Ragam Seni Lakon Petani

Foto: beritadaerah.co.id
Petani dan alam pedesaan adalah jati diri dan wajah Indonesia. Dari gerak laku petani di alam desa, lahirlah nilai-nilai dan ekspresi budaya yang kita warisi hari ini. Sayang, pergeseran tatanan sosial membuat bangsa ini gagap dan semakin kehilangan identitas. Di hadapkan pada kondisi tersebut, sebagian kecil orang kini tengah bekerja keras merawat, bahkan menggali kembali kultur petani yang telah, atau nyaris hilang dari tengah masyarakat.
Mengangkat tema “Daulat Para Jagoan”, lembaga Bentara Budaya Jakarta (BBJ) menampilkan empat ragam seni tentang petani awal Juni 2014. Keempat bentuk kesenian tersebut, yakni drama tari, lukisan, lukisan kaca, dan wayang hama, mengeksplorasi nilai dan budaya petani, dipersembahkan oleh pekarya yang merupakan maestro di bidang masing-masing.
Bukan sekedar mempertontonkan seni, hajatan tersebut secara khusus mengangkat kisah perjuangan petani dalam memperjuangkan kemandirian atas pupuk, obat, dan benih. Beberapa orang petani yang bergiat dalam Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, didaulat untuk berbagi kisah. Melengkapi cerita para petani tersebut, dipamerkan juga sejumlah instalasi berbagai perlengkapan aktivitas mereka sehari-hari.   
Bertempat di kompleks BBJ, kawasan Palmerah, Jakarta Pusat, kegiatan yang berlangsung sepekan lebih itu dibuka dengan suasana meriah dan artistik. Drama tari dengan lakon “Lesungku” dipentaskan oleh Sanggar Tari Mulya Bhakti asal Indramayu, asuhan koreografer dan dalang perempuan Wangi Indriya.
Drama tari tersebut digali Indriya dari tari tradisi Grombyangan yang kini sudah hampir hilang, bahkan di daerah asalnya Indramayu. Berkisah tentang suasana desa ketika gerhana bulan, “Lesungku” dimainkan 20-an penari, perempuan dan laki-laki. Kaum pria tampil mengenakan baju pangsi hitam-hitam dan berikat kepala, sementara  para wanita berbusana kebaya dengan kain melilit pinggang.
Diiringi ketukan lesung dan tetabuhan alat-alat musik bambu dan tembang berbahasa Jawa Indramayu, empat orang remaja putri bercaping melenggak-lenggok di atas panggung. Dalam beberapa bagian, tetabuhan lesap digantikan alunan seruliing, menyeruakan suasana purba yang terasa mistis.
Dikisahkan, malam tiba-tiba gelap. Bunyi kentongan bertalu-talu, diikuti masuknya sejumlah pria ke atas panggung. “Telah terjadi gerhana, bulan di makan Betara Kala”. Begitu pergunjingan yang terjadi di antara mereka. Salah seorang dari mereka lalu tersadar bahwa istrinya tengah mengandung. Tergesa dia pulang menuju rumahnya.
Setiba di rumah, sang istri langsung dia suruh masuk ke bawah ranjang, sementara si lelaki menaburkan abu di atas tempat tidur. Begitulah sang koregrafer mengangkat sepenggal kepercayaan lokal ke atas panggung. Didukung oleh tata panggung yang artistik, dikelilingi oleh tanaman padi menguning serta orang-orangan sawah, penonton diajak merasakan suasana kehidupan leluhur pada zaman lampau.
Sementara itu, kesenian lain disuguhkan untuk publik di ruang pameran. Ada koleksi lukisan-lukisan kaca karya maestro seni lukis kaca asal Cirebon, Rastika. Sejalan dengan tema besar acara, sejumlah karya mengangkat tema petani yang diramu dengan kisah dan visualisasi dunia pewayangan.
Karya berjudul “Bima Meluku” (cat minyak pada kaca) menggambarkan kesatria Bima tengah membajak sawah bersama dua ekor kerbau berwarna merah muda, dengan latar belakang gunung biru dan mentari yang mengintip dari balik awan. Termasuk karya “Bima Meluku”, lukisan-lukisan Rastika yang ditampilkan sangat memikat, dengan warna dan komposisi gradasi yang memanjakan mata.   
Dua jenis karya lainnya, puluhan lukisan karya perupa Yogyakarta Herjaka HS, serta ‘wayang hama’ karya perupa Magelang Sujono, juga tidak kalah menariknya. Karya-karya Herjaka mengangkat tokoh Dewi Sri, sang dewi pelindung tanaman dalam bentuk karakter wayang. Sementara itu, ‘wayang hama’ karya Sudjono merupakan eksperimen atas rupa-rupa hama, semisal kinjeng, kepik, gasir, yang diangkat dalam bentuk wayang.

