Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
![]() |
| Foto: Wikipedia/KITLV |
“Kamarku tidak pakai jendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun di siang hari.”
Begitu Sukarno menceritakan kisahnya semasa indekost di rumah HOS Tjokroaminoto. Cerita itu ia tuturkan kepada penulis biografinya, Cindy Adams.
Hunian yang diceritakan Sukarno itu hingga kini masih terjaga dan diabadikan sebagai cagar budaya. Bangunan
sederhana itu terletak di Gang Peneleh VII, Surabaya. Di sana, Sokearno, atau
dahulu masih bernama Koesno Sosrodihardjo, dititipkan ayahnya untuk ‘mondok’ di tempat tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto. Sukarno kala itu tengah menempuh pendidikan Hogere Burgerlijks School (HBS). Pada 1916 saat itu, usianya baru 15 tahun.
Bertamu
ke rumah HOS Tjokro suatu sore di akhir Februari 2015, saya menelusuri cerita
Sukarno tentang rumah tersebut. “Kalau dari perkataan Pak Karno, kemungkinan
sih kamar dia di sini,” ujar Eko Hadiratno, penjaga rumah, menunjukan ruangan
yang kami jejak.
Eko
bercerita, selain berdasarkan cerita Seokarno, jejak sang Proklamator itu di
rumah tersebut juga ditunjukan oleh sebuah foto. Pose Seokarno bergambar di
bawah pohon belimbing diyakini Eko berada di halaman belakang rumah tersebut.
Sayang, halaman belakang itu kini telah hilang dan tersekat benteng sekolah.
Di
rumah itu, Sukarno muda mulai mengasah wawasan politik dan pengetahuan tentang
gerakan sosial. Sementara sekolah menyediakan pelajaran formal sebagai latar
pengetahuan umum, pelajaran politik dia dapat dari HOS Tjokroaminoto, sang
bapak kost yang tak lain adalah ketua Sarikat Islam. Organisasi itu, pada
zamannya merupakan perkumpulan pribumi terbesar beranggotakan 2,5 juta orang.
Tak
hanya Sukarno, sejumlah pemuda indekost lainnya juga mendapatkan
gemblengan HOS Tjokro. Beberapa di antaranya, kelak berseberangan jalan dengan
Sukarno, bahkan dengan sang guru sendiri. Mereka adalah Semaoen, Muso, Alimin
dan Darsono yang kemudian menjadi pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sementara, pemuda lainnya, yakni SM Kartosuwijo, di masa tuanya menyatakan
perang terhadap Republik Indonesia dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia.
Di
rumah itu pula, Sukarno mengenal tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang kerap datang
bertamu. Mereka di antaranya adalah Tan Malaka, KH Agus Salim, Suwardi
Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara), pentolan Perhimpunan Sosial-Demokratik
Hindia (ISDV) Henk Sneevliet, dan masih banyak lagi.
Di
kamar kost-nya yang pengap itu, di depan cermin, Seokarno muda gemar berlatih
orasi. Dia mengaku terilhami oleh perkataan HOS Tjokro, demimenjadi orang
besar, pemuda harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.
Polah
Sukarno yang gemar teriak-teriak itu, terkadang membuat kawan-kawannya
jengkel. Di antara mereka, Kartoseowirdjo yang merupakan kawan karibnya sering
menyebutnya orang gila karena hobi berbicara sendiri. Sementara dari Muso yang
berusia empat tahun lebih tua, Sukarno mengaku belajar tenatang Marxisme.
Tahun
1921, ketika berusia 20 tahun, Sukarno dinikahkan HOS Tjokro dengan putri
sulungnya, Siti Oetari. Ketika itu, sang gadis yang juga menjadi rebutan para
pemuda indekost masih berumur 16 tahun. Pascapernikahan mereka, sang
mertua pidah rumah ke daerah Plampitan, yang berjarak tak jauh dari Peneleh.
Sayang,
pernikahan Sukarno dan Oetari tak bertahan lama. Begitu lulus HBS dan
melanjutkan pendidikan ke Tecnische Hogeschool (kini ITB) di Bandung, pada
1923, Sukarno mengembalikan Oetari pada ayahnya, HOS Tjokroaminoto. Konon,
sejak semula, keduanya sudah tak saling cinta. Dan pernikahan itu, mereka
lakukan untuk menyenangkan HOS Tjokro.
Setelah
menjadi presiden, Sukarno pernah pulang ke Gang Peneleh VII. Di depan rumah
joglo itu, dia mengumpulkan warga dan mengajak mereka diskusi tentang berbagai
hal. Cerita itu disampaikan Eko, penjaga rumah yang juga Ketu RT. “Nenek saya
pernah cerita begitu. Makanya, orang-orang tua sampai sekarang nyebut rumah
ini, ya Rumah Pak Karno,” kata dia.
Di
rumah itu, yang disembunyikan rapat sepanjang sejarah Orde Baru, Sukarno
melewati babak penting dalam sejarah hidupnya. Rumah itu kini bukan hanya
menjadi bagian sejarah presiden pertama Indonesia bernama Sukarno. Sejarah itu
hari ini telah menjadi warisan bangsa yang wajib dilestarikan.
Sejarawan
Surabaya Dukut Imam Widodo berharap, situs rumah HOS Tjokroaminoto yang masih
sepi pengunjung itu terus dikembangkan. “Paling tidak ada perpustakaan atau
ruang pemutaran film. Jadi orang punya banyak alasan untuk datang dan betah
lama di sana,” ujar dia.
Suatu Sore di Rumah HOS Tjokro
![]() |
| Rumah HOS Tjokroaminoto. Foto: Andi Nurroni |
Ashar hampir menjelang ketika saya
berhasil menemukan rumah tua berpagar hijau itu di Gang Peneleh VII, Surabaya,
akhir Februari lalu. Penampakan rumah joglo dari akhir abad ke-19 itu persis
seperti saya lihat di catatan blog sejumlah peminat wisata sejarah.
Itulah rumah peninggalan HOS Tjokroaminoto, seorang bapak bangsa yang namanya kini banyak diabadikan menandai jalan-jalan protokol di negeri ini. Tak hanya HOS Tjokro, hunian sederhana itu juga memiliki ikatan sejarah dengan sejumlah tokoh politik penting zaman pergerakan. Sebut saja Sukarno, Semaun, Muso, dan Kartosuwirjo.
Di rumah itu, Sukarno indekost selama beberapa tahun sejak 1916, semasa dia bersekolah di Hogere Burgerlijks School (HBS). Tak hanya menyewa kamar, Soekarno dan kawan-kawannya yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting mendapatkan wawasan politik, pergerakan sosial, hingga ilmu agama dari sang bapak kos, HOS Tjokroaminoto. Ketika, ia sudah memimpim perhimpunan Sarekat Islam.
Melihat pintu pagar tumah itu disegel gembok, rasa senang saya menjadi tercampur waswas. Sementara, gang yang tak seberapa lebar tempat rumah itu berdiri saya dapati sepi. Hanya kain bendera dujung tiang yang bergerak-gerak tersibak angin. Beberapa menit saya tertegun mencari orang untuk dimintai tanya.
Memasuki gang, seorang bapak turun dari sepeda motornya, lalu mendorong kuda besinya itu hendak melintas di depan saya. Oh, rupanya pengendara sepeda motor harus turun jika memasuki gang dan melintas di rumah itu—hal yang tidak saya lakukan sebelumnya. Peringatan itu, kemudian saya lihat dari jauh terpasang di pintu gerbang gang. Dari si Bapak, saya diberi petunjuk ke mana harus menemukan sang penjaga rumah.
Berjalan ke ujung gang hingga seratus meter jauhnya, saya menemukan rumah sang penjaga, Eko Hadiratno. Pria 40-an tahun yang dipercaya mengelola rumah HOS Tjokro itu adalah Ketua RT di lingkungan setempat. “Silakan masuk,” ujar dia ramah, setiba kami di joglo HOS Tjokro.
Memasuki rumah berukuran sekitar 13 x 9 meter itu, saya merasa diserbu berbagai bayangan sejarah. Meja-kursi kayu lawas, bufet, meja rias, foto-foto, benda-benda itu satu per satu menarik saya untuk mendekat. Gambar-gambar HOS Tjokro dalam berbagai suasana, juga foto-foto Sukarno dan yang lainnya, dipasang di sepanjang dinding rumah. “Foto-foto ini sebagian didatangkan dari Belanda,” ujar Eko yang menyertai langkah saya.
