi yang
memanjakan mata.
Dua jenis karya lainnya, puluhan lukisan karya
perupa Yogyakarta Herjaka HS, serta ‘wayang hama’ karya perupa Magelang Sujono,
juga tidak kalah menariknya. Karya-karya Herjaka mengangkat tokoh Dewi Sri,
sang dewi pelindung tanaman dalam bentuk karakter wayang. Sementara itu,
‘wayang hama’ karya Sudjono merupakan eksperimen atas rupa-rupa hama, semisal
kinjeng, kepik, gasir, yang diangkat dalam bentuk wayang.
Kisah Para Petani Jagoan dari Indramayu
![]() |
| Foto: fao.org |
Awal Juni 2014, Bentara Budaya Jakarta (BBJ)
punya hajatan unik bertema “Daulat Para Jagoan”. Sejumlah seni yang hendak
ditampilkan, termasuk drama tari dan lukisan kaca, disebut-sebut hanya dipasang
sebagai pendamping. Banyak hadirin, termasuk wartawan, datang membawa rasa
penasaran. Barulah semua terang begitu Direktur BBJ Hariadi Saptono memberikan
sambutan.
Rupanya kegiatan tersebut mengetengahkan isu
soal kultur dan perjuangan petani. Sebuah komunitas petani padi asal Indramayu,
Jawa Barat, yakni Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI)
diboyong ke Jakarta untuk berbagi cerita. Menurut Hariadi, pihaknya terkesan
dengan keberhasilan kelompok petani tersebut dalam mengelola pertanian secara
mandiri. Termasuk menciptaan pestisida alami, pupuk alami, serta penemuan
berbagai varietas benih baru.
Hadir mewakili teman-teman mereka di desa,
enam orang petani diminta tampil ke atas penggung. Pentolan mereka adalah
Warsyiah, lelaki 57 tahun, asal Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten
Indramayu. Pria yang hanya tamat sekolah dasar tersebut menjadi salah satu
motor dalam menggalang gerakan pertanian mandiri di lingkungan Kabupaten
Indramayu dan sekitarnya.
Bermodal pengetahuan sekedarnya yang didapat
dari program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Tanaman (SLPHT) yang
diselenggarakan Bappenas pada tahun 1990-an, Warsiyah memulai eksperimennya. Ia
dan sejumlah kawannya alumni program tersebut dengan tekun melakukan berbagai
penelitian soal tanam-menanam padi.
Sekitar periode 1998, keberhasilan mereka
meramu iinsektisida dan pupuk organik menguatkan kepercayaan diri mereka untuk
melakukan lebih banyak percobaan. Saat itu, Warsiyah dan kawan-kawan sukses
mengoplos kecubung, kencing sapi dan kencing kambing untuk insektisida, serta
limbah buah-sayur dan kotoran sapi untuk pupuk organik. Sejak saat itu, berbagai
bahan lain semakin banyak ditemukan untuk menciptakan bermacam pestisida juga
pupuk yang ampuh. Hal itu membuat mereka berhasil meninggalkan sama sekali
pestisi dan pupuk kimia.
Tahun 2002 Warsiyah dan 40-an anggota IPPHTI
Indramayu mendapat kesempatan mengikuti Sekolah Pemuliaan Tanaman
Parsitipatoris (SPTP). Program tersebut difasilitasi LSM internasional,
Farmer’s Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (Field). Dari
sana, Warsiyah dan rekan-rekan mendapat pengetahuan soal silang-menyilang padi
untuk menemukan varietas baru. Sejak saat itu mereka berhasil memproduksi
varietas padi baru, bahkan menemuakan kembali jenis-jenis padi lokal yang
banyak dilupakan.
Dengan tulus, para petani tersebut menyebarkan
ilmu bertani kepada sesama petani, tanpa pernah menuruti nafsu serakan untuk
menguangkan hasil-hasil penemuan mereka. Dalam perjalanannya, perjuangan
menegakan kemandirian kultur bertani yang digalakkan Warsiyah dan rekan-rekan
tidaklah mudah.
Para bandar pestida, pupuk, dan benih menjadi
penentang yang hebat bagi gerakan mereka. Alih-alih membela, pemerintah
setempat tak jarang malah menjadi agen-agen perusahaan sarana produksi
pertanian yang turut menekan mereka. Namun Warsiyah dan rekan-rekannya tetap
teguh di jalan mereka untuk mewujudkan upaya kemandirian bertani lewat cara
yang alami dan sederhana.
Keberhasilan komunitas petani tersebut dalam
membangun kultur pertanian mandiri mendapat apresiasi dari Organisasi Pangan
Dunia (FAO) PBB. FAO menganggap IPPHTI sebagai slah satu kelompok petani yang
berhasil mengembangkan paradigma petani baru yang siap mengantisipasi perubahan
iklim dan pemanasan global.
Karena kesungguhannya, Warsyiah yang dianggap
paling cakap di antara kelompok lainnya, mulai November 2013 terpilih menjadi
salah satu penyuluh pertanian FAO. Warsiyah kini mengemban misi mendidik para
petani di berbagai daerah untuk beralih pada model pertanian yang aman dan
ramah lingkungan. Kelompok-kelompok binaan Warsiyah yang berjumlah 25-27 orang
sudah tersebar di berbagai desa di Indramayu, bahkan hingga ke luar kota.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Fin Komodo, Ketangguhan Mobil Patriotik
![]() |
| Foto: baliayutours.com |
Mobil penjelajah serbaguna itu dinamai Fin Komodo. ‘Fin’, kependekan dari ‘formula Indonesia’, dan ‘komodo’ adalah satwa endemik kebangaan Indonesia. Sejak semula, Fin Komodo memang dirancang dengan semangat patriotik. Mobil mungil itu bermimpi besar menjadi kekuatan industri otomotif nasional yang berakar budaya Indonesia.