Kisah Para Petani Jagoan dari Indramayu
Foto: fao.org
Awal Juni 2014, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) punya hajatan unik bertema “Daulat Para Jagoan”. Sejumlah seni yang hendak ditampilkan, termasuk drama tari dan lukisan kaca, disebut-sebut hanya dipasang sebagai pendamping. Banyak hadirin, termasuk wartawan, datang membawa rasa penasaran. Barulah semua terang begitu Direktur BBJ Hariadi Saptono memberikan sambutan.
Rupanya kegiatan tersebut mengetengahkan isu soal kultur dan perjuangan petani. Sebuah komunitas petani padi asal Indramayu, Jawa Barat, yakni Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) diboyong ke Jakarta untuk berbagi cerita. Menurut Hariadi, pihaknya terkesan dengan keberhasilan kelompok petani tersebut dalam mengelola pertanian secara mandiri. Termasuk menciptaan pestisida alami, pupuk alami, serta penemuan berbagai varietas benih baru.
Hadir mewakili teman-teman mereka di desa, enam orang petani diminta tampil ke atas penggung. Pentolan mereka adalah Warsyiah, lelaki 57 tahun, asal Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu. Pria yang hanya tamat sekolah dasar tersebut menjadi salah satu motor dalam menggalang gerakan pertanian mandiri di lingkungan Kabupaten Indramayu dan sekitarnya.
Bermodal pengetahuan sekedarnya yang didapat dari program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Tanaman (SLPHT) yang diselenggarakan Bappenas pada tahun 1990-an, Warsiyah memulai eksperimennya. Ia dan sejumlah kawannya alumni program tersebut dengan tekun melakukan berbagai penelitian soal tanam-menanam padi.
Sekitar periode 1998, keberhasilan mereka meramu iinsektisida dan pupuk organik menguatkan kepercayaan diri mereka untuk melakukan lebih banyak percobaan. Saat itu, Warsiyah dan kawan-kawan sukses mengoplos kecubung, kencing sapi dan kencing kambing untuk insektisida, serta limbah buah-sayur dan kotoran sapi untuk pupuk organik. Sejak saat itu, berbagai bahan lain semakin banyak ditemukan untuk menciptakan bermacam pestisida juga pupuk yang ampuh. Hal itu membuat mereka berhasil meninggalkan sama sekali pestisi dan pupuk kimia.
Tahun 2002 Warsiyah dan 40-an anggota IPPHTI Indramayu mendapat kesempatan mengikuti Sekolah Pemuliaan Tanaman Parsitipatoris (SPTP). Program tersebut difasilitasi LSM internasional, Farmer’s Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (Field). Dari sana, Warsiyah dan rekan-rekan mendapat pengetahuan soal silang-menyilang padi untuk menemukan varietas baru. Sejak saat itu mereka berhasil memproduksi varietas padi baru, bahkan menemuakan kembali jenis-jenis padi lokal yang banyak dilupakan.
Dengan tulus, para petani tersebut menyebarkan ilmu bertani kepada sesama petani, tanpa pernah menuruti nafsu serakan untuk menguangkan hasil-hasil penemuan mereka. Dalam perjalanannya, perjuangan menegakan kemandirian kultur bertani yang digalakkan Warsiyah dan rekan-rekan tidaklah mudah.
Para bandar pestida, pupuk, dan benih menjadi penentang yang hebat bagi gerakan mereka. Alih-alih membela, pemerintah setempat tak jarang malah menjadi agen-agen perusahaan sarana produksi pertanian yang turut menekan mereka. Namun Warsiyah dan rekan-rekannya tetap teguh di jalan mereka untuk mewujudkan upaya kemandirian bertani lewat cara yang alami dan sederhana.
Keberhasilan komunitas petani tersebut dalam membangun kultur pertanian mandiri mendapat apresiasi dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) PBB. FAO menganggap IPPHTI sebagai slah satu kelompok petani yang berhasil mengembangkan paradigma petani baru yang siap mengantisipasi perubahan iklim dan pemanasan global.