Memasuki joglo itu, pengunjung akan menemukan beberapa ruangan. Ruangan utama, tempat meja-kuris kayu diletakkan, adalah ruang tamu. Melewati lorong menuju bagian belakang, di kanan-kiri terdapat ruangan. Ruangan di sebelah kanan terlihat jelas seperti kamar, lengkap dengan daun pintu yang masih tersisa.
Di kamar itu, tergantung logo Partai Sarikat Islam Indonesia dalam bingkai besar. Menurut Eko, itulah benda paling bernilai yang diwanti-wanti pihak ahli waris untuk dijaga benar-benar. Sementara, ia melanjutkan, perabot dan barang-barang lain, sebagian besar ditambahkan sebagai pelengkap. Barang-barang asli sendiri, menurtu dia, sudah tidak jelas rimbnya, sejak rumah tersebut dijadikan tempat kost, hingga tahun 1998.
Eko bercerita, tata ruang di rumah tersebut adalah hasil dari beberapa kali pemugaran. Sejumlah dinding penyekatdi bagian depan dan tengah, kata dia, terpaksa dihilangkan agar rumah lebih leluasa menerima pengunjung.
Di belakang, masih ada satu ruangan lain. Ruangan itu juga menjadi akses untuk menemukan ruangan lainnya di bagian atap. Menaiki anak-anak tangga dari besi, saya menghadapi ruangan paling luas di rumah tersebut. Berukuran sekitar 10 x 5 meter, ruangan itu berdipan kayu dan hampir tak berjarak dengan atap.
Eko sendiri mengaku kurang yakin peruntukan ruangan tersebut. Berdasarkan pengakuan Sukarno, bahwa pemuda yang indekost hingga 30 orang, kemungkinan ruang tersebt disekat untuk kamar-kamar tidur.
Puas menjelajah setiap bagian rumah, Eko mengundang saya duduk di ruang tamu. Berbagai pertanyaan saya ajukan, setelah sebelumnya menyetel ponsel untuk merekam cerita dia. Mengawali kisahnya, Eko menyampaikan, sebelum tahun 1996, rumah HOS Tjokro boleh disebut ‘hilang’.
Sejarah joglo itu, kata dia, dirahasiakan keluarga HOS Tjokro, begitupun keluarga Soenarjo, warga kampung yang dititipi kunci. Menurut Eko, hingga kunci dipegang anak perempuan Soenarjo yang bernama Ema, sejarah rumah tersebut masih disimpan rapat-rapat. “Sepertinya karena alasan politik, waktu itu kan masih jaman Orde Baru, segala sesuatu yang berbau Sukarno tidak aman,” kata Eko.
Baru pada 1996, Eko bercerita, puteri Sukarno, Sukmawati membuka sejarah rumah tersebut kepada publik. Bersama dengan itu, Eko bercerita, kepemilikan rumah tersebut juga diserahkan kepada Pemkot Surabaya, dengan harapan menjadi cagar budaya.
Eko bercerita, perbaikan situs bersejarah tersesbut dilakukan secara berkala, terutama dalam tiga tahun terakhir. Genting dan flafon yang dulu bocor, kata dia, telah diperbaiki. Begitu juga dengan pengadaan berbagai bukti dokumentasi, seperti foto. Termasuk, perabot dan fasilitas penunjang, seperti perangkat audio untuk memeutar lagu-lagu perjangan.
Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar beberapa kali, menurut Eko, promosi rumah tersebut sebagai situs wisata sejarah masih kurang. Bahkan, kata dia, satu hari bisa sama sekali tidak ada yang datang berkunjung. Ia berharap, ke depan rumah tersebut terus disempurnakan, termasuk menyediakan pemutaran film dan menyediakan suvenir.
Berada satu jam di sana, langit semakin mendung ketika saya pamit untuk pulang. Senyum Eko yang ramah menyertrai saya mendorong sepeda motor menuju gerbang di depan sana.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Maret 2015
Menengok Saijah, Janda Kopral Pejuang
![]() |
| Ilustrasi Petempuran Surabaya 1945. Foto: anonim/kaskus.co.id |
Menilik penampilan dan tempat tinggalnya, Saijah adalah potret warga miskin perkotaan pada umumnya. Tinggal bersama anak-cucu di petak gedung tua lapuk, nenek 91 tahun itu melewati hari-hari dengan penuh kesederhanaan—untuk tidak menyebutnya menyedihkan.
Hal yang istimewa mengenai nenek Saijah, ia adalah seorang janda dari pahlawan kemerdekaan
bernama M Sidik. Sidik adalah adalah kopral alumni pertempuran Malang 1947, yakni
peperangan laskar Indonesia melawan agresi Belanda. Mengunjungi kediamannya sekitar
bulan November 2014 silam, saya merekam cerita hidup Saijah
dan keluarganya.
Mengenakan baju daster, nenek
berperawakan besar itu terseok-seok melangkah dan menyambut hangat kedatangan saya.
Tongkat besi berkaki tiga menjadi topangan bagi tubuhnya yang ringkih.
“Silakan duduk,” ujar Saijah sambil menganjurkan tangan ke arah dipan reyot, satu-satunya tempat duduk yang tersedia untuk tamu di rumahnya. Nenek delapan anak itu pun turut dudik di bangku yang sama.
Tempat tinggal nenek Saijah, atau orang memanggilnya Bu Sidik, berada di kawasan
Jembatan Merah, yang merupakan kawasan kota tua di Surabaya. Bangunan yang ia
tinggali sendiri adalah gedung peninggalan Belanda yang kusam dan berlumut.
Gedung tua yang tak diketahui pasti awal peruntukannya itu disekat-sekat,
hingga setiap keluarga mendiami tak lebih dari 10 meter per segi.
Tercatat ada 16 keluarga tinggal
di sana. Mereka semua adalah keluarga para vetran perang angkatan kemerdekaan.
Lebih khusus, mereka yang mendiami tempat tersebut adalah keluarga veteran
invalid yang purna tugas karena menderita kecacatan dalam peperangan.
Sayang, sudah tak tersisa lagi
para patriot bangsa itu di sana. Istri-istri mereka pun sebagian besar sudah
tutup usia, hanya menyisakan Saijah dan dua janda pejuang
lainnya yang sudah sangat sepuh dan hidup dengan kemiskinan yang sama.
Saijah
bercerita, ketika Belanda melakukan agresi ke Surabaya dan kota-kota di Jawa
Timur 1947, ia ditinggalkan suaminya berperang. Dua-tiga tahun sejak perangan
itu, ia kehilangan suaminya, hingga berpikir sang Sidik telah tewas di dalam
pertempuran.
“Saya mencari ke mana-mana. Saya
juga kerja banting tulang menghidupi anak. Boro-boro ada bantuan, gaji saja
Bapak enggak pernah dapat waktu itu,”
ujar Saijah dengan air wajah haru.
Baru pada 1949, menurut Saijah, seorang kawan Sidik di kesatuan tentara menemuinya,
memberi kabar Sidik telah ditemukan. “Tapi dia bilang, saya harus sabar dan
ikhlas karena suami saya dalam kondisi yang enggak
sehat seperti dulu,” tutur Saijah.
Setelah Saijah menemukan Sidik, Baru
kemudian diketahui bahwa selama ini ia menjadi tawanan perang Belanda. Mendekam
di bui Belanda lebih-kurang setahun, Sidik mendapatkan penyiksaan hingga
telinga sebelah kanannya putus, sehingga kehilangan pendengaran. Tak hanya itu, seluruh
badannya juga dipenuh luka.
Sejak saat itu, sidik divonis cacat
dan tak lagi diturunkan di medan pertempuran. Pada 1950, Kopral Sidik dikirim
ke Surabaya, bergabung dengan kesatuan Corps Invaliden, yang kemudian berubah
nama menjadi korps cacat veteran. Dia diberi tempat tinggal, yakni sepetak
ruangan di gedung tua, yang kini menjadi naungan bagi istri dan anak-cucunya.
Sejak kepergian sang suami para
1998, Saijah berbagi tempat tinggal tersebut bersama
anak-anak dan para cucunya. Dari delapan anak, dia mengisahkan, dua sudah
meninggal, sebagian tinggal di luar kota, sementara dua masih turut seatap
bersama dia. Sang suami sendiri, menurut Saijah,
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Surabaya.
Satu-dua remaja perempuan dan
anak kecil melintas di hadapan kami. Mereka menganggukan kepala sebagai sapaan hormat
kepada saya. Di balik sekat terpileks di samping kami, lamat-lamat terdengar
suara televisi. Kamar Saijah sendiri berada persis di
depan dipan reyot yang kami duduki. Kamar yang lebih dari setengah abad ia
tinggali itu hanya tertutup kain gorden tipis.