Didesain sesuai kondisi alam Nusantara, Fin Komodo berbentuk mungil, kokoh, sekaligus lincah dikendarai, bahkan di medan ekstrim. Rancang bangun mobil berkapasitas 250 cc tersebut dibuat dengan perhitungan matematis yang sangat cermat. Tak perlu diragukan, sang inovator adalah Ibnu Susilo, mantan insinyur PT Dirgantara Indonesia, yang juga pernah terlibat dalam proyek perancangan pesawat Airbus A380 dan A400M.
Cukup lama mendengar nama harumnya, baru pada pertengahan Mei 2014, saya bertemu Fin Komodo. Mobil mungil itu saya jumpai ketika berkunjung ke ajang Indo Automotive, sebuah pameran otomotif berskala internasional yang berlangsung di Jakarta. PT Fin Komodo Teknologi, produsen Fin Komodo turut berpameran dalam ajang tersebut. Kepada saya, sang direktur yang juga pencipta Fin Komodo, Ibnu Susilo, berbagi cerita soal karya kreatifnya itu.
Dikisahkan Ibnu, proyek Fin Komodo mulai dirintis pada 2005 di Cimahi, Jawa Barat, melalui sebuah riset pasar. Tahun 2006 desain diciptakan, dilanjutkan dengan pembuatan prototipe pada 2007. Tahun 2008, generasi pertama mulai diproduksi. Dengan sejumlah perbaikan, generasi kedua hingga ke-4 kembali diproduksi dan dipasarkan mulai 2009 hingga 2011. Sejak 2011 sampai sekarang, tak banyak lagi perubahan berarti dilakukan, kecuali penambahan kecil serta polesan sejumlah aksesoris.
![]() |
| Foto: finkomodo.com |
Bagi Ibnu, Fin Komodo diciptakan bukan sekedar sebagai kendaraan, melainkan sebentuk perjuangan mewujudkan kedaulatan industri otomotif Indonesia. Ibnu berani mengklaim, Fin Komodo seratus persen produk Indonesia, dari mulai kepemilikan paten hingga kepemilkan modal. Tak kurang dari 40 UKM digandeng untuk menyuplai berbagai komponen bahan baku yang dibutuhkan. “Semua harus dibangun setahap demi setahap agar menjadi budaya. Teknologi itu sendiri, kan bagian dari budaya,” ujar pria 50 tahunan itu.
Ke acara pameran kali itu, Ibnu membawa salah satu varian Fin Komodo tipe KD 250 AT, yang terlihat berbeda dengan jenis sebelumnya. Berwarna hijau toska, KD 250 AT dilengkapi dengan atap dengan ruang penyimpanan barang di atasnya, serta sejumlah aksesoris, seperti bagasi tambahan di bagian belakang, lampu kabut di sisi kanan dan kiri atas, serta tabung kawat penderek di bumper depan.
Menurut Ibnu, sejak mulai diproduksi, mobil kerkpasitas dua penumpang itu banyak mendapatkan apresiasi. Sejumlah penghargaan dihadiahkan, termasuk anugerah Presiden Republik Indonesia untuk kategori Rintisan Teknologi Industri pada 2012 lalu. Dari segi pemasaran, Fin Komodo, menurut Ibnu, banyak mendapatkan pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, utamanya dari perusahaan perkebunan dan pertambangan.
Tak hanya menjadi kendaraan fungsional, di beberapa kota kini berdiri perkumpulan penghobi off-road dengan menggunakan Fin Komodo. Seperti dipertontonkan Ibu melalui layar video di stannya, saya tak ragu lagi dengan kehandalan mobil ceper itu. Mobil mungil berkapasitas dua penumpang itu begitu lincah menerjang tanah merah dengan lubang-lubang besar.
Benar kata Ibnu, mobil tersebut dirancang ringan dan tahan guncangan, terinspirasi dari prinsip kerja pesawat terbang. Terlihat, si pengemudi hanya sedikit saja tergoyang meskipun mobil berguncang-guncang hebat akibat medan yang rusak. Kemudian, meski hampir setengah badannya terrendam air, Fin Komodo ternyata tetap melaju tanpa hambatan.
Selain tangguh, Ibnu menambahkan, keunggulan lain Fin Komodo, di antaranya irit dan harganya terjangkau. Kata dia, karena bobotnya yang ringan, tak banyak energi yang dibutuhkan, sehingga sedikit saja bahan bakar yang diperlukan. Untuk tipe biasa, Fin Komodo dibanderol Rp 75 juta, belum termasuk ongkos kirim. Harga Fin Komodo bisa murah, kata Ibnu, karena semua material berasal dari dalam negeri. Ditambah, perusahaan tidak harus membayar paten dan lisensi ini-itu ke luar negeri, karena semua milik sendiri.
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Kopi Jawa di Takhta Dunia
![]() |
| Foto: mic.com |
Organisasi Kopi Internasional (ICO), dalam laporan tahun 2013, melansir dafatar peringkat produsen kopi terbesar di dunia. Dokumen terebut menempatkan Brazil di urutan pertama, disusul Vietnam dan Kolombia, baru kemudian Indonesia pada peringkat ke-4. Jika Brazil tahun tersebut tercatat memproduksi 2,5 juta ton, Indonesia terpaut jauh dengan hanya menghasilkan 411 ton.
Cerita berbeda terjadi pada abad ke-18. Ketika itu, kopi dari Tanah Jawa, pulau terpadat di Indonesia hari ini, menguasai pasar dunia. Lebih dari itu, negara-negara yang hari ini menjadi penghasil kopi terbesar, termasuk Brazil, Kolombia, dan Vietnam, semua mendapatkan benih kopi yang berasal dari Pulau Jawa. Kopi tersebut dikenal di dunia sebagai java coffee.
Berbagai fakta yang tak banyak diketahui soal java coffee dirangkum dalam buku “The Road to Java Coffee”. Buku tersebut ditulis Prawoto Indarto, seorang peminat kopi, alumni Jurusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menghadiri peluncuran buku tersebut pertengahan Mei 2014, saya mencatat sejumlah cerita menarik dari Prawoto.
Prawoto mengisahkan, kopi sebagai minuman pertama kali ditemukan di Etiopia, lantas berkembang di Timur Tengah sebagai minuman kaum sufi dan para sultan. Meluasnya popularitas kopi membuat orang-orang Eropa melirik prospek perniagaan minuman herbal tersebut di benua mereka. Sejak semula, para pedang Belanda-lah yang menjadi pionir bisnis kopi.
Seiring dengan terbukanya penguasaan Belanda atas Nusantara, pada 1696, mereka mendatangkan bibit kopi dari Malabar di India ke Tanah Jawa. Sayang, percobaan pertama mereka gagal. Baru pada uji coba ke dua mereka menjumpai keberhasilan, berkat bibit yang didatangkan dari Ceylon (Srilanka) pada 1699.
Perkebunan kopi Belanda di Pulau Jawa mula-mula dikembangkan di daerah Batavia (sekarang Jakarta). Namun kemudian kawasan Priangan Barat-lah yang memberikan hasil signifikan. Tahun 1711, 400 kg kopi yang dibawa VOC dari Cianjur memecahkan rekor penjualan di Balai Lelang Amsterdam. Sejak saat itu, java coffee merajai pasar dunia, hingga pada 1726, kopi dari Tanah Jawa menguasai 90 persen total perdagangan kopi di Amsterdam, yang kala itu menjadi sentra pergangan kopi dunia.
Popularitas kopi merebak di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-18, seiring berkembangnya sentimen anti-Inggis yang kala itu menghegemoni mereka. “Rakyat Amerika kemudian menolak segala sesuatu yang berbau Inggris, termasuk teh yang menjadi minuman utama dalam pergaulan sosial Bangsa Inggris. Mereka berpindah pada kopi,” ujar Prawoto.
Menurut Prawoto, masyarakat AS lalu menjadi konsumen kopi terbesar di dunia, terutama kopi dari Tanah Jawa. “Namun pada pada akhir abad-18, terjadi krisis kopi di Jawa akibat hama yang menyerang perkebunan kopi. Perkebunan kopi Jawa hampir habis. Dari sana masuk ke AS produk-produk dari Amerika Latin,” ujar dia.
Meski begitu, java coffee kadung populer di tengah masyarakat AS. Saking terkenalnya kopi jawa, marak pemalsuan merek dagang yang yang mengatasnamakan java coffee ketika pasokan kopi dari Tanah Jawa anjlok. Kondisi tersebut sampai-sampai memaksa pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Pertanian mereka, pada 1906 mengeluarkan pernyataan untuk melindungi konsumen. “Mereka menyatakan, hanya kopi dari Pulau Jawa yang boleh dipasarkan dengan nama java coffee,” kata Prawoto.
Menurut Prawoto, java coffee sangat memasyarakat di Amerika Serikat ketika itu. “Sampai-sampai mucul istilah ‘no java no work’, yang artinya, tak ada kopi tak akan kerja,” kata dia.
Sejarah Java Coffee dalam Buku dan Poster
![]() | ||
Foto: the5marketeers.wordpress.com
|
Sudah sejak lama kopi sangat digemari penduduk Bumi. Konon, hanya air putih saja yang mampu mengalahkan kopi dalam segi popularitas dan kuantitas konsumsi. Di tanah air, seperti juga di belahan dunia lain, kopi telah menjadi budaya dan bahasa pergaulan. Sayang, tak banyak orang Indonesia tahu, mayoritas rakyat dunia pada abad ke-18 meminum kopi dari Tanah Jawa. Kopi itu terkenal dengan sebuatan java coffee, merek dunia yang tetap bergengsi hingga hari ini.
Cerita panjang-lebar soal java coffee kini terbit dalam buku berjudul “The Road to Java Coffee”, ditulis Prawoto Indarto, seorang mantan direktur kreatif sebuah biro iklan yang memiliki minat terhadap kopi. Buku hasil riset panjang tersebut merekam sejarah, mulai dari datangnya benih kopi ke Pulau Jawa bersama Belanda, hinga berbagai cerita minor yang unik dan mencengangkan.
Beberapa fakta menarik dari buku tersebut kemudian dinukil, lantas dikemas Prawoto dalam bentuk puluhan poster iklan layanan masyarakat. Bersamaan dengan diskusi buku “The Road to Java Coffee”, poster-poster tersebut dipamerkan dalam tema “Ada Jawa Ada Kopi”. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, pertengahan Mei 2014, acara diskusi buku dan pameran, di antaranya dihadiri para praktisi bisnis kopi dan perwakilan sejumlah instansi pemerintah.
Kata Prawoto, gagasan melakukan studi atas java coffee bermula ketika dia melakukan penelitian kecil soal kopi ketika masih bekerja di bidang periklanan. Saat itulah dia menemukan istilah java coffee dan menjumpai berbagai fakta hebat yang membuat dia semakin tertarik. Sebagai contoh, dia berasumsi, kopi dari Tanah Jawa punya andil dalam revolusi Perancis.
Kata Prawoto, Voltaire, filsuf yang sering dianggap salah satu sosok sentral dalam Revousi Perancis ternyata adalah salah satu penggila kopi. Menurut Voltaire, secangkir kopi, selain memberikan kenikmatan, juga menstumulus gelombang syaraf otaknya untuk melahirkan ide demokrasi modern.
"Ketika dia mengungkapkan hal tersebut pada akhir abad 18, ketika itu 90 persen kopi di di Amsterdam yang merupakan sentra perdagangan kopi dunia berasal dari Tanah Jawa. Jadi kemungkinan besar dia meminum kopi dari Tanah Jawa," ujar Prawoto.
Selain Revolusi Perancis, kata Prawoto, persis ketika java coffee berjaya, terjadi migrasi konsumsi teh di tengah masyarakat Amerika Serikat. Hal tersebut, menurut dia adalah bentuk perlawanan rakyat Amerika Serikat terhadap dominasi budaya kaum kolonial Inggris. Java cofee ketika itu menjadi merek yang sangat populer di AS, jauh sebelum mereka memiliki brand Starbuck yang popular hari ini.
Penyusunan buku setebal 120 halaman art paper dengan sampul hardcover tersebut disponsori oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI), lembaga standarisasi dan sertifikasi kopi yang terafiliasi secara internasional. Ketua AKSI Agam Lehman Pahlevi, dalam sambutannya berharap, Prawoto bisa melanjutkan penelitian dan dokumentasi, tak hanya untuk Java Coffee, tapi juga unutk kopi-kopi dari tanah Nusantara lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Agam juga bertindak sebagai pembicara, mendampingi Prawoto.
Sejarah dan berbagai fakta unik soal Java Coffee yang sisampaikan Prawoto juga bisa ditemui di ruang pameran dalam bentuk-bentuk poster. Menghadirkan berbagai foto lawas, termasuk gambar-gambar perkebunan dan para petani kopi di Pulau Jawa, posoter-poster tersebut begitu memanjakan mata serta memicu penikmatnya menghayalkan kehidupan di Pulau Jawa satu-dua abad silam.
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Mengudara ke Zaman Radio
![]() |
| Foto: www.pxleyes.com |
Radio memang masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Sebagian orang, bahkan anak-anak muda, masih suka mendengarkan musik atau berita melalui radio. Tapi alam sosial sudah jauh berubah dibandingkan ketika Gueglielmo Marconi pertama kali menemukan pesawat tersebut pada 1894. Kini orang hanya sesekali saja memutar radio, misalnya ketika berkendara mobil. Selebihnya, televisi atau gawai dengan sambungan internet menjadi pilihan utama.
Generasi era 70-an
hingga 80-an, seperti Didi Sumarsidi (60) dan kawan-kawannya, merasakan benar
perubahan suasana itu. Di zaman mereka dulu, radio adalah bahasa pergaulan
utama. Kaum tua mendengarkan berita atau lakon sandiwara melalui radio. Sementara
anak-anak muda saling menyapa dan berkirim lagu juga lewat radio. Jauh sebelum
itu, pada periode pergerakan, peran radio bahkan jauh lebih vital, yakni
menjadi media perjuangan politik.
Tak heran, akhir
April 2014, Didi terlihat sangat semringah. Dia beserta sejumlah kawannya
diberi panggung oleh Bentara Budaya Jakarta untuk memamerkan koleksi
radio-radio tua mereka. Didi dan kawan-kawan tak lain adalah para penghobi dan
kolektor radio lama yang berhimpun dalam paguyuban Padmaditya, kependekan dari
Pencinta Audio Lama dan Radio Tabung Yogyakarta.
Didi yang merupakan
ketua Padmaditya bercerita, bagi dia, mengumpulkan dan merawat radio tua adalah
kebahagiaan tersendiri. “Radio tua itu tidak akan pernah tergantikan. Suaranya
sangat alami, terlebih bentuknya yang unik,” ujar pensiunan dokter militer
tersebut.
Tak kurang dari 55
unit pesawat radio milik 15 anggota Padmaditya diboyong dalam pameran bertema
“Layang Swara” tersebut. Radio-radio tersebut mereknya macam-macam, dengan
rupa-rupa model dan ukuran, dari yang sebesar tip kompo zaman sekarang hingga
yang seukuran televisi 21 inchi. Radio-radio tersebut tak hanya menjadi
pajangan, tapi ternyata masih bisa berfungsi dengan baik.
Dalam kesempatan
tersebut, Padmaditya menghadiahkan satu unit koleksi mereka untuk Dirut Lembaga
Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RII) Rosarita Niken Widiastuti.
Niken menyengajakan hadir dalam agenda tersebut untuk memberi sambutan. Begitu
menyalakan radio tersebut, Niken mendadak kegirangan. Dari kotak kayu itu
mengalun sebuah komposisi orkestra, dengan kualitas suara khas zaman dahulu.
“Ini tema pembuka siaran RRI, Pak. Dulu sebelum siaran kami pasti memutar ini,”
ujar Niken tampak sangat senang.
Dengan senang hati,
Niken mengikuti kemauan Didi dan kawan-kawan yang mendaulatnya mecontohkan
pembuka siaran RRI. Musik diputar, Niken bersiap dengan mikrofonnya.
“Pendengar, di manapun Anda bisa menjangkau siaran kami, selamat berjumpa lagi
dengan Radio Republik Indonesia. Dipancarsiarkan dari kawasan Pal Merah,
Jakarta. Sekali di udara, tetap di udara!” ujar Niken dengan suara bulatnya,
yang langsung disambut riuh sorak hadirin.
Didi kemudian
mengajak saya berkeliling ruang pameran untuk menunjukan beberapa koleksi yang
dianggap istimewa. Pria berkacamata itu menghampiri salah satu pojok,
menunjukan bongkahan radio kayu berbentuk setengah lingkaran setinggi sekitar
50 sentimeter. “Ini yang paling saya suka, ‘Tesla’ buatan 1957. Saya suka
karena bentuknya yang unik, dan ini produksi Cekoslovakia,” ujar dia sambil
mengusap-usap radio yang memiliki ornamen serupa kipas di bagian atasnya itu.
Menurut Didi, barang
tersebut langka, karena kebanyakan radio tua yang beredar di Tanah Air buatan
Eropa Barat dan Amerika Serikat. Seperti malam itu, sebagian besar radio
bermerek Philips, produksi Belanda. Didi kemudian berjalan ke sudut lain
mengenalkan radio bermerek Tombstone, yang diperkirakan dibuat di Belanda pada
kurun 1930 hingga 1940.
Menurut Didi, radio
tersebut istimewa karena bentuknya yang langka, yakni mernyerupai bagian depan
keranda mayat. “Radio ini juga dikenal dengan sebutan ‘bandoso’, dalam Bahasa
Jawa itu artinya keranda mayat,” ujar dia seraya tersenyum.
Soal komunitasnya,
Didi bercerita, Padmaditya pada mulanya diinisiasi pada 2010 oleh beberapa
orang penggemar radio tua. Sekarang, kata dia, anggota mereka mencapai 35
orang, yang rutin mengadakan pertemuan sebulan sekali. Selain berbagi cerita,
menurut Didi, kadang pertemuan juga diisi salingtukar komponen radio.
Radio dan Perjuangan
Indonesia
![]() |
| Foto: Istimewa/Kaskus |
Tanpa kehadiran radio,
entah akan bagaimana jalan sejarah bangsa ini. Ketika tahun 1945, Soekarno dan
sejumlah orang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur,
pada pukul 10.00, tak banyak rakyat Indonesia yang mengetahui itu, terlebih
masyarakat dunia. Baru pada pukul 19.00, lewat drama penyusupan dan aksi
sabotase sejumlah pemuda di kantor radio militer Jepang, Hoso Kyoku, berita
tersebut dipancarluaskan. Mula-mula, berita kemerdekaan disiarkan melalui
jaringan internasional.
Selain ditangkap
stasiun-stasiun luar negeri sejumlah negara, seperti India, Vietnam, hingga
Belanda, siaran tersebut rupanya sampai juga di telinga militer Jepang. Para
pemuda tersebut, termasuk di antaranya Jusuf Ronodipuro, kelak menjadi pendiri
Radio Republik Indonesia (RRI), sempat disiksa serdadu Jepang, sebelum akhirnya
dibebaskan. Perjuangan mengudarakan pesan kemerdekaan juga dilakukan di
beberapa stasiun radio lain di sejumlah kota.
Sepenggal kisah di
atas dituturkan Dirut RII Rosarita Niken Widiastuti, dalam sambutannya pada
pembukaan pameran radio lama, Kamis, 24 Juni lalu. Bertempat di Bentara Budaya
Jakarta, Jakarta Barat. Pameran bertajuk “Layang Swara” tersebut menghadirkan
55 unit radio lama berbagai merek, produksi tahun 1930 hingga 1970.
Menurut Niken, para
awak radio di jaman pergerakan telah menunaikan tugas perjuangan yang tidak
kalah patriotiknya. Dalam huru-hara proklamasi kemerdekaan, Niken mencontohkan,
para krustasiun radio di Solo sampai menggotong pemancar hingga 30 kilometer
jauhnya demi menghindari penyegelan dari pihak tentara Jepang.
“Mereka
menyembunyikannya di kandang kambing, dan membuat stasiun darurat untuk
menyiarkan berita-berita kemerdekaan pada seluruh rakyat Indonesia. Itu tak
hanya di Solo, tapi juga di berbagai kota lainnya,” ujar Niken kepada para
hadirin.
Berkat para pejuang
telekomunikasi tersebut, kata Niken, deklarasi kemerdekaan Indonesia sampai
menyebar keseluruh pelosok Indonesia dan juga ke luar negeri. Pihak Kerjaan
Belanda, yang saat itu yang masih berupaya mengambil alih kembali Indonesia,
geram mendengar berita tersebut. Mereka tidak mau mengakui berita kemerdekaan
yang sampai lewat gelombang radio tersebut.
Kata Niken, saking
tidak sukanya, pemerintah Belanda menjuluki Indonesia dengan sebutan ‘republik
mikrofon’. “Itulah, betapa besarnya peran radio dalam perjuangan politik waktu
itu, saampai-sampai suatu negeri dijuluki ‘republik mikrofon’,” kata Niken,
bercerita dengan antusias.
Tak lama setelah
proklamasi kemerdekaan, lanjut Niken, rakyat Indonesia memiliki radionya
sendiri. Pada 11 September 1945, Radio Republik Indonesia (RRI) berdiri,
sebagai penggabungan dari sejumlah stasiun radio di berbagai kota, yang
sebelumnya dikuasai Jepang. Sejak berdirinya hingga hari ini, kata Niken, RRI
terus berupaya bersikap netral dan mengutamakan kepentingan publik. “Pascareformasi,
kami terus menyongsong perubahan untuk menjadi lembaga penyiaran publik yang
kredibel,” ujar dia.
Malam itu Niken
tampak sangat senang. Dia berharap pameran tersebut akan terus mengingatkan
publik tentang besarnya peran radio dalam pembangunan Indonesia. Sebagai
penutup, Niken mengutarakan harapannya agar suatu saat Indonesia memiliki
museum radio, untuk mengabadikan sejarah dan perjalanan radio di Tanah Air.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Tersenyum Bersama Barang Jadul
![]() |
| Foto: Daniel Kurniawan |
"Pakailah Erasmic Briliantine diwaktu pagi. Nistjaja sampai malam rambut Tuan tetap rapi dan menarik. Lagi pula Erasmic sedap baunja dan Tidak membuat rambut djadi lekat. Erasmic memperindah rambut Tuan."
Petikan di atas adalah kalimat iklan yang tertera pada sebuah potongan surat kabar tak bertitimangsa. Kalimat itu adalah bagian dari sebuah pariwara krim rambut, lengkap dengan ilustrasi karikatur yang khas. Guntingan lembar koran yang dibingkai sederhana itu saya temukan di antara tumpukan barang-barang jaman dulu alias jadul. Benda itu ditemukan di tempat Agung Nugroho (55), seorang pedagang perabot antik asal Semarang. Akhir April 2014, Agung turut berpameran dalam acara Inacraft 2014, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat.
Berlama-lama di stan
Agung, tak tahan rasanya untuk tidak tersenyum, bahkan terkekeh sendiri. Tak
habis pikir rasanya membayangkan kehidupan orangtua atau kakek-nenek kita zaman
dahulu. Selain potongan iklan krim rambut berbandrol harga Rp 50 ribu di atas,
ada juga poster-poster film Indonesia yang tak kalah menggelikan.
Ada gambar film
“Sundel Bolong”, menampilkan foto-foto aktris Suzana sebagai pemain utama,
didukung Berry Prima dan Rudi Salam. Tak ketinggalan, ada poster film berjudul
“Rahasia Perkawinan”, menampilkan gambar-gambar Yati Octavia dan Roy Marten
semasa muda. Di samping dua itu, masih ada setumpuk poster film lainnya. Karena
keunikannya, poster-poster tersebut ditawarkan seharga Rp 100 ribu per lembar.
Benda-benda yang
lebih antik lagi juga bisa dijumpai di sana. Ada toples-toples kaca bermerek
“Shimada” buatan Jepang. Toples-toples itu masing-masing diharagai Rp 10 juta.
Ada radio tua buatan Eropa bermerek “Zenit” seharga 4,5 juta. ada juga lampu
gantung keramik tahun 1930, yang ditawarkan dengan harga Rp 35 juta. Lampu itu
merupakan benda paling mahal di sana.
Agung Nugroho, sang
kolektor dan pengusaha barang antik, bercerita, produk-produk lawas tersebut
dia dapat dari berbagai sumber. Misalnya, kalau dia berpergian ke suatu tempat,
kadang dia sengaja masuk ke kampung-kampung dan bertanya langsung kepada
penduduk. Di samping itu, ada beberapa sumber lain, seperti dari sesama
kolektor, dari pedagang di pinggir jalan, serta ada juga orang yang datang dan
menawarkan langsung kepada dia.
Bisnis yang ia
jalani tersebut bermula dari hobinya mengoleksi barang-barang lama. Sejak usia
26 tahun, dia mengaku sudah gandrung berburu perabot antik. “Dulu pas udah
nikah, istri kadang marah-marah, ‘ngapain, sih beli barang aneh-aneh dengan
harga mahal?’,” ujar pria perlente itu menirukan ucapan istrinya.
Menurut Agung, baru
setelah istrinya sadar hobi tersebut dapat menghasilkan uang, dia tidak lagi
protes. Lebih dari itu, kata dia, sang istri malah ketularan hobinya berburu
benda-benda jadul. Di daerah Bandungan, Semarang, Agung kini memiliki bisnis
resto dan galrei barang antik bernama “Joglo Agung”. Agung percaya, benda-benda lama dapat memberi
kebahagiaan. “Jadi di resto itu, pengunjung tidak hanya makan, tapi juga bisa
menikmati romantisme masa-masa dulu,” ujar dia.
Pengunjung resto dan
galerinya, kata dia, tak melulu orang tua. Ada juga anak-anak muda. Kata dia,
anak-anak muda yang rela membeli barang-barang di tempatnya, biasanya yang suka
seni dan bergaya nyentrik. “Mereka sepertinya bosan dengan kehidupan serba
canggih, jadi banyak yang tertarik mengoleksi barang-barang antik,” ujar Agung.
Di pameran tersebut,
bukan hanya Agung yang membuka stan barang antik. Ada juga Yurianto, 56 tahun,
yang juga asal Semarang. Di tempat Yurianto, kami bertemu Yono (52), salah
seorang pembeli yang rela menghabiskan Rp 1,5 juta untuk beberapa barang yang
disukainya. Bagi Yono, barang antik dapat memberikan ketenangan tersendiri,
sehingga dia membiarkan rumahnya dipenuhi barang-barang lama, tak ubahnya
sebuah galeri.
Hari itu, kendati mengeluarkan uang banyak, untuk beberapa topi lama dan hiasan dinding, Yono mengaku puas. “Uang itu pasti selalu ada, Mas. Tapi kalau barang begini, wuih, susah dapatnya,” kata Yono.
Hari itu, kendati mengeluarkan uang banyak, untuk beberapa topi lama dan hiasan dinding, Yono mengaku puas. “Uang itu pasti selalu ada, Mas. Tapi kalau barang begini, wuih, susah dapatnya,” kata Yono.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Orang Manggil Saya ‘Ibrahim Belalang’
![]() |
| Foto: Giant Prastyo/Flickr.com |
Akhir April 2014, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, kedatangan ribuan burung. Mereka hadir diboyong para majikan masing-masing untuk diikutkan lomba berkicau. Alih-alih datang bersama burung, seorang kakek malah membawa belalang dan jangkrik. Selidik punya selidik, ternyata kakek bernama Ibrahim itu menjajakan serangga-serangga tersebut untuk para pemilik burung.
Di salah satu pojokan, si kakek menggelar dagangannya, ditemani ‘asistennya’, seorang pemuda berpenampilan lusuh. Puluhan ekor belalalang cokelat kehijauan seukuran buah kurma nampak ramai mengisi sangkar besinya. Sementara, jangkrik-jangkrik sebesar jempol tangan dia taruh di botol-botol plastik bekas minuman yang sudah diberi lubang-lubang udara. “Yang ini namanya belalang kerek, kalau ini jangkrik gengggong ,” kata si kakek mengenalkan hewan-hewannya kepada saya, sambil menunjuk mereka satu per satu.
Mendengar penjelasan Kakek Ibrahim, sadarlah saya telah salah sangka. Semula saya berpikir, belalang dan jangkrik itu adalah makanan burung. Ternyata, serangga-serangga berbunyi nyaring itu difungsikan untuk merangsang burung menirukan suara mereka yang unik. Dari si kakek, saya baru tahu bahwa ternyata, hampir semua burung berkicau bisa mengimitasi suara-suara di sekitarnya. Malah, kata salah seorang peserta lomba yang saya temui, burung yang sudah jago bahkan bisa menirukan bunyi pluit parkir atau serine ambulan. Tak habis pikir saya mendengarnya.
Semula, saya berpikiran, harga belalang dan jangkrik itu sangat mahal, masing-masing Rp 10 ribu per ekor. Setelah kakek Ibrahim menceritakan cara mendapatkan serangga-serangga itu, saya merasa wajar dia memasang tarif setinggi itu. Kata kakek 53 tahun itu, belalang-belalang dan jangkrik-jangkrik itu dia dapat dari hutan di kaki Gunung Salak, Bogor. Beberapa malam dalam sepekan, dia biasa berburu, lalu akhir pekan dia akan membawa hasil buruannya ke tempat kontes burung untuk dijual.
Burung yang berhasil menirukan suara serangga, atau suara lainnya, oleh para penghobi disebut burung ‘masteran’ atau burung ‘isian’. Menurut Ibrahim, hanya jenis serangga tertentu saja yang bisa dirumahkan untuk melatih burung masteran. “Biasanya serangga yang suaranya nyaring, juga harus yang tahan lama. Belalang kerek, misalnya, itu bisa kuat dua bulan. Kalau jangkrik genggong sebulan lah,” kata Ibrahim menjelaskan.
Ibrahim bercerita, dari rumahnya di Cibeureum, Kabupaten Bogor, perlu 45 menit untuk dia mencapai hutan tempat berburu, dengan menggunakan sepeda motor. Di hutan kemudian dia melewatkan waktu kurang-libih tiga jam. Kata dia, biasanya dari jam tujuh hingga jam sepuluh malam. Dengan bantuan cahaya petromaks, kakek Ibrahim memburu mangsanya. Dia mengikuti suara serangga-serangga tersebut hingga sampai pada sarangnya. “Pokoknya seperti mengintip maling, kalau kami berisik sedikit saja, mereka enggak bunyi lagi,” ujar dia antusias.
Kata Ibrahim, belalang kerek biasanya ada di pohon-pohon pendek, atau kadang di tebing. Sementara, jangkrik genggong, kata dia, bersarang di lubang-lubang di dalam tanah. Dalam semalam, paling banyak Ibrahim hanya bisa mengumpulkan tak lebih dari 50 ekor belalang dan jangkrik. Selain belalang dan jangkrik, Ibrahim juga biasa menangkap orong-orong, kadal hijau seukuran lidi aren, seperti yang kali itu dia bawa. Kadal-kadal tersebut sudah di atur dalam botol pelastik. Masing-masing botol berisi 10 ekor kadal, dan dijual seharga Rp 10 ribu.
Mula-mula menjalani pekerjaan tersebut, Ibrahim mengaku takut blusukan di hutan malam hari. Sudah tak terhitung lagi dia mendapati ular ketika berburu serangga. Pernah juga dia terjerembab masuk ke dalam sumur tua. Kadang, Ibrahim bercerita, dia juga mendapati hal-hal berbau mistis, seperti mendengar suara-suara aneh, mencium wewangian aneh, atau menyaksikan penampakan sosok yang membuat bulu kuduk merinding.
Kakek beranak lima itu ternyata bukan setahun-dua tahun menjadi pemburu dan penjual serangga dan kadal. Menurut pengakuannya, sudah 12 tahun dia menjalani pekerjaan ‘langka’ tersebut. Dia biasa beredar dari kontes ke kontes di wilayah Jabodetabek, nyaris tanpa seorang pun saingan. “Makanya orang-orang yang punya burung sudah akarab lah sama saya. Mereka menggil saya Ibrahim Belalang,” ujar dia seraya tertawa.
Di usianya yang semakin senja, anak-anak Ibrahim kadang menyarankan dia berhenti keluar-masuk hutan. Tapi kakek Ibrahim masih tak rela meninggalkan sumber mata pencaharian yang masih tetap menggiurkan tersebut. Menurut dia, penghasilan dari usahanya lebih dari cukup untuk mengisi periuk nasi di dapurnya. Seepekan sekali, dari arena kotes burung, dia bis mendapat Rp 1,5 hingga 2 juta. “Kalau mau usaha begini, modalnya cuma satu, Mas, nekat,” kata dia seraya kembali terawa.
Kunjungan saya ke Indonesian Bird Championship (IBC) akhir April 2014 lalu, disambut teriakan orang-orang. “Ardo-ardo,” pekik seorang pemilik memanggil burung jagoannya. “Ke pinggir, dong, ke pinggir,” sahut yang lainnya lantang, meminta juri menengok burungnya. “Mohon tenang, ini bukan di terminal. Jangan sampai burung Anda kami diskualifikasi,” ujar panitia lewat pelantang suara.
Arena pertandingan itu seluas hampir setengah lapangan bola, dikelilingi pagar besi untuk menjaga para pemilik jauh dari burung mereka yang tengah bertanding di tengah lapangan. Panggung tempat kontes berupa petak-petak rangka pipa besi dengan ditempeli nomor-nomor berjarak satu rentangan tangan. Ruas-ruas pipa besi itu tak lain untuk menggantungkan sangkar burung peserta lomba. Arena tempat tim juri melakukan penilaian berdiri di sudut, teduh dinaungi tenda.
Kontes bersekala nasional kali itu diikuti 1500-an peserta dari pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Berbagai jenis burung berkicau dipertandingkan dalam 27 kelas, dari yang berhadiah Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta. Burung-burung tersebut di antaranya berjenis murai batu, cucak hijau, lovebird, dan kenari.
Pengawas Perlombaan, Kamiludin, menjelaskan, aspek penilaian mencakup keunikan, volume suara, durasi suara, ditambah penampilan fisik si burung. Dijelaskan Kamil, untuk menilai seluruh burung peserta yang jumlahnya berkisar dari 50 hingga 100 ekor per pertandingan, tim juri umumnya memerlukan waktu 15 hingga 30 menit. Menurut dia, setelah masing-masing juri mendapat kandidat juara, mereka kemudian memeberi laporan ke petugas pencatat.
“Setelah direkap dan diumumkan para kandidatnya, juri kemudian mengecek sekali lagi. Jika kandidat yang mereka pilih stabil kicauannya, masing-masing juri akan menaruh bendera pada kandidat juara. Yang paling banyak mendapat bendera, dia yang menang,” ujar Kamil, ditemui di sela kesibukannya bertugas.
Pemgamatan saya di lapangan, kontes burung berkicau berbeda dengan perlombaan-perlombaan pada umumnya. Tiap sesi perlombaan berjalan cepat, langsung seketika itu juga diumumkan para pemenangnya. Para pemilik burung juara yang tidak ingin menunggu sesi penyerahan piala dan hadiah di akhir lomba, bisa mendatangi tenda panitia untuk mendapatkannya lebih awal.
Salah satu burung juara bernama Thee Gee, burung jenis lovebird yang dibawa Hengki, pemuda berumur 24 tahun. Thee Gee berhasil menyisihkan puluhan lawannya dan berhasil meraih hadiah Rp 10 juta. Meski begitu, menurut Henki, dia bukanlah pemilik burung jagoan tersebut. Dia bekerja merawat burung untuk Mulyana, seorang dokter kaya penghobi burung.
Hengki bercerita, dia mengurus Thee Gee sejak sebulan lalu, setelah bosnya memebeli burung juara tersebut dari rekannya. Sayang, Hengki mengaku tidak tahu harga Thee Gee. “Sepertinya di atas Rp 20 juta, Mas,” kata dia menerka.
Di antara para penonton pertandingan ada Eka Setiwana, pemuda 27 tahun. Kepada saya, eka mengaku juga menggemari burung, terutama sejak tiga tahun terakhir. Hanya saja, dari lima burung miliknya, dia merasa belum punya jagoan untuk diikutkan kompetisi tingkat nasional. Bersama istri dan anaknya yang masih balita, Eka datang untuk memberikan dukungan bagi teman-temannya sesama anggota Selemba Team, kelompok pecinta burung asal Salemba.
Melihat istri Eka di sisinya, saya meggodanya dengan pertanyaan guyon, ingin tahu perasaannya memiliki suami penggemar burung. “Yaa, ada keselnya juga kadang-kadang, Mas... Kadang dia pulang malam, bukan oleh-oleh yang dibawa buat anak, ini malah pakan burung. Tapi selama enggak mengurangi biaya dapur sih boleh saja, dan jangan lupa keluarga,” ujar dia, sembari tersenyum menggoda suaminya.
Adu Kicau Burung Puluhan Juta
![]() |
| Foto: Solopos |
Kunjungan saya ke Indonesian Bird Championship (IBC) akhir April 2014 lalu, disambut teriakan orang-orang. “Ardo-ardo,” pekik seorang pemilik memanggil burung jagoannya. “Ke pinggir, dong, ke pinggir,” sahut yang lainnya lantang, meminta juri menengok burungnya. “Mohon tenang, ini bukan di terminal. Jangan sampai burung Anda kami diskualifikasi,” ujar panitia lewat pelantang suara.
Arena pertandingan itu seluas hampir setengah lapangan bola, dikelilingi pagar besi untuk menjaga para pemilik jauh dari burung mereka yang tengah bertanding di tengah lapangan. Panggung tempat kontes berupa petak-petak rangka pipa besi dengan ditempeli nomor-nomor berjarak satu rentangan tangan. Ruas-ruas pipa besi itu tak lain untuk menggantungkan sangkar burung peserta lomba. Arena tempat tim juri melakukan penilaian berdiri di sudut, teduh dinaungi tenda.
Kontes bersekala nasional kali itu diikuti 1500-an peserta dari pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Berbagai jenis burung berkicau dipertandingkan dalam 27 kelas, dari yang berhadiah Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta. Burung-burung tersebut di antaranya berjenis murai batu, cucak hijau, lovebird, dan kenari.
Pengawas Perlombaan, Kamiludin, menjelaskan, aspek penilaian mencakup keunikan, volume suara, durasi suara, ditambah penampilan fisik si burung. Dijelaskan Kamil, untuk menilai seluruh burung peserta yang jumlahnya berkisar dari 50 hingga 100 ekor per pertandingan, tim juri umumnya memerlukan waktu 15 hingga 30 menit. Menurut dia, setelah masing-masing juri mendapat kandidat juara, mereka kemudian memeberi laporan ke petugas pencatat.
“Setelah direkap dan diumumkan para kandidatnya, juri kemudian mengecek sekali lagi. Jika kandidat yang mereka pilih stabil kicauannya, masing-masing juri akan menaruh bendera pada kandidat juara. Yang paling banyak mendapat bendera, dia yang menang,” ujar Kamil, ditemui di sela kesibukannya bertugas.
Pemgamatan saya di lapangan, kontes burung berkicau berbeda dengan perlombaan-perlombaan pada umumnya. Tiap sesi perlombaan berjalan cepat, langsung seketika itu juga diumumkan para pemenangnya. Para pemilik burung juara yang tidak ingin menunggu sesi penyerahan piala dan hadiah di akhir lomba, bisa mendatangi tenda panitia untuk mendapatkannya lebih awal.
Salah satu burung juara bernama Thee Gee, burung jenis lovebird yang dibawa Hengki, pemuda berumur 24 tahun. Thee Gee berhasil menyisihkan puluhan lawannya dan berhasil meraih hadiah Rp 10 juta. Meski begitu, menurut Henki, dia bukanlah pemilik burung jagoan tersebut. Dia bekerja merawat burung untuk Mulyana, seorang dokter kaya penghobi burung.
Hengki bercerita, dia mengurus Thee Gee sejak sebulan lalu, setelah bosnya memebeli burung juara tersebut dari rekannya. Sayang, Hengki mengaku tidak tahu harga Thee Gee. “Sepertinya di atas Rp 20 juta, Mas,” kata dia menerka.
Di antara para penonton pertandingan ada Eka Setiwana, pemuda 27 tahun. Kepada saya, eka mengaku juga menggemari burung, terutama sejak tiga tahun terakhir. Hanya saja, dari lima burung miliknya, dia merasa belum punya jagoan untuk diikutkan kompetisi tingkat nasional. Bersama istri dan anaknya yang masih balita, Eka datang untuk memberikan dukungan bagi teman-temannya sesama anggota Selemba Team, kelompok pecinta burung asal Salemba.
Melihat istri Eka di sisinya, saya meggodanya dengan pertanyaan guyon, ingin tahu perasaannya memiliki suami penggemar burung. “Yaa, ada keselnya juga kadang-kadang, Mas... Kadang dia pulang malam, bukan oleh-oleh yang dibawa buat anak, ini malah pakan burung. Tapi selama enggak mengurangi biaya dapur sih boleh saja, dan jangan lupa keluarga,” ujar dia, sembari tersenyum menggoda suaminya.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, April 2014
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)