Karena kesungguhannya, Warsyiah yang dianggap paling cakap di antara kelompok lainnya, mulai November 2013 terpilih menjadi salah satu penyuluh pertanian FAO. Warsiyah kini mengemban misi mendidik para petani di berbagai daerah untuk beralih pada model pertanian yang aman dan ramah lingkungan. Kelompok-kelompok binaan Warsiyah yang berjumlah 25-27 orang sudah tersebar di berbagai desa di Indramayu, bahkan hingga ke luar kota. 

Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014

POSTED BY
DISCUSSION 0 Comments

Kanvas Protes Yayak Yatmaka


Foto: goodhousekeeping.co.id
Tiga bocah perempuan itu, dua di antaranya bahkan tampak belum genap sepuluh tahun. Tapi masing-masing mereka sudah menggendong bayi, terlihat begitu biasa tak ubahnya para ibu. Di jalanan kota-kota besar, seperti Jakarta, pemandangan seperti itu mungkin sudah biasa. Para bocah peminta-minta itu mematut diri agar terlihat menyedihkan, tak lain demi mendapat belas kasihan para tuan-nyonya bermobil. 
Sebagian kita mungkin risih melihatnya, ada juga yang tidak peduli. Bagi Yayak Yatmaka, si pelukis sepuh yang tetap radikal itu, kenyataan tersebut benar-benar mengusik jiwanya. Dia pun lantas mengabadikan kisah para bocah penggendong bayi di atas pada kanvasnya, lantas memberinya judul “Pemburu Jendela Mobil Mewah”.  Dua pekan pada awal Mei 2014, bertempat di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Selatan, Yayak menggelar pameran tunggal bertema “Anak dan Perempuan Perkasa”.

Berbagai potret sosial seputar anak dan perempuan pinggiran dihadirkan secara realis. Ada dua orang ibu terbungkuk memikul masing-masing sekarung kubis dan wortel. Ada seorang nenek bersepeda ontel, menopang setumpuk keranjang anyaman bambu di kepalanya. Ada Anak pemecah batu, anak pembuat grabah, anak menjinjing tandan sawit, dan masih banyak lagi. Semua gambar itu, tak pelak adalah kritik sosial yang nyaris tanpa metafor.   

Berkunjung ke pameran Yayak beberapa hari lalu, beruntung saya bertemu dengan sang pelukis. Seniman yang terkenal ramah itu menyapa kami dengan hangat. “Selamat datang, silakan-silakan,” ujar dia sambil menganjurkan tangan, menyilakan saya melihat-lihat.

Kata sang pelukis, gambar-gambar di atas kanvas itu bukan cerita rekaan atau buah imajinasinya. Menurut Yayak, semua diambil dari foto-foto yang dia jumpai di berbagai media, dari mulai surat kabar, majalah, hingga internet. Potret-potret getir anak dan perempuan itu dipilih dengan pertimbangan keterwakilan golongan sosial. Ada perempuan petani, perempuan buruh, anak miskin perkotaan, anak dari suku bangsa minoritas, dan masih banyak lagi.  

Kata Yayak, sengaja dia mendasarkan gambar-gambarnya pada foto agar dia memiliki daya kritik yang kuat. “Ini fakta, tak terbantahkan lagi. Mau bilang apa lagi pemerintah,” ujar dia dengan nada tinggi.