Saijah
melanjutkan kisahnya, setiap bulan, ia mendapatkan uang pensiun sebesar Rp 1,1
juta yang ia ambil setiap tanggal satu. Uang yang tak seberapa besar itu dia
akui dicukup-cukupkan, mulai dari untuk makan, membaginya dengan anak-cucu,
hingga menyisihkannya untuk tabungan.
Simpanan beberapa juta rupiah di
bank itu, menurut Saijah, untuk jaga-jaga jika ajal
sewaktu-waktu menjemputnya. Saijah mengaku tidak ingin
merepotkan anak-anaknya ketika meninggal kelak. “Saya cuma minta tolong, saya
dikuburkan di kampung halaman saya di Blitar. Mungkin sewa ambulan sejuta, sewa
bus dua juta, sudah ada cukup di tabungan,” kata Nenek Saijah.
Selain tabungan di bank, Nenek Saijah bercerita, ia juga suka menyisihkan uang recehan hingga
kini sudah ada satu toples penuh. Kata dia, itu buat saweran ketika kerandanya
diusung nanti. Menurut Saijah, dia sudah merasa cukup
menjalani hidup. Dia mengaku sudah tak banyak lagi pengharapan, kecuali melihat
anak-anaknya hidup aman dan sejahtera.
Namun harapan itu yang membuat
dia terkadang waswas dan sedih. Rumah yang dia tinggali bersama dua orang anak
dan para cucunya itu disebut-sebut akan diambil alih Pemerintah Kota Surabaya
sebagai bangunan cagar budaya. Sementara itu, menurut Saijah,
rumah pengganti yang dijanjikan tak kunjung ada kejelasan.
Kepada Presiden Jokowi yang
menjadi pilihannya pada musim pemilihan umum lalu, Saijah
berharap tetap ada bantuan untuk anak, cucu dan cicitnya sepeninggalan dia
kemudian. Dengan sedikit malu-malu, dia juga berharap uang pensiun yang dia
terima bisa dinaikan. “Kalau bisa, ya, dinaikan, seratus-dua ratus (ribu) itu
akan sangat membantu,” kata dia seraya tersenyum.
Saijah
niscaya adalah gambaran para istri dan keluarga pahlawan kesuma bangsa yang
telah berjasa membangun dan mempertahankan negara dan bangsa ini. Kepdihan
hidup yang mereka derita adalah cerminan bahwa bangsa ini belum berhasil
mewujudkan negara sejahtera yang diidam-idamkan para pendiri bangsa. Bahkan,
tugas sederhana memakmurkan para keluarga pejuang saja rupanya belum mampu
ditunaikan.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, 10 November 2014
Keroncong, Sejarah Panjang Akulturasi Budaya
![]() |
| Foto: www.ads.natamedia.com |
Dalam bentuknya yang paling dikenal hari ini, musik keroncong hadir dari komposisi permainan sejumlah alat musik, yakni ukulele (cak dan cuk), biola, selo, flute, dan sejumlah instrumen modern lainnya. Musik keroncong biasanya bertempo lambat dengan tembang yang mendayu-dayu. Tak heran, remaja dewasa ini menganggap musik tersebut membosankan.
Penghargaan kaum
muda kini terhadap keroncong bisa jadi lebih besar andai mereka tahu sejarah
panjang lahirnya keroncong di bumi Nusantara. Sejumlah sejarawan musik Tanah
Air percaya keroncong lahir dari tradisi kesenian masyarakat Moor-Portugis
bernama fado yang dibawa para pelaut
mereka ke Nusantara pada Abad ke-16.
Kekalahan Portugis
dari Belanda pada 1648 telah menyebabkan Portugis terusir dari Tanah Malaka dan
Maluku yang mereka kuasai. Dalam kondisi tersebut, para budak-budak niaga
mereka, yang merupakan bangsa Moor (etnis keturunan Arab-Afrika di Portugal),
serta etnis India dari daerah Bengali, Malabar dan Goa, menjadi tawanan pihak
Belanda.
Oleh Belanda, para
budak tersebut dibawa dan ditahan di Batavia, sebelum akhirnya dibebaskan pada
1661. Para budak yang tak punya pilihan akhirnya menetap di Batavia, di sekitar
rawa-rawa Cilincing, lebih khusus di Kampung Tugu—tempat yang kemudian melahirkan
varian keroncong tugu.
Mereka hidup dengan
bercocok tanam dan berburu. Sesekali, ketika senggang, mereka memainkan
kesenian fado, atau dalam tradisi
bangsa Moor disebut Moresco, yakni tradisi bertutur dengan iringan musik.
Umumnya, cerita yang dibawakan berbicara tentang kesedihan. Sejak saat itu,
bermula dari Batavia, kesenian tersebut berakuluturasi dengan kebudyaan
Indonesia dan mendapatkan nama baru: keroncong.
Istilah keroncong
konon mengacu pada bunyi “crong” yang dihasilkan ukulele. Ada juga yang
mengangap istilah kerconong berasal dari kata kata Portugis ‘croucho’ (kecil),
kata yang digunakan Bangsa Portugis menyebut ukulele yang merupakan gitar dalam
bentuk kecil. Terlepas dari asal-usul namanya, keroncong terus menyebar ke
seluruh Indonesia, bahan hingga ke Malaysia, dan sangat populer pada awal Abad
ke-19.
Di daerah Solo, Jawa
Tengah, keroncong mendapatkan pengaruh dari kesenian Jawa, sehingga mulai
dimainkan dengan gamelan atau seruling bambu, begitu pun iramanya yang
mendayu-dayu sebagaimana musik Jawa pada umumnya. Akulturasi tersebut
melahirkan genre keroncong yang disebut langgam jawa, yang kemudian menjadi
cikal bakal lahirnya seni musik campur sari. Penyanyi keroncong legendaris yang
membawakan gaya ini, di antaranya adalah Waljinah.
Selain langgam jawa,
keroncong juga banyak memiliki gaya lain dan berpadu dengan berbagai alat musik
lain. Kelompok musik Koes Plus, misalnya menciptakan komposisi berjudul
Keroncong Pertemuan, yakni memadukan antar keroncong dan rock. Ada juga istilah
congdut, mengacu pada perpaduan antara keroncong dan musik dangdut yang
belakangan lebih digandrungi masyarakat.
Keroncong semakin
pudar sejak masuknya musik rock pada dekade 1950-an, serta genre-genre musik
baru dari luar yang masuk ke Indonesia setelah periode tersebut. Hari ini,
keroncong masih di mainkan oleh sejumlah kelompok musik, termasuk anak-anak
muda yang kembali tertarik terhadap kesenian tersebut.
Cara Keroncong
Menyapa Kaum Muda
![]() |
| Foto: www.spanel.server1. natamedia.com |
Bagi gernerasi muda
hari ini, musik keroncong boleh jadi dianggap sebagai kesenian dari masa lalu,
yang tersisa hanya untuk dinikmati kakek-nenek mereka. Jarang terdengar para remaja
berbondong-bondong mendatangi pertunjukan keroncong. Atau bisa jadi karena
keroncong sudah tak banyak lagi tampil di depan publik, utamanya di lingkaran
pergaulan anak muda.
Cerita miring
tersebut agaknya ingin dikikis sejumah akademisi Institut Kesenian Jakarta
(IKJ). Kamis malam, 19 Juni 2014, mereka menginisiasi sebuah pertunjukan
bertema “KRL, Keroncong, Rhytm and Light”, yang mengambil tempat di Bentara
Budaya Jakarta (BBJ), Jakarta Barat. Tak hanya menyuguhkan musik keroncong, KRL
menawarkan konsep pertunjukan eksperimental yang unik dan berhasil mengundang
decak kagum para hadirin.
Digelar di pelataran
terbuka, pertunjukan diawali dengan sebuah kejutan kecil. Begitu pengarah acara
memanggil para musisi, mereka yang ditunggu-tunggu hadirin tak datang dari
belakang panggung, melainkan dari kerumunan penonton. Tiga puluhan pemusik yang
didominasi wajah-wajah muda tampil ke panggung, membuat formasi orkestra yang
sudah ditata sebelumnya.
Di bawah pimpinan
Liliek Jasqee, komponis yang juga pengajar di Jurusan Seni Musik IKJ, KRL
menyuguhkan sejumlah komposisi gubahan mereka sendiri. Setiap nomor dikarang
dengan eskplorasi musik yang unik. Ada yang bergaya jazz, dengan sentuhan
permainan flute yang lembut, seperti pada lagu “Rindu”. Ada yang bertempo
dinamis didominasi permainan ukulele dan petikan kontrabas, seperti pada
tembang “Langgam Tsunami”. Ada pula suguhan harmonisasi keroncong dan orkestra
klasik dalam nomor berjudul “Keroncong Concerto”.