Sejak masa Orde Baru, Yayak memang dikenal sebagai juru kritik hebat terhadap penguasa. Sebelumbya, Yayak dikenal karena kekhasan karikatur bertema orde baru, serta gambar-gambar perjuangan buruh dan petani. Sekarang, Yayak menawarkan permenungannya mengenai nasib anak dan perempuan marjinal. 

Kata dia, tema anak dan perempuan dia pilih karena dua golongan tersebut merupakan korban pertama dari setiap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak. Namun demikian, kata dia, selain bentuk kritik, karya-karya yang dia suguhkan juga ingin menyampaikan pesan. Bahwa di tengah himpitan berbagai kesulitan, anak dan perempuan marjinal itu hadir sebagai pejuang gigih untuk kemanusiaan. 

Dibuka secara khusus oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, pameran Yayak ramai mendapat kunjungan. Diterangkan Yayak, seluruh hasil penjualan lukisannya itu akan dia gunakan untuk menjalankan Padepokan Neng Ning Nung Nang, lembaga pendidikan yang dia dirikan di Yogyakarta. 

Yayak Yatmaka, Pengabdian Sepanjang Usia
Foto: yayak-yatmaka.blogspot.com

Di kalangan kaum gerakan pro-demokrasi, nama Yayak Yatmaka sudah di kenal sejak lama. Lewat berbagai talenta seninya, dari mulai ganbar, musik, hingga teater, Yayak membela kaum sosial yang tertindas serta lantang menyuarakan kritiknya terhadap penguasa. Sejak kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1977, Yayak sudah terlibat berbagai aktivitas pengorganisasian rakyat. Kini, menjelang enam puluh tahun usianya, pria humoris kelahilaran Yogyakarta 1956 itu masih teguh dengan jalan perjuangan sosial yang dia tempuh.

Dua pekan pada awal Mei ini, Yayak kembali menggelar pameran lukisan tunggal, mengangkat tema “Anak dan Perempuan Perkasa”. bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pameran tersebut menampilkan berbagai gambaran sosial anak dan perempuan pinggiran. Kepada saya, Yayak berbagi cerita seputar pameran teerbarunya itu, serta sejumlah kisah menarik soal gagasan dan perjalanan hidupnya. 

Kata dia, ide mengangkat tema anak dan perempuan dimotivasi oleh seorang kawannya. Kata Yayak, sang teman memberi saran, agar karya-karya lukisnya jangan terlalu frontal seperti sebelum-sebelumnya, agar lebih bisa diterima publik. Mereka yang akrab dengan karya-karya seniman sepuh itu sangat tahu bagaimana gambar-gambar Yayak. Karya dia umumnya karikatif, dengan tanpa tendeng aling-aling menggambar para penguasa dengan wajah-wajah monster dan metafor-metafor keras lainnya.  

Yayak bercerita, kemudian dia merenungkan saran itersebut. Dia pun merasa, saran tersebut sejalan dengan kegelisahan yang dia rasakan soal nasib anak dan perempuan di Indonesia. Menurut Yayak, negara hari ini telah berlaku inkonstitusional. Berbagai peraturan tidak dijalankan, termasuk Pasal 34 ayat 1. “Katanya fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, mana buktinya?” Ujar kawan Widji Thukul itu.

Selain anak-anak yang terlantar di jalanan, dia juga mengaku sangat prihatin terhadap maraknya kejahatan seksual terhadap anak. “Itu kegagalan pemerintah. Mereka gagal mendidik orang dewasa,” Kata Yayak, seraya tertawa. 

Menurut Yayak, setiap anak berhak bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. Namun sayang, kata dia, sistim  pendidikan Indonesia hari ini lebih banyak mencetak orang-orang gagagal daripada melahirkan genarasi emas penerus bangsa. Mengekspresikan ketidak puasannya terhadap tatanan pendidikan di Indonesia saat ini, Yayak hari ini mengelola lembaga pendidikan yang dia berinama Padepokan Neng Ning Nung Nang. 