Sebagai bagian dari
keunikan konsep pertunjukan, setiap lagu dibawakan oleh penyanyi berbeda, yang
hadir bergantian dari balik panggung. Mereka terdiri dari penyanyi muda,
sejumlah nama yang sudah tersohor di dunia keroncong, seperti Tuti Maryati dan
Endah Laras, serta ada juga penampilan khusus musisi Singapura, Rudy Djoe.
Dalam beberapa jeda,
disuguhkan pemutara video dokumenter pendek bertema keroncong, perkembangan
keroncong hari ini, serta petikan-petikan pendapat para pelaku seni keroncong.
Selain itu, ada juga sejumlah kejutan-kejutan kecil yang dihadirkan ke dalam
pertunjukan. Dalam tembang berjudul
“Lumpia Semarang”, misalnya, tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam barisan
penonton. Sambil melenggak-lenggok, mereka menjajakan lupia di atas nampan yang
mereka bawa.
Dalam penampilan
tembang “Lumpia Semarang” tersebut, juga hadir secara tiba-tiba dua anak muda
berpenampilan hiphop memasukan musik rap dalam tembang mendayu tersebut. Sontak
aksi bagi-bagi lumpia dan kejutan musik rap tersebut mengundang tepuk tangan
dari para hadirin. Sang komponis Liliek Jasqee pun sempat beberapa kali
berganti kostum, termasuk mengenakan pakaian adat Jawa dalam tembang berjudul
“Gethuk Magelang”.
Liliek menutup
suguhan musik yang menghibur tersebut setelah lagu kesepuluh. Namun dari bangku
pentonton, beberap orang memaksa mereka tampil kembali. Liliek dan orkestranya
menyanggupi, penonton pun bersorak senang. Namun rupanya hal tersebut juga
bagian dari sekenario pertunjukan. Dalam persembahan lagu Jali-Jali yang
dimainkan, sejumlah hadirin berdiri dari duduknya, lalu menjadi paduan suara mengisi
penampilan tersebut. Itulah kreativitas yang sengaja disiapkan, dan terbukti
berhasil menjadi klimaks dalam pertunjukan.
Suguhan Keroncong,
Rhytm and Light tersebut sejatinya merupakan kolaborasi tiga mahasiswa
pascasarjana IKJ, yakni Liliek Jasqee di bidang musik, Rika Hindra di bidang
film, serta Koes Adiati yang berlatar belakang Ekonomi Manajemen. Dengan
kemampuan masing-masing, mereka bekerjasama atas dukungan IKJ dan BBJ untuk
menciptakan pertunjukan KRL tersebut. Di akhir pertunjukan, ketiganya tampil
memberikan salam penutup. Berdiri berjejer Koes Adiati, Rika Hindra, serta
Liliek Jasqee. Dari huruf depan nama merekalah rupanya pertunjukan digagas.
Pertunjukan
berdurasi sekitar dua jam tersebut dihadiri seratusan pengunjung. Selain orang
tua, sebagian penonton adalah remaja. Salah seorang dari mereka, Arum (20),
mengaku datang ke tempat pertunjukan tersebut karena diundang salah seorang
temannya yang juga turut tampil dalam orkestra. Arum mengaku terkesan dengan
pertunjukan keroncong pertamanya itu. “Saya
excited, ternyata keroncong yang
jadul bisa juga dibuat modern, jadi menarik,” ujar dia.
Selain Arum, ada
juga Shafira, siswi kelas 2 SMP, yang juga adalah putri Liliek Jasqee, komponis
dalam pertunjukan tersebut. Shafira bercerita, mula-mula mengenal keroncong
dari sang ayah, seperti remaja lain dia merasa ngantuk mendengarkan musik
tersebut. Tapi kesan tersebut kemudian berubah begitu dia mulai dijarkan cara
bermain musik dan menyanyikan keroncong.
Cat.:tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Mencuci Pakaian dari Zaman ke Zaman
![]() |
| Foto: pkmart.pk |
Mencuci pakaian merupakan salah satu budaya tertua dalam sejarah peradaban manusia. Sejak nenek moyang manusia mengenal sandang untuk menutupi tubuh dan auratnya, sejak itu juga mereka biasa membersihkan pakaian untuk menghilangkan kotoran dan bau yang menempel. Sebelum manusia mengenal teknologi mesin pencuci dan pengering dewasa ini, orang-orang terdahulu menggunakan berbagai teknik dan perlengkapan dalam membersihkan pakaian mereka.
Hampir semua bangsa di dunia mula-mula melakukan aktivitas mencuci di sungai, yang umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka memanfaatkan arus air untuk membersihkan noda-noda dan bau tak sedap pada pakaian mereka. Agar noda dan bau tersapu air lebih optimal, mereka mamanfaatkan bebatuan untuk menggilas kain-kain yang dicuci. Lalu, mereka menjemur pakaian-pakaian itu pada dahan dan ranting yang terkena sinar matahari.
![]() |
| Foto: invention.yukozimo.com |
Proses mencuci di sungai telah berlangsung ribuan tahun, bahkan masih bisa dijumpai di negara-negara berkembang hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Sementara di Eropa, selain memanfaatkan bantuan alam, sabun cuci mulai digunakan pada abad ke-16. Lemak, abu dan air seni merupakan beberapa bahan utama yang digunakan dalam pembuatan sabun ketika itu.
Bagi masyarakat yang jauh dari sungai, proses mencuci dilakukan dengan merendam pakaian dalam bejana yang dipanaskan di atas tungku. Setelah diangkat dari bejana, kain-kain yang dicuci dipilin dan dipukul-pukul dengan tongkat kayu untuk membersihkan kotoran, kemudian dibilas dengan air bersih.
Selain mencuci di sungai, sekitar abad ke-18 dan ke-19, di Eropa juga bermuculan rumah-rumah cuci bersama atau wash-house di sekitar pemukiman warga. Pada prinsipnya, fasilitas yang dibangun pemerintah tersebut memiliki dua kolam, yakni kolam tempat mencuci dan kolam untuk membilas bersih pakaian. Air yang mengaliri kolam biasanya berasal dari sungai atau mata air. Di tempat ini, para ibu tidak perlu lagi khawatir akan derasnya air sungai, serta terhindar dari sengatan sinar matahari karena terpayungi atap.
Bersamaan dengan munculnya budaya mencuci bersama, hadir sejumlah teknologi awal alat pencuci yang utamanya dimiliki oleh keluarga-keluarga mampu. Sejumlah model pertama mesin cuci diperkenalkan sejumlah penemu, di antaranya Jacob Christian Schaffer (Jerman) tahun 1752 dan Henry Sidgier (Inggris) pada 1782.
Mesin-mesin tersebut terbuat dari tabung kayu dengan rangka besi, di mana tuas digerakan oleh tangan untuk menguras rendaman cucian di dalam tabung. Namun demikian, untuk noda-noda yang membandel, mesin-mesin tersebut dinilai tidak lebih ampuh dibandingkan dengan mencuci dengan tangan.
Awal abad ke-19 dan abad ke-20, tercatat sejumlah nama peneliti yang mendaftarkan paten produk mereka. Sempat berkembang catatan sejarah yang menyebutkan Alva J Fisher asal Amerika Serikat (AS) sebagai penemu pertama mesin cuci listrik, yakni tahun 1908.
Namun kemudian, informasi tersebut banyak dibantah dan sejumlah nama lain dianggap sebagai penemu yang lebih awal. Di antaranya adalah James King pada 1851 dan Hamilton Smith pada 1858. Hingga hari ini, wacana penemu mesin cuci masih simpang siur dan menuai perdebatan. Karya Fisher dan sejumlah penemu mesin cuci lainnnya pada waktu itu apda dasarnya berupa tabung kayu dengan gerigi di dalam yang digerakan oleh motor listrik. Pada 1928, 913.000 unit mesin cuci tercatat terjual di AS. Pada 1932, jasa gerai cuci (laundromat) dengan sistem koin dibuka di Fort Worth, Teksas.
Baru selepas Perang Dunia II, pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, sejumlah pabrikan AS meluncurkan dan bersaing memasarkan mesin-mesin otomatis dengan model buka-tutup di bagian atas. Pada 1947, perusahaan Bendix Dulux mengenalkan model buka-tutup di bagian depan. Sejak saat itu, mesin cucui, mesin pengering, dan berbagai inovasi di bidang laundry terus berkembang hingga produk-produk mutakhir yang kita kenal hari ini.
| Foto: Helmy Chandra |
Laundry Koin, Menyongsong Budaya Mandiri
Lebih dari setengah abad berkembang di negara-negara Barat, teknologi laundry koin kini sampai juga di Indonesia. Mulai awal 2014, seorang pengusaha laundry di Jakarta memrakarsai berdirinya sejumlah gerai laundry koin yang dioperasikan secara swalayan. Digadang-gadang memiliki banyak kelebihan, laundry koin diprediksi segera membudaya di tengah masyarakat Indonesia.
Dari sang pengusaha, Helmy Chandra, saya mendapat banyak cerita tentang laundry koin dan perkembangan bisnis di bidang tersebut. Helmy bercerita, salah satu motivasinya memelopori bisnis tersebut karena konsep laundry koin terbukti berkembang tak hanya di negeri-negeri Barat, tetapi juga di negara-negar tetangga, seperti Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.
“Malaysia sudah lebih dahulu memulai sejak tiga tahun lalu. Di sana fasilitas seperti ini sudah sangat banyak dan membudaya,” Ujar Helmy, dijumpai di salah satu gerai miliknya di kawasan Depok, Jawa Barat.
Menurut Helmy, dibandingkan laundry sistem kiloan yang kini menjadi pilihan utama masyarakat, laundry koin memiliki sejumlah kelebihan. Menurut dia, beberapa kelebihan tersebu di antaranya adalah praktis, murah, higienis dan bersifat privat.
Dijelaskan Helmy, layanan laundry koin praktis karena tidak memerlukan waktu lama. Kata dia, hanya butuh waktu 1 hingga 1,5 jam untuk satu kali mencuci dan mengeringkan pakaian. Satu kali mencuci tersebut, lanjut dia, cukup dengan memasukan tiga hingga empat koin, tergantung jenis bahan pakaian yang dicuci. “Satu koin harganya Rp 10 ribu, maksimal satu kali mencuci enam kilogram. Jadi bisa dihitung, per kilogramnya jauh lebih murah dibandingkan dengan laundry kiloan,” ujar Helmy antusias.
Helmy menjelaskan, setelah dikeluarkan dari mesin pengering, pakaian tidak musti disetrika. Menurut dia, bahan-bahan pakaian sehari-hari, seperti kaos atau kemeja-kemeja tipis sebenarnya tidak perlu disetrika, dengan catatan pakaian-pakaian tersebut langsung dilipat.
Kata Helmy, yang biasanya membuat pakaian kusut adalah proses penjemuran di bawah sinar matahari yang menjadikan pakaian kaku dan tidak rapi. Namun, ia menambahkan, jika konsumen laundry kiloan belum merasa puas dan ingin menyetrika pakaiannya, fasilitas setrika bisa didapat dengan sedikit biaya tambahan. Proses menyetrika pun bisa dilakukan di gerai laundry kiloan.
Lalu menurut Helmy, laundry koin higienis karena konsumen mendapatkan mesin sendiri. Sehingga, kata dia, pakaian mereka tidak bercampur dengan milik konsumen lain. Helmy menjelaskan, di laundry- laundry biasa, pakaian beberapa orang pelanggan umumnya dicampurkan, sehingga sering terjadi pakaian konsumen tertukar.
“Di tempat laundry biasa, konsumen perempuan, misalnya, sering malu kalau mau mencuci pakaian dalam, apa lagi penjaganya mas-mas. Nah, di sini mereka bisa nyaman karena mencuci sendiri dan privasinya terjaga,” tutur Helmy.
Gerai Helmy tempat kami bertemu berada di sebuah apartemen, di sekitar kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok. Di tempat yang dia beri nama Laundry Cafe tersebut, terdapat sejumlah mesin cuci dan mesin pengering, yang beberapa di antaranya berukuran besar. Kata Helmy, mesin yang lebih besar untuk mencucui bed cover.
Di satu sisi, terdapat meja memanjang yang menempel pada dinding dilengkapi beberapa kursi. Di sudut, ada stan operator yang juga memajang makanan dan minuman instan. Dalam konsep Helmy, seperti yang dia kembangkan, fasilitas laundry swalayan bisa dibuat nyaman, agar selama mencuci, konsumen bisa mengerjakan banyak hal, dari mulai mengakses internet dengan fasilitas wi-fi gratis, atau makan minum sambil bersosialisasi.
Di gerai Laundry Cafe itu Helmy mempekerjakan dua orang staf. Seperti kami lihat, ketika itu mereka tampak sibuk merapikan pakaian-pakaian. Lalu Hemy bercerita, salah satu tantangan yang dia hadapi saat ini adalah merubah paradigma masyarakat yang biasa dilayani. Kadang, menurut dia, ada saja konsumen yang menitipkan pakaiannya, lalu mengambilnya kemudian waktu. Rupanya para pekerja yang saya lihat saat itu sedang menjalankan tugasnya, membantu para konsumen yang ‘nitip’.
“Tapi itu tidak masalah, ini fase transisi. Tidak semua begitu. Banyak juga yang suka nongkrong di sini, terutama mahasiswa. Semua kami lakukan bertahap, mobil juga tidak tiba-tiba matik, tapi manual terlebih dahulu, ” kata dia dengan nada guyon.
Beberapa gerai Laundry Cafe yang dibuat Helmy diakuinya hanya sebagai contoh. Karena menurut pria 40 tahunan itu, bisnis perusahaannya bergerak di bidang penyediaan mesin dan berbagai perlengkapan bisnis laundry, juga memberikan pelatihan-pelatihan bisnis laundry.
Setelah diluncurkan pada akhir Novemeber 2013, mesin-mesin laundry koin yang dia impor dari Amerika Serikat (AS) itu sudah banyak mendapatkan pesanan. Dalam cataan mereka, sudah ada 40 gerai yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. Helmy percaya, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat, sistem laundry swalayan akan populer dan membudaya.
Cat.: tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Gandrung, Seni Tari Berbalut Mitologi
![]() |
| Foto: musicamoviles.com |
Membicarakan gandrung tidak bisa hanya sebatas menyangkut kesenian tari. Latar belakang sejarahnya begitu pajang dan banyak bersinggungan dengan wacana politik, keyakinan, juga mitologi. Teori paling umum meriwayatkan gandrung lahir dari lingkungan masyarakat Suku Osing, warga Kerjaan Hindu Blambangan yang disebut-sebut sebagai penduduk awal Banyuwangi, Jawa Timur.
Tahun 1767, Blambangan yang berada dalam penguasaan kerajaan Mengwi, Bali, mendapatkan serangan besar-besaran dari balapasukan Belanda yang dibantu Mataram dan Madura. Upaya penaklukan itu telah mengobarkan perlawanan hebat dari rakyat Blambangan yang dikenal dengan perang Puputan Bayu pada 1771. Peperangan yang berakhir dengan kemenangan tenara Belanda pada 1772 tersebut, konon berlangsung sangat tragis. Sekitar enam puluh ribu jiwa rakyat Blambangan dikabarkan tewas, tertawan, hilang, hingga melarikan diri ke hutan-hutan.
Diriwayatkan, hanya sekitar lima ribu orang rakyat Blambangan tersisa, didominasi oleh anak-anak, janda, serta para orang tua. Mereka tersebar di desa-desa dan tempat persembunyian di hutan-hutan. Keadaan mereka sangat mengenaskan. Tak lama berselang, sejumlah pria Suku Osing memulai tradisi menari berkeliling ke desa-desa luar dengan berdandan sebagai perempuan.
Hal tersebut mereka lakukan untuk menyambung hidup, serta menyebarkan intrik-intrik terhadap penjajah Belanda. Warga desa yang mampu biasa memberi imbalan berupa beras atau hasil bumi kepada para penari gandrung. Oleh gandrung dan anggota kelompok penabuh musik, hasil tersebut lalu dibagi dengan para pengungsi yang hidup dengan derita berkepanjangan di hutan-huntan.
Meski perang telah usai, tradisi gandrung terus berkembang dengan mengalami sejumlah pergeseran konsep. Gandrung yang semula dimainkan laki-laki (gandrung lanang), kemudian punah dan digantikan para penari perempuan (gandrung wadhon). Catatan sejarah menyebutkan, tahun 1890 gandrung laki-laki lenyap dari Banyuwangi. Hal tersebut tidak terlepas dari desakan para pengajur Islam yang tidak menghendaki laki-laki berdandan seperti perempuan.
Selain merupakan nama kesenian yang dimainkan, istilah ‘gandrung’ juga merujuk pada diri sang penari. Penari gandrung perempuan pertama dikenal dengan sebutan gandrung Semi, yang pada 1895 masih berusia 10 tahun. Namun demikian, gandrung disebut baru benar-benar hilang pada 1914 setlah wafatnya Marsan, yang merupakan gandrung lanang terakhir.
Setelah dibawakan perempuan, gandrung berkembang sebagai seni hiburan dalam berbagai hajatan di desa. Gandrung biasanya dimulai sekitar pukul 21.00 dan berakhir menjelang subuh. Pertunjukan gandrung terbagi ke dalam tiga babak, yakni jejer, ngibing, dan seblang subuh. Jejer merupakan pembuka, di mana gandrung menembang secara solo. Dalam babak selanjutnya, ngibing, para tamu bergantian menari bersama sang gandrung.
Gandrung akan memilih pasangan menarinya, dengan mula-mula menarik orang yang paling dianggap penting dengan selendangnya. Pada kesempatan tersebut, tak jarang terjadi keributan karena para lelaki berebutan menari, serta tak jarang sebagian di antaranya dalam kondisi mabuk. Ketika itu gandrung akan mendapatkan saweran dari rekan dia menari.
Selanjutnya, babak seblang subuh adalah penutup. Temabang-tembang bertema sedih dilantunkan. Suasana mistis terasa pada bagian tersebut, di mana fase tersebut masih terkait dengan ritual seblang, yakni prosesi penyembuhan atau penyucian jiwa.
Koreografer sekaligus peneliti tari gandrung, Elly D Luthan menjelaskan, pada saat seblang subuh, biasanya para perempuan dan anak-anak akan datang. “Pada saat itu, gandrung akan meminta maaf kepada para perempuan, jika saja mereka terganggu karena suami-suami menari bersama dia,” ujar Elly, dijumpai seusai pertunjukan “Gama Gandrung”, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu, 11 Juni 2014.
Elly bersyukur, hari ini gandrung masih lestari di Banyuwangi, meskipun suasana mistis tidak terasa lagi. Selain tarian gandrung tradisional, menurut Elly gandrung juga banyak menginspirasi penciptaan tari kreasi kontemporer yang banyak dimotori anak-anak muda.
Tiga penari cantik itu memainkan tubuh dan
selendangnya dengan begitu gemulai. Berbalut pakaian tradisional dan mahkota
emas berpendaran, ketiganya menjadi primadona di antara para penari pengiring
yang melingkung di sekitar mereka. Namun meskipun berdandan dan bergaya
feminin, tiga primadona panggung itu terang adalah kaum pria. Mereka adalah
para gandrung lanang.
Pria-pria cantik itu membawakan tarian kreasi berlakon “Gama Gandrung”,
interpretasi atas sejarah tari gandrung dari Banyuwangi, Jawa Timur. Dikarang
koreografer muda Bathara Saverigadi Dewandoro, “Gama Gandrung” dipentaskan Rabu
malam, 11 Juni 2014. Pertunjukan bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta
Pusat.
Dalam bahasa Sanksekerta, kata ‘gama’ berarti ‘perjalanan’. “Gama
Gandrung” sendiri meriwayatkan rentang sejarah dan perkembangan tari gandrung,
kesenian yang hari ini menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. Cerita dimulai dengan
babak kelahiran gandrung, ketika sejumlah lelaki menari berkeliling desa demi
menyambung hidup. Tak hanya ‘mengamen’, para penari itu sekaligus menyebar
intrik politik terhadap pasukan Belanda yang telah memporak-porandakan
desa-desa mereka.
Pada perkembangannya, konflik dalam budaya
gandrung tak terhindarkan ketika sejumlah kalangan mengharamkan laki-laki
berdandan seperti perempuan. Maka babak baru gandrung lahir, di mana para
perempuan sesungguhnya yang membawakan tarian penghibur yang penuh energi
mistis itu. Namun para gandrung wadhon (penari gandrung perempuan)
tersebut juga tak luput mendapat cibiran. Sebagian orang menganggap mereka
perempuan sundal yang membuat kaum pria keblinger, tergila-gila.
“Gama Gandrung” dibawakan belasan penari,
laki-laki dan perempuan. Sebagian besar gerak adalah rekaan sang kreator,
dengan mengambil sejumlah bagian dari komposisi tari gandrung. Misalnya adalah egol
atau goyang pinggul, permainan kipas, serta permainan mengibas dan mebeberkan
sempur (selendang). Para penari keluar-masuk panggung membawakan berbagai
peran, termasuk sosok para prajurit kompeni, yang berhubungan dengan latar
sejarah lahirnya tari gandrung.
Bathara, sang koregrafer, memainkan peran
Marsan, sosok gandrung lanang (penari gandrung laki-laki) terakhir.
Sementara peran Semi, gandrung wadhon pertama, dimainkan khusus
oleh Cahwati, penari muda yang lebih dahulu bersinar di panggung kesenian tari
tradisional. Pergantian dua zaman gandrung, dari lanang ke wadhon,
divisualisasikan secara cantik dengan berpindahnya omprok, mahkota
gandrung, dari kepala Marsan ke kepala Semi. Lantunan tembang Banyuwangi
mengalun khidmat sekaligus penuh kegetiran, membuat perasaan sedih sekaligus
mencekam.
Tak hanya melalui gerak, cerita juga
dihantarkan lewat narasi dan tembang. Narasi terkadang dibawakan seseorang di
luar penggung, kadang juga oleh penari, utamanya tokoh Marsan. Tembang syahdu
dilantunkan, baik lagu rakyat Banyuwangi maupun lagu gubahan baru berbahasa
Indonesia. Penata musik, dalang Sri Waluyo, menghadirkan tak hanya aransemen
tradisional yang khas gandrung, tetapi juga memberi sentuhan musik kontemporer
melalui gitar listrik.
Panggung dan pencahayaan dirancang teatrikal.
Di sudut kanan, replika omprok besar berdiri dengan jaring-jaring
selendang terpancang ke segala penjuru. Ditembak lampu warna-warni, instalasi
tersebut menambah pesona pertunjukan.
Tentang Koreorafer
Bathara Saverigadi Dewandoro, sang koreografer
adalah remaja berusia 17 tahun. Pada usianya yang masih belia, Bathara
telah menjadi seniman tari muda yang bersinar. Sejumlah penghargaan dia terima
dari berbagai ajang perlombaan, baik di dalam dan luar negeri. Tak heran,
beberapa stasiun televisi Ibu Kota pernah secara khusus mengangkat
profilnya.
Bathara mewarisi darah tari dari kedua orang
tuanya. Ayahnya, Suryandoro, adalah seniman wayang orang dan penari senior
alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sementara sang ibu, Dewi
Sulastri, juga penari kenamaan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta. Keluarga tersebut kini mengelola lembaga seni tradisional Swargaloka
di Jakarta.
Menurut Bathara, proses penciptaan "Gama
Gandrung" berlangsung lebih kurang empat bulan. Dua bulan merupakan proses
pengumpulan bahan, yakni berbagai pengetahuan tentang gandrung Banyuwangi, dan
dua bulan merupakan proses penciptaan komposisi gerak.
Dijumpai seusai pertunjukan, pemuda kelas 2
SMA Angkasa 2, Jakarta Timur, degan fasih menceritakan sejarah dan motivasinya
mengangkat tema gandrung dalam pementasannya. "Saya suka tari gandrung,
dan saya berharap anak-anak muda hari ini paham sejarah tarian tersebut,"
ujar dia.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Jawa dalam Peta Teh Dunia
![]() |
| Foto: paryastrayudi.blogspot.com |
Membicarakan kolonialisme Bangsa Belanda di Nusantara tak mesti melulu tentang penderitaan rakyat. Banyak cerita menarik bisa ditelusuri dari catatan sejarah Belanda di tanah yang sekarang bernama Indonesia ini. Salah satu tema asyik untuk diperbincangkan adalah soal teh.
Dari seorang peminat sekaligus penulis tentang teh, Prawoto Indarto, saya menelusuri cerita mengenai seluk-beluk teh di masa Hindia Belanda. Suatu sore di akhir Mei 2014, pria 50 tahunan yang akrab disapa Pak In itu mengundang saya dan beberapa kawan minum teh di kedai Siang Ming Tea. Konon, kedai teh itu merupakan yang pertama di Jakarta. Ditemani sang pemilik kedai, Suwarni Widjaja, Indarto berbagi cerita dengan antusias.