Nama yang terdengar ganjil tersebut kata dia merupakan gagasan pendidikan Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni Ning, berarti ‘hening, Neng, berarti diam, Nong adalah aksi dan Nang adalah menang. Di Yogyakarta, kata Yayak padepokan tersebut dihidupi oleh 170 orang guru relawan, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk kawan-kawannya dari Jerman, Perancis, dan Austria. 

Kata Yayak, tempat pendidikan itu mereka buat senyap, di tengah lingkungan alam yang masih asri. Kehiningan itu yang menrut dia akan efektif mendukung terjadinya transfer ilmu pengetahuan. Yayak melanjutkan, di sana para guru tak hanya mengajar, tapi juga berkarya. Mereka didorong untuk membuat berbagai buku panduan. 

“Buku-buku panduan praktis itu adalah bentuk berbgai ilmu. Itu yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Panduan bercocok tanam, tanam ini-tanam itu, dan sebagainya,” ujar pria yang lama tinggal di Jerman itu. 5/18/14

Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014 

POSTED BY
POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

‘The Muslim Show’, Gelak Tawa Islam di Perancis

Gambar: www.muslim-show.com
Seorang pria berjubah, lengkap dengan penutup kepala, berdiri di atas podium. Dikelilingi ratusan orang di sekitarnya, lelaki itu melontarkan seruan-seruannya. “Kita, umat Islam di Perancis harus bersatu melawan Islamofobia!” teriak dia sambil mengacungkan tangan ke angkasa.
Di suatu ruangan, melihat rekaman video aksi lelaki berjubah itu, seorang komandan biro keamanan bersungut-sungut penuh amarah. Atas perintahnya, sejumlah pasukan dikirm untuk menangkap pria berjubah itu. Si pria tersangka penghasutan itu kemudian digelandang untuk diperiksa. Dengan lantang, si Komandan berseru kepada para wartawan. “Saya putuskan untuk mendeportasi imam ini dari Perancis dan mengirim dia ke negara asalnya!” ujar dia berang.
Di tempat pemeriksaan imigrasi, sang Komandan mendadak terbengong keheranan. Petugas imigrsi melaporkan, setelah diperiksa, pria itu benar-benar asli orang Perancis dan bukan imigran seperti yang disangka. Jadi, tentu saja dia tak bisa dideportasi. Dengan tangan terborgol, sang Imam pun tersenyum simpul. Tampak dia tak lagi mengenakan penutup kepala, memerlihatkan wajah seorang pemuda berambut dan berjenggot pirang.
Kisah di atas adalah satu dari sekumpulan cerita bergambar The Muslim Show (TMS), karya komikus Muslim Perancis Noredine Allam beserta kedua rekannya, Greg Blondin dan Karim Allam. Dalam beberapa satu-dua tahun terakhir, serial TMS menjadi fenomena Facebook di berbagai negara. Di negeri Eiffel, tempat lahir si komik, fan page-nya mendapat tanda jempol lebih dari 300 ribu penggemar, mendudukannya pada peringkat ketiga fan page yang paling disukai di sana.  
Fan page edisi Bahasa Inggris lebih banyak lagi mendapat ‘like’. Tercatat, lebih dari 500 ribu orang memberi tanda jempol. Diluncurkan untuk penggemarnya di Indonesia akhir tahun lalu, halaman penggemar TMS berbahasa Indonesia terhitung sudah mendapatkan 22 ribu jempol. Selain Bahasa Perancis, Inggris, dan Indonesia, TMS juga hadir di Facebook dalam lebih dari dua20 bahasa lainnya.
TMS adalah berbagai kisah kehidupan sehari-hari kaum Muslim Perancis yang dituangkan dalam potongan-potongan cerita bergambar. Dengan jenaka dan terkadang satir, komik tersebut menyuguhkan refleksi kehidupan orang-orang Islam, yang di wakili oleh para Muslim Perancis. Tema yang diangkat beragam, mulai dari yang sederhana, seperti soal tren jilbab, hingga yang berbau politik, seperti tabiat anti-Islam pemerintah Perancis.
Beranjak dari kesuksesannya di dunia maya, TMS pun telah diluncurkan dalam bentuk cetak di sejumlah negara dalam berbagai bahasa. Di Perancis, dua judul TMS berhasil terjual lebih dari 20 ribu ekspemplar. Di Indonesia, dua kumpulan seri TMS berjudul “Ramadhan ala Muslim Show (judul asli: “Muslim Show Ramadhan”) dan “Hidup bertetangga ala Muslim Show” (judul asli: Muslim Show Voisin Voisin) diluncurkan penerbit Dar! Mizan. Terhitung sejak 6 hingga 16 Maret, ketiga kreator TMS diboyong Mizan untuk berkeliling sejumlah kota menghadiri peluncuran buku komik TMS edisi Bahasa Indonesia.
“Mulanya, kami hanya memaksudkan itu (TMS) untuk warga Muslim Perancis, tak disangka sambutan masyarakat Muslim di negara-negara lain sangat baik,” ujar sang komikus, Noredine Allam ketika saya wawancara di Jakarta, Maret, 2014.
Selain sebagai karya seni, Noredine mengakui, karya yang dia dan kedua rekannya buat juga termotivasi oleh niat dakwah. Noerdine ingin mengingatkan umat Islam pada agama mereka. Selain bertujuan menebar syiar di kalangan komunitas umat Islam, menurut dia, TMS juga dimaksudkan untuk menjembatani komunikasi antara umat Islam dengan kalangann non-Muslim.
“Saya ingin menggambarkan pada dunia, bahwa Islam itu tidak sekaku seperti yang mereka pikirkan. Saya ingin menebarkan Islam yang universal,” kata Noredine.
Noredine menceritakan, komunitas Islam di Perancis menghadapi tantangan berupa sikap Islamofobia pemerintah. “Masyarakat di sana cukup terbuka, justru pemerintahnya yang sering kali diskriminatif,” ujar pria tinggi berkepala plontos itu.
Dalam TMS, berbaagai karakter anonim dihadirkan tanpa nama. Menurut Noredine, hal tersebut sengaja, untuk membuatnya lebih universal. Namun demikian, Noredine mengakui, inspirasinya banyak didapat dari kehidupan komunitas Muslim keturunan Aljazair dan Maroko.
Mengapresiasi TMS, para pembaca akan menemukan banyolan-banyolan cerdas yang dihadirkan dalam gamabar-gambar warna-warni yang menarik. Khusus pembaca Indonesia, beberapa judul seri TMS bisa saja kehilangan sedikit daya humornya karena perbedaan budaya kedua bangsa.