Dia mengisahkan, sebelum abad ke-17, teh hanya dikenal di Asia Timur, terutama Tiongkok dan Jepang. Pada tahap selanjutnya, teh mulai dikenal dan digemari bangsawan di darata Eropa. Melihat prospek bisnis yang bagus, tahun 1610, Belanda memelopori perdagangan teh di Eropa hingga Amerika Serikat. “Mereka mengangkut teh dari China, lalu mengapalkannya melalui Jawa, dari pelabuhan Banten,” ujar pria beruban itu.
Beberapa puluh tahun, menurut Indarto, Belanda mendominasi pedagangan teh di Eropa. Namun, kata dia, monopoli Belanda kemudian menghadapi rintangan ketika Inggris yang mengoloni Tiongkok mendapat hak monopoli perniagaan teh. Hal tersebut mendorong Belanda untuk membuka perkebunan teh sendiri.
Sejak akhir abad ke-18, Belanda mulai melakukan percobaan menam teh di Tanah Jawa. Setelah menemui beberapa kali kegagalan, sekitar tahun 1827, Belanda sukses membudidayakan teh di Pulau Jawa, persisnya di daerah Wanayasa (Purwkarta) dan Raung (Banyuwangi).
Diceritakan Indarto, produksi masif teh di Pulau Jawa berlangsung semasa kekuasaan Gubernur Jenderal van De Bosch (1830-1870). Melalui politik tanam paksa (culture stelsel), teh menjadi salah satu komoditi wajib yang musti ditanam rakyat. Tahun 1833, 1,7 juta pokok teh berhasil di tanam di Jawa dan Sumatra. Pada 1835, 200 peti teh asli Pulau Jawa untuk pertama kali memasuki pasar Eropa dan diikutkan pada pelelangan di Amsterdam.
Dia melanjutkan, dalam tahap selanjutnya, teh asal Pulau Jawa menjadi salah satu komoditas besar di Eropa, selain teh dari perkebunan Tiongkok dan Jepang. Produksi teh Nusantara, khususnya Jawa, mulai menurun pascanasionalisasi perkebunan-perkebunan teh oleh pemerintah Indonesia di era kemerdekaan.
Menurut Indarto, posisi Indonesia hari ini terus merosot dalam peringkat negera eksportir teh. Tahun 2013, Indonesia hanya berada pada posisi ke delapan negara pengekspor teh terbesar. Indarto merasa prihatin, prestasi teh Jawa yang pernah menjadi pemain penting di dunia masa Hindia Belanda tidak mampu diteruskan bangsa Indonesia pascakemerdekaan.
Belakangan, dia mendengar pemerintah mengalami kerugian dalam bisnis teh dan berencana melakukan alih fungsi lahan besar-besaran. “Jadi kita cuma maju tahunnya aja, prestasinya enggak. Ini gimana, coba?” Seloroh pria humoris itu.
Sejumput Keakraban di Kedai Teh
![]() |
| Foto: Catur Guna/wisataseru.com |
Setiba di Mangga Dua Squere, Jakarta Utara, berbegas saya memacu langkah. Jarum arloji menunjukan saya bakal sedikit terlambat tiba di pertemuan itu. Menyibak hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, setelah menanyai satu-dua orang, saya temukan juga tempat yang dicari: kedai teh Siang Ming Tea.
Diskusi kecil tentang teh tampaknya sudah berlangsung. Kedatangan saya sejenak memotong percakapan mereka. Duduk melingkari meja kayu, hadir di sana Prawoto Indarto atau akrab disapa Pak In, seorang pencinta dan dokumentator teh, ada Ibu Suwarni Widjaja, pemilik kedai, serta dua rekan lainnya. Atas undangan Pak In dan Bu Suwarni, sore pada akhir Mei 2014, saya hadir di sana.
Bu Suwarni menuangkan untuk saya teh pada cangkir keramik seukuran sloki. Semua dia lakukan dengan gerakan yang lembut. Alih-alih mengikuti percakapan, perabotan minum teh yang ada di meja justeru lebih menyita perhatian saya. Dua buah poci diletakan pada alas kayu berceruk. Satu poci terbuat dari keramik, yang lainnya terbuat dari tanah liat. Kayu berceruk itu memiliki saluran pembuangan di salah satu sudutnya. Saluran itu mengalirkan tumpahan teh melalui selang ke guci keramik yang diletakan di bawah meja.
Setiap kali kami meneguk teh yang terhidang dalam cangkir, Bu Suwarni mengisi lagi cangkir tersebut. Cerita Pak In yang ahli sejarah teh itu begitu menarik. Dialah juru cerita sore itu. Setelah merampungkan beberapa buku tentang teh, mantan praktisi industri periklanan itu mengabarkan tengah menyiapkan buku khusus tentang Boscha, saudagar teh Belanda yang dianggapnya berdedikasi terhadap pembangunan masyarakat dan ilmu pengetahuan pada zaman itu.
Melalaui komputer jinjingnya, Pak In lalu mengajak kami menonton film dokumenter teh yang menjadi koleksi terbarunya. “Ini film dibuat tahun 1835 oleh seorang sutradara Hollywood. Di situ digambarkan perkebunan Malabar di Pangalengan yang dibangun Bosscha, dari mulai proses pembukaann hutan, produksi hingga pengapalan teh Jawa ke seluruh dunia,” ujar Pak In sambil terpaku ke layar komputer, mencari berkas film yang dia maksud.
Kedai Siang Ming Tea, tempat saya bernicang-bicang itu berukuran memanjang sekitar 8 x 4 meter per segi. Desainnya bergaya minimalis, dengan dominasi warna-warna teduh. Sejumlah meja-kursi tertata dengan cantik. Sementara pada dindingnya, tergantung hiasan-hiasan kaligrafi aksara China. Dua orang pramusaji melayani beberapa pengunjung yang datang.
Puas ‘menginterogasi’ Pak In, tanpa menyia-nyiakan waktu kami mengajak Bu Suwarni ke meja yang lain untuk menggali informasi tentang kedai yang dia kelola itu. Perempuan keturunan Tionghoa itu berbagi cerita dengan senang hati. Kata dia, salah satu motivasi besar yang mendorong kecintaannya terhadap teh adalah rasa sedihnya ditinggal sang ayah yang wafat di usia muda. Dia percaya, teh adalah jalan ampuh untuk menjaga kesehatan dan ketenangan jiwa.
Tahun 1995, dia mendirikan Siang Ming Tea, yang sekaligus merupakan kedai teh pertama di Jakarta ketika itu. Sempat hadir di bebera tempat, usahanya turut terimbas kerusuhan berbau rasial pada 1998. Beberapa kedai dia tutup. Kini, tinggal tiga kedai tersisa. Selain di Mangga Dua Squere, dua lagi dengan ukuran yang lebih kecil ada di Mal Kelapa Gading dan Mal gandaria.
Bagi Suwarni, yang juga seorang pengajar tatakrama perjamuan teh ala China dan Jepang, teh bukan lagi sekedar minuman. Bagi dia, teh adalah bagian dari jalan menyempurnakan hidup. “Dalam teh kita diajarkan perdamaian dan harmoni. Sehingga seorang peminum teh umumnya bersikap santun dan terpelajar. Itulah kenapa, seorang peminum teh akan merasakan kemudahan dalam pergaulan, katakanlah dalam urusan bisnis,” ujar dia.
Sempat kami tertegun ketika ibu yang tampil cantik dan anggun itu mengaku usianya sudah lebih dari 50 tahun. Lalu dari Pak In, kami diberi tahu bahwa dia sudah punya cucu. Suwarni begitu percaya, teh adalah obat yang mujarab untuk menjaga kesehatan.”Teh hitam pu erh, misalnya, baik untuk menekan kolesterol. Kalau teh hijau, itu sebagai antioksidan,” ujar, menceritakan berbagai macam jenis the dan khasiatnya.
Kedai Siang Ming Tea tak hanya menyajikan teh, tapi juga sejumlah hidangan, seperti mi kuah. Kata Suwarni, makanan itu hanya pendamping saja. Selebihnya, dia ingin teh yang dominan. Untuk satu kali minum teh, lengkap dengan perabotan dan mendapat pengarahan, Siang Ming Tea memasang tarif Rp 30 ribu hingga 75 ribu. Untuk harga tersebut, pengunjung sudah bisa mencicipi teh hitam Pu Erh dengan usia penyimpanan minimal 5 tahun.
Bukan sekedar pebisnis kedai teh, terlihat memang Suwarni adalah seorang pencinta teh. Pada sebuah etalase di kedainya, dia memejang koleksi poci-poci teh unik. Di bagian belakang, tertata juga berbagai jenis teh dalam berbagai kemasan. Dua koleksi langka miliknya, teh pu erh produksi 1945 dan mangkuk teh peninggalan Dinasti Sung abad pertengahan tidak pernah berencana dia jual. “Saya berharap, mudah-mudahan suatu hari saya punya museum untuk menyimpan benda-benda itu,” ujar dia.
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Kopi Jawa di Takhta Dunia
![]() |
| Foto: mic.com |
Organisasi Kopi Internasional (ICO), dalam laporan tahun 2013, melansir dafatar peringkat produsen kopi terbesar di dunia. Dokumen terebut menempatkan Brazil di urutan pertama, disusul Vietnam dan Kolombia, baru kemudian Indonesia pada peringkat ke-4. Jika Brazil tahun tersebut tercatat memproduksi 2,5 juta ton, Indonesia terpaut jauh dengan hanya menghasilkan 411 ton.
Cerita berbeda terjadi pada abad ke-18. Ketika itu, kopi dari Tanah Jawa, pulau terpadat di Indonesia hari ini, menguasai pasar dunia. Lebih dari itu, negara-negara yang hari ini menjadi penghasil kopi terbesar, termasuk Brazil, Kolombia, dan Vietnam, semua mendapatkan benih kopi yang berasal dari Pulau Jawa. Kopi tersebut dikenal di dunia sebagai java coffee.
Berbagai fakta yang tak banyak diketahui soal java coffee dirangkum dalam buku “The Road to Java Coffee”. Buku tersebut ditulis Prawoto Indarto, seorang peminat kopi, alumni Jurusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menghadiri peluncuran buku tersebut pertengahan Mei 2014, saya mencatat sejumlah cerita menarik dari Prawoto.
Prawoto mengisahkan, kopi sebagai minuman pertama kali ditemukan di Etiopia, lantas berkembang di Timur Tengah sebagai minuman kaum sufi dan para sultan. Meluasnya popularitas kopi membuat orang-orang Eropa melirik prospek perniagaan minuman herbal tersebut di benua mereka. Sejak semula, para pedang Belanda-lah yang menjadi pionir bisnis kopi.
Seiring dengan terbukanya penguasaan Belanda atas Nusantara, pada 1696, mereka mendatangkan bibit kopi dari Malabar di India ke Tanah Jawa. Sayang, percobaan pertama mereka gagal. Baru pada uji coba ke dua mereka menjumpai keberhasilan, berkat bibit yang didatangkan dari Ceylon (Srilanka) pada 1699.
Perkebunan kopi Belanda di Pulau Jawa mula-mula dikembangkan di daerah Batavia (sekarang Jakarta). Namun kemudian kawasan Priangan Barat-lah yang memberikan hasil signifikan. Tahun 1711, 400 kg kopi yang dibawa VOC dari Cianjur memecahkan rekor penjualan di Balai Lelang Amsterdam. Sejak saat itu, java coffee merajai pasar dunia, hingga pada 1726, kopi dari Tanah Jawa menguasai 90 persen total perdagangan kopi di Amsterdam, yang kala itu menjadi sentra pergangan kopi dunia.
Popularitas kopi merebak di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-18, seiring berkembangnya sentimen anti-Inggis yang kala itu menghegemoni mereka. “Rakyat Amerika kemudian menolak segala sesuatu yang berbau Inggris, termasuk teh yang menjadi minuman utama dalam pergaulan sosial Bangsa Inggris. Mereka berpindah pada kopi,” ujar Prawoto.
Menurut Prawoto, masyarakat AS lalu menjadi konsumen kopi terbesar di dunia, terutama kopi dari Tanah Jawa. “Namun pada pada akhir abad-18, terjadi krisis kopi di Jawa akibat hama yang menyerang perkebunan kopi. Perkebunan kopi Jawa hampir habis. Dari sana masuk ke AS produk-produk dari Amerika Latin,” ujar dia.
Meski begitu, java coffee kadung populer di tengah masyarakat AS. Saking terkenalnya kopi jawa, marak pemalsuan merek dagang yang yang mengatasnamakan java coffee ketika pasokan kopi dari Tanah Jawa anjlok. Kondisi tersebut sampai-sampai memaksa pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Pertanian mereka, pada 1906 mengeluarkan pernyataan untuk melindungi konsumen. “Mereka menyatakan, hanya kopi dari Pulau Jawa yang boleh dipasarkan dengan nama java coffee,” kata Prawoto.
Menurut Prawoto, java coffee sangat memasyarakat di Amerika Serikat ketika itu. “Sampai-sampai mucul istilah ‘no java no work’, yang artinya, tak ada kopi tak akan kerja,” kata dia.
Sejarah Java Coffee dalam Buku dan Poster
![]() | ||
Foto: the5marketeers.wordpress.com
|
Sudah sejak lama kopi sangat digemari penduduk Bumi. Konon, hanya air putih saja yang mampu mengalahkan kopi dalam segi popularitas dan kuantitas konsumsi. Di tanah air, seperti juga di belahan dunia lain, kopi telah menjadi budaya dan bahasa pergaulan. Sayang, tak banyak orang Indonesia tahu, mayoritas rakyat dunia pada abad ke-18 meminum kopi dari Tanah Jawa. Kopi itu terkenal dengan sebuatan java coffee, merek dunia yang tetap bergengsi hingga hari ini.
Cerita panjang-lebar soal java coffee kini terbit dalam buku berjudul “The Road to Java Coffee”, ditulis Prawoto Indarto, seorang mantan direktur kreatif sebuah biro iklan yang memiliki minat terhadap kopi. Buku hasil riset panjang tersebut merekam sejarah, mulai dari datangnya benih kopi ke Pulau Jawa bersama Belanda, hinga berbagai cerita minor yang unik dan mencengangkan.
Beberapa fakta menarik dari buku tersebut kemudian dinukil, lantas dikemas Prawoto dalam bentuk puluhan poster iklan layanan masyarakat. Bersamaan dengan diskusi buku “The Road to Java Coffee”, poster-poster tersebut dipamerkan dalam tema “Ada Jawa Ada Kopi”. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, pertengahan Mei 2014, acara diskusi buku dan pameran, di antaranya dihadiri para praktisi bisnis kopi dan perwakilan sejumlah instansi pemerintah.
Kata Prawoto, gagasan melakukan studi atas java coffee bermula ketika dia melakukan penelitian kecil soal kopi ketika masih bekerja di bidang periklanan. Saat itulah dia menemukan istilah java coffee dan menjumpai berbagai fakta hebat yang membuat dia semakin tertarik. Sebagai contoh, dia berasumsi, kopi dari Tanah Jawa punya andil dalam revolusi Perancis.
Kata Prawoto, Voltaire, filsuf yang sering dianggap salah satu sosok sentral dalam Revousi Perancis ternyata adalah salah satu penggila kopi. Menurut Voltaire, secangkir kopi, selain memberikan kenikmatan, juga menstumulus gelombang syaraf otaknya untuk melahirkan ide demokrasi modern.
"Ketika dia mengungkapkan hal tersebut pada akhir abad 18, ketika itu 90 persen kopi di di Amsterdam yang merupakan sentra perdagangan kopi dunia berasal dari Tanah Jawa. Jadi kemungkinan besar dia meminum kopi dari Tanah Jawa," ujar Prawoto.
Selain Revolusi Perancis, kata Prawoto, persis ketika java coffee berjaya, terjadi migrasi konsumsi teh di tengah masyarakat Amerika Serikat. Hal tersebut, menurut dia adalah bentuk perlawanan rakyat Amerika Serikat terhadap dominasi budaya kaum kolonial Inggris. Java cofee ketika itu menjadi merek yang sangat populer di AS, jauh sebelum mereka memiliki brand Starbuck yang popular hari ini.
Penyusunan buku setebal 120 halaman art paper dengan sampul hardcover tersebut disponsori oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI), lembaga standarisasi dan sertifikasi kopi yang terafiliasi secara internasional. Ketua AKSI Agam Lehman Pahlevi, dalam sambutannya berharap, Prawoto bisa melanjutkan penelitian dan dokumentasi, tak hanya untuk Java Coffee, tapi juga unutk kopi-kopi dari tanah Nusantara lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Agam juga bertindak sebagai pembicara, mendampingi Prawoto.
Sejarah dan berbagai fakta unik soal Java Coffee yang sisampaikan Prawoto juga bisa ditemui di ruang pameran dalam bentuk-bentuk poster. Menghadirkan berbagai foto lawas, termasuk gambar-gambar perkebunan dan para petani kopi di Pulau Jawa, posoter-poster tersebut begitu memanjakan mata serta memicu penikmatnya menghayalkan kehidupan di Pulau Jawa satu-dua abad silam.
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)