Foto: PTS Malaysia
Para Komikus
Noredine Allam dan Karim Allam adalah kakak beradik dari tiga bersaudara. Mereka lahir dari ayah Aljazair yang Muslim dan ibu asli Perancis yang seorang mualaf. Sang ayah berprofesi sebagai tukang las, sementara ibu mereka mengurus keluarga di rumah. Sementara Greg Bondin, rekan mereka adalah orang asli Perancis dan seorang non-muslim.
Allam bersaudara tumbuh di Amiens, kota kumuh di Utara Perancis yang menjadi pusat para imigran di Perancis. Di Perancis, kota tersebut terkenal sering dilanada kerusuhan sosial.  Noredine, yang merupakan motor dalam tim TMS mengaku berlajar menggambar secara otodidak. Pada usia 17 tahun, pria kelahiran 1977 itu memilih meninggalkan sekolah dan menjalani hobinya sebagai pembuat grafiti, sebelum akhirnya memiliki studio gambar sendiri.
Studio 2HB yang didirikannya merupakan salah satu yang terkemuka di Perancis. Grafiti-grafiti karya Noredine banyak menghiasi sudut-sudut kota Perancis. Studio tersebut juga menggarap proyek pewarnaan ulang komik terkenal “Asterix”.

Pada tahun 2010, Norѐdine menciptakan BDouin, studio komik Muslim pertama di Eropa. Dalam menggarap karya bersama mereka, Noredine berperan memberikan ide dan membuat sketsa. Sementara Greg dan Karim berperan menebalkan gambar dan memberi perwarnaan. 
Cat.: tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Maret, 2014.

POSTED BY
POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments