Penyintas Lapindo, Selalu Terbayang Kampung yang Hilang
![]() |
| Kampung terdampak semburan lumpur Lapindo, Desember 2014. Foto: Andi Nurroni |
Jarum-jarum hujan mulai berjatuhan, begitu saya tiba di tepian Kali Porong, Sidoarjo, Sabtu (20/12) sore. Niat saya melihat infrastruktur pembuangan material lumpur Lapindo ke Kali Porong, akhirnya berujung di sebuah bangunan kayu sederhana di sisi sungai. Itu lah pos pemantau pengaliran lumpur di bawah kendali Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
Di
samping pos pemantau, sebuah instalasi pipa menyemburkan air lumpur ke sungai
dalam jumlah besar. Cairan hitam itu terus di alirkan 24 jam sehari dan tujuh
hari sepekan demi menjaga lumpur tidak meluap dari tanggul. Tentu, material
lumpur yang dialirkan telah dioplos dengan air agar encer dan dapat disalurkan
melalui pipa.
Aroma
tidak sedap serupa belerang tercium hingga pos pemantau. Seorang pria tua
dijumpai tengah duduk terpaku di tempat serupa warung kopi itu. Cung Arifin
nama si Kakek. Dialah penjaga pos tersebut. Mengenalkan diri sebagi wartawan,
Kakek Cung antusias menerima saya.
Pria dengan empat anak dan lima cucu itu tak segan bercerita banyak hal, mulai
dari urusan pekerjaan hingga keluarganya.
Kakek
Cung menjelaskan, tugasnya di pos tersebut adalah memeriksa kandungan lumpur
yang dibuang ke Kali Porong. Setiap satu jam sekali, menurut Cung, ia mengambil
sampel air lumpur dan mencatat tingkat kepekatannya. Hal tersebut, menurutnya,
dilakukan agar kepekatan tidak melebihi batas maksimal, yakni 25 persen, agar
saluran tidak tersumbat dan tidak menimbulkan penadangkalan sungai.
Menejelaskan
panjang lebar soal pekerjaannya, diketahui rupanya Kakek Cung adalah salah satu
korban terdampak semburan lumpur. “Kampung saya dulu di sana,” katanya, sambil
menjulurkan telunjuk ke lembah semak belukar tak jauh dari pos pantau.
Cung
berkisah, dahulu dia adalah petani. Pekerjaan itu dia lakukan hingga tahun
2006, sebelum akhirnya berhenti karena tragedi semburan lumpur di kampung
tetangga, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Semburan tak berhenti dan terus
mendekat ke kampungnya di Desa Kedung Cangkring, Kecamatan Jabon.
Cung
bercerita, karena tidak terdampak langsung lumpur, warga desanya tidak
dimasukan sebagai korban yang berhak mendpatkan kompensasi. “Kami demo terus,
akhirnya pemerintah turun, karena memang desa kami juga terkenda dampak,
seperti dampak sosial dan ekonomi,” ujar pria kurus itu.
Sejak
kehilangan pekerjaan, mulai tahun 2007 hingga 2010, Cung berkisah, dia menjadi
kuli proyek pembangunan tanggul lupur. Baru pada 2010, menurutnya, dia
mendapatkan pekerjaan baru sebagai petugas pemantau pos pembuangan lumpur.
Cung
mengaku hingga kini, dia masih selalu terkenang kampung halamannya, yang kini
menjadi ladang semak belukar di sisi tanggul bendungan lumpur. “Kalau naik
motor sama istri, sama anak, istri saya sering bilang ke anak, itu, rumah kita
dulu di situ,” ujarnya dengan nada haru.
Hidup
di kampung tetangga, tempat ia dan korban lain direlokasi, ada saja hal yang
kurang menyenangkan. Pernah suatu hari, kata Cung, gara-gara seorang anak dari
anggot kelompoknya berkelahi dengan anak warga kampung lama, warga menyerbu
perkampungannya.
Cat.
Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Desember 2014.
Bergerilya di Hutan Mangrove
![]() |
| Mahasiswa menanam mangrove di pantai Surabaya, Desember 2014. Foto: Andi Nurroni |
Hampir separuh badan Gatot terbenam ke dalam lumpur. Seperti lalat terjerat jaring laba-laba, mahasiswa tingkat akhir itu berjibaku menarik tububuhnya ke luar dari bekapan lumpur yang hitam pekat. Sekuat tenaga ia berusaha membebaskan diri, namun medan lumpur yang kelewat gembur dan licin itu sangat sulit ditaklukan.
Gatot
tidak sendiri terjebak di dalam lumpur. Sejumlah temannya yang lain juga
mengalami hal yang sama. Walhasil, keriuhan dan tawa meledak mengolok-olok
sesama mereka. Gatot dan 40-an kawannya tidak sedang mengikuti lomba Agustusan.
Awal Desember 2014 lalu, Rombongan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) salah satu
universitas swasta di Surabaya itu sedang melakukan bakti menanam pohon
mangrove. Saya ada di antara mereka.
Lokasi
penanaman ratusan benih mangrove tersebut berada di kawasan Muara Kali Gunung
Anyar, Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Untuk mencapai titik itu, rombongan
mahasiswa harus menyewa beberapa perahu nelayan yang bersandar di dermaga Desa
Gunung Anyar Tambak. Menyusuri sungai yang diapit rawa hutan mangrove, butuh
Sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.
Soni
Mohoson, pemandu mereka, tak hentinya menyungging senyum melihat polah
anak-anak muda itu. Soni-lah yang membawa para mahasiswa ke sana. Titik itu
telah Soni survei sebelumnya untuk memastikan bibit-bibit mangrove yang baru
ditancapkan tidak mengalami kekeringan, juga tidak karam ketika rob datang.
Waktu
penanaman telah diperhitungkan benar, pagi-pagi, sebelum pukul 09.00. Itulah
saat pertemuan surut dan psang. Jika air terlalu surut, menurut Soni, perahu
bisa kandas. Sedangkan ketika pasang, lokasi penanaman telah terendam oleh air.
Ibarat gerilyawan, Soni tahu betul medan pertempuran dan ancaman musuh yang
dihadapi.
Turut
membenamkan tubuhnya ke dalam lumpur, lelaki 53 tahun itu menjelaskan berbagai
hal tentang mangrove kepada para mahasiswa. Mula-mula, Soni menancapkan
bilah-bilah kecil bambu, dengan memerhatikan kerapatannya. Selanjutnya,
dicontohkan bagaimana tanaman mangrove harus dibenamkan ke dalam lumpur dan diikat
dengan tali.
Koordinator
Kelompok Tani Mangrove Wonorejo tersebut menjelaskan, jenis mangrove yang
ditanam kali itu adalah sonneratia alba. Jenis tersebut, menurutnya
tergolong dalam kategori mangrove mayor, yakni memiliki habitat di daerah
pasang-surut. “Beda sama mangrove minor yang tumbuh di daerah yang jarang kena
pasang-surut, sang Pencipta sudah mendesain dia (sonneratia alba)
memiliki akar-akar yang menancap kuat hingga 20 meter ke dalam tanah,” ujar
Soni.
Lima
belas tahun bergiat dalam konservasi mangrove, mantan pekerja kontrak PLN itu
bisa dibilang saksi yang sahih bagaimana mangrove yang dulu disisia-siakan
manusia kini menjadi simbol gerakan pro-lingkungan. Dahulu, Soni menggambarkan,
tak banyak yang peduli ketika warga membabat hutan mengrove Pamurbaya untuk
tambak atau menebang pohon-pohon mangrove besar untuk dijual sebagai material
kayu.
Sejalan
dengan berkembangannya kampanye lingkungan, menurut Soni, aktivitas menanam
mengrove kini menjadi salah satu budaya yang popular. Tak heran, mulai dari
masyarakat pesisir, murid TK, mahasiswa, hingga perusahaan-perusahaan besar
kerap mencurahkan kontribusi mereka untuk penghijauan hutan mangrove.
Terlepas
apapun motivasinya, entah senang-senang atau promosi perusahaan, Soni senang
bisa membawa semakin banyak orang peduli hutan mangrove. Tak hanya giat menanam
mangrove, karena kecintaan dan ketelatenannya, Soni yang hanya lulusan SMK itu
telah berhasil mengembangkan berbagai produk pemanfaatan mangrove.
Buah
tangannya yang paling terkenal adalah sirup dari buah mangrove. Selain itu soni
juga membuat beras mangrove, dodol mangrove, brownies mangrove, dan masih
banyak lagi. Kelompok Tani Mangrove Wonorejo yang dia dirikan sejak 2006.
Bersama dia, kini bergabung para pemuda, termasuk sejumlah alumni pergguruan
tinggi di Surabaya.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Desember 2014.
Sengkarut Mangrove di Pesisir Surabaya
![]() |
| Soni Mohson dan mahasiswa sehabis menanam mangrove, Desember 2015. Foto: Andi Nurroni |
Siapa tak tergoda mengunjungi Ekowisata Mangrove Wonorejo di Surabaya? Coba Anda masukan kata kuncinya di mesin pencari Google, pilih fitur gambar, maka tampillah berbagai potret keindahan kawasan wisata alam di pesisir timur Surabaya itu. Ekowisata Mangrove Wonorejo didesain Pemerintah Kota Surabaya sebagai sarana rekreasi masyarakat yang murah-meriah.
Destinasi wisata tersebut adalah pelarian sempurna bagi mereka yang jenuh dengan hiruk-pikuk kota. Selain itu, tempat tersebut juga menyajikan petualangan menyenangkan. Semisal menyusuri jembatan papan menembus hutan mangrove, atau berperahu hingga jauh ke ujung muara Kali Wonokromo.
Tak sampai di situ, jika Anda ikut dalam tur perahu, Anda juga bisa memilih untuk bersantai di sejumlah anjungan yang berdiri di tepian selat Madura. Tak heran, Wali Kota Tri Rismaharini kerap membangga-banggakan objek wisatanya itu kepada para tamunya. Sekilas cerita, profil Ekowisata Mangrove Wonorejo pasti membuat Anda grerget dan penasaran ingin berkunjung.
Namun, alangkah lebih baik jika Anda mendengarkan cerita selengkapnya. Di luar pengatahuan khalayak umum tentang keindahan kawasan Ekosiwata Mangrove Wonorejo, banyak pegiat lingkungan yang geram dengan keberadaan wahana wisata tersebut.
Koordinator Kelompok Tani Mangrove Wonorejo Soni Mohson, salah satu di antaranya. Dijumpai di kediamannya di Desa Wonorejo, akhir November lalu, Soni mencurahkan banyak keresahannya tentang kawasan konservasi mangrove di kawasan pantai timur Surabaya, atau sering disebut Pamurbaya itu. Soni dengan keras menyatakan ketidaksepakaatannya terhadap konsep wisata yang dikembangkan Pemkot Surabaya di Pamurbaya.
Soni menggmbarkan, hutan mangrove bukan hanya berbicara tentang pepohonan, melainkan kesatuan ekosistem pesisir. Hutan mengrove Pamurbaya yang terbentang di wilayah pesisir empat kecamatan, yakni Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut dan Gunung Anyar, menurut Soni adalah rumah bagi berbagai spesies hewan. Di kawasan luas sekitar 2500 Haktare tersebut, menurut Soni, hidup berbagai spesies burung, kera, ikan, udang dan hewan-hewan lainnya. Apa yang sisampaikan Soni memang bukan isapan jempol.
Hasil penelitian Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (Yapeka), hutan mangrove Pamurbaya memiliki tidak kurang dari 38 jenis flora, termasuk di dalamnya 19 jenis mangrove mayor, 13 jenis mangrove minor. Selain itu, di sana, hidup juga 98 jenis spesies burung, di mana 34 jenis di antaranya merupakan burung migran. Satwa lain yang juga hidup di sana adalah serangga, reptil, mamalia, ikan, udang dan masih banyak lagi.
“Nah, burung itu kan sangat peka terhadap tiga hal, suara, warna dan aroma. Itulah kenapa kita sudah jarang mendapati kawanan burung di sini. Pernah beberapa waktu lalu, pihak Bandara Djuanda kerepotan mengusir ribuan burung yang sempat menggangu penerbangan. Itu burung-burung air, ya dari sini,” kata pria 53 tahun itu.
Soni juga mendengar cerita mengenai kawanan monyet yang menyerang warga sekitar hutan mangrove di perbatasan Sidoarjo. Kera-kera tersebut, menurut Soni, juga berasal dari hutan mangrove Pamurbaya. Selain itu, kata dia, akibat aktivitas wisata tersebut, penghasilan sampingan para penjaga tambak menurun drastis.
Menurut Soni, para penjaga tambak itu tidak diberi uang makan. Sebagai gantinya, mereka diperbolehkan menangkap udang liar di tambak. Kini, menurut Soni, para petani mengeluh tak banyak udang yang bisa ditangkap. Mereka curiga, aktivitas hilir-mudik perahu di Kali Wonokromo telah menghambat udang masuk ke pintu air tambak.
Soni berpendapat tegas, konsep wisata yang dikembangkan Pemkot telah keliru. Bukti nyata lain yang dianggap sebagai kesalahan adalah pembangunan jembatan papan dengan tiang-tiang beton di lokasi Ekosiwata Mangrove. “Kalau mau buat wisata, harusnya wisata edukasi dan penelitian. Pengunjung harus di batasi. Di perhitungkan kerapatan manusia di bandingkan dengan luas hutan,” ujar Soni.
Keberadaan Ekowisata Mangrove rupanya bukan masalah tunggal di kawasan hutan mangrove Pamurbaya. Akhir bulan lalu, pihak Sapol PP Surabaya melakukan penindakan terhadap aktivitas pembangunan tak berizin atas naman PT Tirta Agung Prakasa Makmur di kawasan hutan mangrove Kecamatan Gunung Anyar. Sedangkan awal bulan ini, pihak Satpol PP juga menindak praktik pemasangan patok-patok kavling atas nama PT SS di pesisir Kecamatan Sukolilo dan Mulyorejo.
Meski teah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak 2007 melalui Perda Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Surabaya, para pengembang tetap rajin merayu warga agar menjual tanah dan tambak warga. Hasilnya, menurut, penelitian Kelompok Tani Mangrove Wonorejo, di Kecamatan Wonorejo saja, sudah 95 persen tambak di miliki oleh perusahaan pengembang.
Pihak-pihak pengembang tersebutlah yang selama ini selalu mencari celah untuk melakukan penetrasi di kawasan lindung hutan mangrove Pamurbaya. Meski telah beberapa kali mendapati kasus-kasus perambahan hutan mangrove, Pemkot Surabaya belum juga bertindak tegas. Hal tersebut sangat disesalkan oleh Wakil Ketua DPRD Surabaya Masduki Toha.
Masduki dengan tegas berpendapat, keterlibatan oknum-oknum di jajaran Pemkot Surabaya sangat kentara dalam kasus-kasus tersebut. “Sekarang logikanya, Wali Kota gembar-gembor (tentang Pamurbaya) di mana-mana, tapi pengawasan tidak dilakukan jajarannya di bawah, hingga camat atau lurah. Camat dan lurah mengaku kecolongan, apa pantas pejabat mengaku kecolongan? Dan mereka tidak ditindak,” ujar Masduki, ketika diwawancarai Senin (15/12).
Menurut Toha, ketidakseriusan Pemkot Surabaya mengurusi Pamurbaya terlihat dari tidakadanya patok-patok penetapan batas wilayah yang jelas. Hal tersebut, menurutnya menjadi celah bagi pengembang yang ingin berbuat nakal. Dengan kedudukan strategis kawasan Pamurbaya, Masduki mengusulkan agar regulasi yang mengatur tidak hanya Perda RTRW, melainkan perda menganai pengelolaan wilayah pesisir.
Selama ini, sejumlah lembaga dinas berbagi kewenangan menyangkut hutan mangrove Pamurbaya. Beberapa lembaga terkait adalah Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Surabaya, serta Dinas Pertanian (Distan) Surabaya.
Dikonfirmasi mengenai sengkarut tata kelola Pamurbaya, Plt Kepala DCKTR Surabaya Eric Cahyadi mengakui, pihaknya sedang bekerja keras menata kawasan Pamurbaya. Soal para pengembang nakal, pendapat Eri mengesankan sikap permisif Pemkot Surabaya.
“Kalau dia tahu itu, hukum harus berjalan. Kalau dia belum tahu itu, pemerintah kota harus melakukan sosialisasi. Intinya, dia ada di kawasan konservasi. Kalau itu sudah disosialisasikan, hukum sudah berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Fisik Sarana dan Prasarana Bappeko Surabaya Dwija Wardhana menjelaskan, aktivitas penebangan mangrove yang dilakukan pengembang belum tentu bisa dibawa ke ranah kriminal. Pasalnya, tidak semua kawasan lindung itu diperuntukan untuk mangrove. Selain itu, menurut dia, ada juga kawasan perlihan yang memungkinkan adanya pemanfaatan secara terbatas.
Menurut Dwija, yang harus dipastikan adalah, apakah pengembang membangun di zona utama, atau di kawasan pemanfaatan terbatas. Menurut dia, zona utama luasnya sekitar 200 hingga 300 meter dari garis pantai, yang perhitungannya didasarkan pada Perda RTRW terbaru, yakni Nomor 12 Tahun 2014.
Selain itu, menurut Dwija, meski pun telah ditetapkan sebagai kawasan lindung, masih banyak tanah-tanah bersertifikat yang dimiliki warga. Bahkan, menurut Dwija, tanah warga, terutama dalam bentuk tambak jumlahnya lebih besar daripada milik Pemkot Surabaya. “Untuk itulah kami telah menganggarkan dana untuk membeli tanah-tanah warga. Tapi syaratnya, warga yang mengajukan terlebih dahulu,” katanya.
Dimintai tanggapan, pihak Distan Surabaya selaku pihak yang diberiamanah pengelolaan hanya menjawab dengan bahasa normatif. Kepala Distan Surabaya Djoestamadji menyampaikan, pihaknya hanya berkewajiban mengawasi. Menrut dia, pengawasan selama ini dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat. “Kami punya dinas khusus lapangan, mereka meakukan pendampingan terhadap petani dan nelayan agar mereka terberdayakan,” kata Djoetamadji.
Pembenahan masalah tata kelola kawasan lindung hutan mangrove Pamurbaya bisa jadi adalah tantangan paling serius kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat ini. Penyelamatan kawasan lindung hutan mangrove Pamurbaya tak diragukan akan berdampak signifikan, tak hanya untuk leingkungan, tetapi juga bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir Surabaya.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Desember 2014
Ragam Seni Lakon Petani
![]() |
| Foto: beritadaerah.co.id |
Petani dan alam pedesaan adalah jati diri dan wajah Indonesia. Dari gerak laku petani di alam desa, lahirlah nilai-nilai dan ekspresi budaya yang kita warisi hari ini. Sayang, pergeseran tatanan sosial membuat bangsa ini gagap dan semakin kehilangan identitas. Di hadapkan pada kondisi tersebut, sebagian kecil orang kini tengah bekerja keras merawat, bahkan menggali kembali kultur petani yang telah, atau nyaris hilang dari tengah masyarakat.
Mengangkat tema “Daulat Para Jagoan”, lembaga
Bentara Budaya Jakarta (BBJ) menampilkan empat ragam seni tentang petani awal
Juni 2014. Keempat bentuk kesenian tersebut, yakni drama tari, lukisan, lukisan
kaca, dan wayang hama, mengeksplorasi nilai dan budaya petani, dipersembahkan
oleh pekarya yang merupakan maestro di bidang masing-masing.
Bukan sekedar mempertontonkan seni, hajatan
tersebut secara khusus mengangkat kisah perjuangan petani dalam memperjuangkan
kemandirian atas pupuk, obat, dan benih. Beberapa orang petani yang bergiat
dalam Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) asal Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat, didaulat untuk berbagi kisah. Melengkapi cerita para
petani tersebut, dipamerkan juga sejumlah instalasi berbagai perlengkapan
aktivitas mereka sehari-hari.
Bertempat di kompleks BBJ, kawasan Palmerah,
Jakarta Pusat, kegiatan yang berlangsung sepekan lebih itu dibuka dengan
suasana meriah dan artistik. Drama tari dengan lakon “Lesungku” dipentaskan
oleh Sanggar Tari Mulya Bhakti asal Indramayu, asuhan koreografer dan dalang
perempuan Wangi Indriya.
Drama tari tersebut digali Indriya dari tari
tradisi Grombyangan yang kini sudah hampir hilang, bahkan di daerah asalnya
Indramayu. Berkisah tentang suasana desa ketika gerhana bulan, “Lesungku”
dimainkan 20-an penari, perempuan dan laki-laki. Kaum pria tampil mengenakan
baju pangsi hitam-hitam dan berikat kepala, sementara para wanita
berbusana kebaya dengan kain melilit pinggang.
Diiringi ketukan lesung dan tetabuhan
alat-alat musik bambu dan tembang berbahasa Jawa Indramayu, empat orang remaja
putri bercaping melenggak-lenggok di atas panggung. Dalam beberapa bagian,
tetabuhan lesap digantikan alunan seruliing, menyeruakan suasana purba yang
terasa mistis.
Dikisahkan, malam tiba-tiba gelap. Bunyi
kentongan bertalu-talu, diikuti masuknya sejumlah pria ke atas panggung. “Telah
terjadi gerhana, bulan di makan Betara Kala”. Begitu pergunjingan yang terjadi
di antara mereka. Salah seorang dari mereka lalu tersadar bahwa istrinya tengah
mengandung. Tergesa dia pulang menuju rumahnya.
Setiba di rumah, sang istri langsung dia suruh
masuk ke bawah ranjang, sementara si lelaki menaburkan abu di atas tempat
tidur. Begitulah sang koregrafer mengangkat sepenggal kepercayaan lokal ke atas
panggung. Didukung oleh tata panggung yang artistik, dikelilingi oleh tanaman
padi menguning serta orang-orangan sawah, penonton diajak merasakan suasana
kehidupan leluhur pada zaman lampau.
Sementara itu, kesenian lain disuguhkan untuk
publik di ruang pameran. Ada koleksi lukisan-lukisan kaca karya maestro seni
lukis kaca asal Cirebon, Rastika. Sejalan dengan tema besar acara, sejumlah
karya mengangkat tema petani yang diramu dengan kisah dan visualisasi dunia
pewayangan.
Karya berjudul “Bima Meluku” (cat minyak pada
kaca) menggambarkan kesatria Bima tengah membajak sawah bersama dua ekor kerbau
berwarna merah muda, dengan latar belakang gunung biru dan mentari yang
mengintip dari balik awan. Termasuk karya “Bima Meluku”, lukisan-lukisan Rastika
yang ditampilkan sangat memikat, dengan warna dan komposisi gradasi yang
memanjakan mata.
Dua jenis karya lainnya, puluhan lukisan karya
perupa Yogyakarta Herjaka HS, serta ‘wayang hama’ karya perupa Magelang Sujono,
juga tidak kalah menariknya. Karya-karya Herjaka mengangkat tokoh Dewi Sri,
sang dewi pelindung tanaman dalam bentuk karakter wayang. Sementara itu,
‘wayang hama’ karya Sudjono merupakan eksperimen atas rupa-rupa hama, semisal
kinjeng, kepik, gasir, yang diangkat dalam bentuk wayang.
Kisah Para Petani Jagoan dari Indramayu
![]() |
| Foto: fao.org |
Awal Juni 2014, Bentara Budaya Jakarta (BBJ)
punya hajatan unik bertema “Daulat Para Jagoan”. Sejumlah seni yang hendak
ditampilkan, termasuk drama tari dan lukisan kaca, disebut-sebut hanya dipasang
sebagai pendamping. Banyak hadirin, termasuk wartawan, datang membawa rasa
penasaran. Barulah semua terang begitu Direktur BBJ Hariadi Saptono memberikan
sambutan.
Rupanya kegiatan tersebut mengetengahkan isu
soal kultur dan perjuangan petani. Sebuah komunitas petani padi asal Indramayu,
Jawa Barat, yakni Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI)
diboyong ke Jakarta untuk berbagi cerita. Menurut Hariadi, pihaknya terkesan
dengan keberhasilan kelompok petani tersebut dalam mengelola pertanian secara
mandiri. Termasuk menciptaan pestisida alami, pupuk alami, serta penemuan
berbagai varietas benih baru.
Hadir mewakili teman-teman mereka di desa,
enam orang petani diminta tampil ke atas penggung. Pentolan mereka adalah
Warsyiah, lelaki 57 tahun, asal Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten
Indramayu. Pria yang hanya tamat sekolah dasar tersebut menjadi salah satu
motor dalam menggalang gerakan pertanian mandiri di lingkungan Kabupaten
Indramayu dan sekitarnya.
Bermodal pengetahuan sekedarnya yang didapat
dari program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Tanaman (SLPHT) yang
diselenggarakan Bappenas pada tahun 1990-an, Warsiyah memulai eksperimennya. Ia
dan sejumlah kawannya alumni program tersebut dengan tekun melakukan berbagai
penelitian soal tanam-menanam padi.
Sekitar periode 1998, keberhasilan mereka
meramu iinsektisida dan pupuk organik menguatkan kepercayaan diri mereka untuk
melakukan lebih banyak percobaan. Saat itu, Warsiyah dan kawan-kawan sukses
mengoplos kecubung, kencing sapi dan kencing kambing untuk insektisida, serta
limbah buah-sayur dan kotoran sapi untuk pupuk organik. Sejak saat itu, berbagai
bahan lain semakin banyak ditemukan untuk menciptakan bermacam pestisida juga
pupuk yang ampuh. Hal itu membuat mereka berhasil meninggalkan sama sekali
pestisi dan pupuk kimia.
Tahun 2002 Warsiyah dan 40-an anggota IPPHTI
Indramayu mendapat kesempatan mengikuti Sekolah Pemuliaan Tanaman
Parsitipatoris (SPTP). Program tersebut difasilitasi LSM internasional,
Farmer’s Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (Field). Dari
sana, Warsiyah dan rekan-rekan mendapat pengetahuan soal silang-menyilang padi
untuk menemukan varietas baru. Sejak saat itu mereka berhasil memproduksi
varietas padi baru, bahkan menemuakan kembali jenis-jenis padi lokal yang
banyak dilupakan.
Dengan tulus, para petani tersebut menyebarkan
ilmu bertani kepada sesama petani, tanpa pernah menuruti nafsu serakan untuk
menguangkan hasil-hasil penemuan mereka. Dalam perjalanannya, perjuangan
menegakan kemandirian kultur bertani yang digalakkan Warsiyah dan rekan-rekan
tidaklah mudah.
Para bandar pestida, pupuk, dan benih menjadi
penentang yang hebat bagi gerakan mereka. Alih-alih membela, pemerintah
setempat tak jarang malah menjadi agen-agen perusahaan sarana produksi
pertanian yang turut menekan mereka. Namun Warsiyah dan rekan-rekannya tetap
teguh di jalan mereka untuk mewujudkan upaya kemandirian bertani lewat cara
yang alami dan sederhana.
Keberhasilan komunitas petani tersebut dalam
membangun kultur pertanian mandiri mendapat apresiasi dari Organisasi Pangan
Dunia (FAO) PBB. FAO menganggap IPPHTI sebagai slah satu kelompok petani yang
berhasil mengembangkan paradigma petani baru yang siap mengantisipasi perubahan
iklim dan pemanasan global.
Karena kesungguhannya, Warsyiah yang dianggap
paling cakap di antara kelompok lainnya, mulai November 2013 terpilih menjadi
salah satu penyuluh pertanian FAO. Warsiyah kini mengemban misi mendidik para
petani di berbagai daerah untuk beralih pada model pertanian yang aman dan
ramah lingkungan. Kelompok-kelompok binaan Warsiyah yang berjumlah 25-27 orang
sudah tersebar di berbagai desa di Indramayu, bahkan hingga ke luar kota.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Sabtu Sore di Taman Suropati
![]() |
| Foto: Septo Sulistio |
Duduk di antara rimbun pepohonan berhawa sejuk, dilenakan gemericik air mancur, bisa jadi para pengunjung Taman Suropati lupa mereka masih berada di wilayah Jakarta. Berbeda dengan hiruk-pikuk dan kebisingan jalan-jalan protokol, suasana di taman itu terasa begitu damai. Tak heran, arena seluas satu setengah lapangan sepak bola itu siang-malam tak pernah sepi pengunjung.
Mengunjungi Taman Suropati Sabtu sore, pertengahan
April 2014, tampak orang-orang tumpah-ruah dalam berbagai aktivitas. Ada yang
bergerombol dalam kelompok besar, ada keluarga kecil asik bersenda-gurau, ada
pasangan muda-mudi sedang berkasih-kasihan di bangku-bangku taman, ada juga
yang berlahraga sore. Tak ada wajah meradang atau sahut galak seperti yang
lumrah terjadi dalam drama kemacetan di jalanan Ibu Kota. Semua terlihat santai
dan begitu akrab.
Dibangun sejak masa pemerintahan kolonial
Hindia Belanda, taman Suropati terletak di kawasan strategis Menteng, Jakarta
Selatan. Ia berada di titik persimpangan tiga jalan besar, yakni Jalan Teuku
Umar, Jalan Diponegoro, dan Jalan Imam Bonjol. Area tersebut memang terkenal
sebagai kawasan kelas satu. Sejumlah fasilitas penting melingkungi taman
Suropati, seperti Rumah Dinas Wakil Presiden, Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta,
Rumah Dinas Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan beberapa objek vital yang lain.
Sebelum dibangun dengan arsitektur dan
ornamen-ornamen urban pada 2010, Taman Suropati tak ubahnya taman-taman lain,
hanya ditumbuni rumput dan pepohonan. Kini, di sana berdiri sejumlah
monumen karya para perupa ASEAN, bangku-bangku artistik, serta dilengkapi layanan
internet nirkabel (wirless) cuma-cuma.
Eka, Martono, Agus duduk lesehan di atas
ubin, tampak begitu larut dalam perbincangan mereka. Ketiganya bukanlah teman
sehari-hari. Eka dari Rawamangun, Martono dari Cipinang, sementara Agus
jauh-jauh datang dari Tangerang. Mereka adalah para penggemar musang, salah
satu hobi baru yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat urban.
Ketiganya, dan sejumlah kawan mereka yang lain, sore itu menyepakati sebuah pertemuan.
Tak ada yang serius dalam obrolan mereka,
hanya bercakap ini-itu dan bermain dengan musang-musang mereka. Selain
bersilaturahmi, kata Eka, mereka ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal
musang. “Di sini tempatnya asyik dan berada di pusat kota, jadi mudah diakses
dari sana-sini,” ujar dia, sambil mengelus-elus musangnya yang lekat
mencengkram pundaknya.
Ketiganya sepakat, sejauh pengalaman mereka
mengunjungi taman-taman kota lainnya di Jakarta, Taman Suropati adalah yang
paling bagus dan terawat. “Mungkin karena di kawasan elit, kali, ya?
Malu juga kalau dibiarkan jelek,” ujar Agus seraya tertawa.
Mereka berharap, akan lebih banyak lagi taman
yang dipercantik dan dirawat agar masyarakat semakin betah beraktivitas di
taman. Menurut mereka, selain berarti besar dari segi lingkungan, taman juga
besar manfaatnya bagi masyarakat. Banyak kelompok-kelompok masyarakat
menjadikan taman sebagai ajang bersosialisasi. Mereka mencontohkan, selain
komunitas peminat hewan seperti mereka, ada juga kelompok-kelompok lain yang
biasa berkumpul di sana. Ada komunitas motor tua, skuter, musik, fotografi, dan
lain sebagainya.
Di sudut yang lain, beberapa remaja juga
terlihat berkerumun, duduk santai di lantai taman. Mereka adalah sekelompok mahasiswa
dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Kami teman sekelas, tadi
beres dari kampus, mumpung punya waktu luang, jadi main ke sini,” ujar
Qodriatul, salah seorang dari mereka.
Meski memuji Taman Suropati, menurut
Qadriatul, beberapa hal masih harus ditingkatkan, seperti soal kebersihan dan
kehadiran PKL yang sebenarnya dilarang. Selain para pengunjung, memang tampak
banyak pedagang berkeliaran, dari mulai penjaja kopi, tahu gejrot, dan lain
sebagainya. Problem PKL agaknya memang menjadi maslah klasik yang tidak
sederhana untuk diurai.
Bendung Katulampa, Beton Belanda yang Istimewa
| Foto: Andi Nurroni |
Bendung Katulampa, apa pasal fasilitas pengaturan air di pangkal Ciliwung itu biasa demikian tenar? Tak hanya didatangi para menteri dan gubernur, tiga presiden terakhir republik ini, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan pernah menelepon langsung ke pos penjaga. Di musim penghujan, informasi dari bendung tersebut sangat dinanti. Kode-kode yang dikirimkan, ‘siaga empat’, ‘siaga tiga’, dan seterusnya, terkadang bisa membuat pemerintah dan masyarakat gonjang-ganjing.
Berlokasi di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor,
beton melintang sepanjang 74 meter itu menjadi vital dan istimewa karena
perannya sebagai corong informasi terdini soal debit air Ciliwung. Dari
informasi yang dikirimkan, pemerintah dan warga Jakarta bisa segera tahu ketika
banjir sedang meluncur ke tanah mereka. Selain kode-kode informasi yang
dipancarkannya, tak banyak yang tahu kisah-kisah kecil menarik seputar bendung
tertua di Bogor itu.
Di suatu sore yang hujan pertengahan Januari 2014,
sang penjaga, Andi Sudirman (46) berbagi cerita kepada saya. Di sela kesibukannya menanggapi berbagai panggilan lewat
telepon, ponsel, handy-talky, hingga beberapa unit radio amatir yang
terpasang di meja kerjanya, pria berkaca mata itu membagi konsentrasi meladeni
berbagai pertanyaan yang saya ajukan.
Diceritakan Andi, Bendung Katulampa, atau
mulanya disebut Katoelampa-Dam, selesai dibangun dan diresmikan Pemerintah Kolonial
Hindia-Belanda pada 1912. Masa perencanaan bangunan itu sendiri, menurut dia, dimulai
sejak 1889. Mengutip keterangan para ahli sejarah, menurut Andi, banjir hebat
yang melanda Batavia (sekarang Jakarta) pada 1872, ditengarai menjadi latar
belakang pembangunan bendung tersebut.
Selain untuk memberikan peringatan dini soal
debit air, bendung karya Ir. Van Breen itu juga dibuat sebagai pintu saluran
irigasi untuk mengairi 5 ribu hektar sawah di sekitar bendung pada masa itu.
Tak hanya irigasi, saluran tersebut juga dimaksudkan sebagai pemasok cadangan
air baku untuk warga Ibu Kota. Saluran itu diciptakan dengan membuat sodetan
yang kini dikenal sebagai Kali Baru Timur, yang mengalir melewati Depok,
Cilangkap, hingga bermuara di Tanjung Priok, Jakarta Utara. “Kini setelah sawah
nggak
ada, giliran pabrik-pabrik yang memanfaatkannya,” tutur Andi.
Dengan ekspresi takjub, berulang kali lelaki
yang sehari-hari mengenakan peci itu memuji fasilitas ciptaan bangsa Belanda
tersebut. Menurutnya, konstruksi bangunan Bendung Katulampa benar-benar kokoh,
dengan besi-besi yang tahan karat. “Beda, lah sama besi-besi zaman sekarang,”
kata dia.
Andi juga terkadang tak habis pikir dengan
orang-orang Belanda pada zaman itu. Menurut dia, mereka berpikir sangat jauh ke
masa depan. Terbayang di kepalanya, mereka yang notabene pendatang sampai
memikirkan pengendalian banjir, irigasi, hingga menyiapkan pasokan air bagi
keseharian warga ibu kota. Semua fasilitas itu, menurut Andi, kini nyata
sangat dirasakan manfaatnya. “Sekarang juga dengar-dengar Pemda Jakarta mau
mengoptimalkan pasokan air baku dari Ciliwung, katanya air tanah mereka semakin
asin dan tercemar” papar ayah tiga anak tersebut.
Sebagaimana dijelaskan Andi, istilah ‘bendung’,
bukan ‘bendungan’, yang dipakai untuk merujuk fasilitas pengaturan air tersebut
memiliki penjelasan ilmiah. Menurut Andi, berdasarkan definisi Kementrian
Pekerjaan Umum, bendung (weir) berarti pembatas yang dibangun melintasi
sungai dengan tujuan mengubah karakteristik aliran sungai, sementara bendungan
(dam), yang umumnya berukuran jauh lebih besar, memiliki fungsi menahan
laju air dan menyimpannya untuk waduk atau danau.
Andi menyayangkan masih banyak masyarakat yang
belum tahu perbedaan tersebut, sehingga ada saja yang berpikir Katulampa bisa
mengendalikan air, seperti kejadian yang sudah-sudah. “Waktu banjir besar di
Jakarta tahun 2013, beredar isu bahwa penyebabnya pintu air Katulampa dibuka.
Itu salah,” tegas Andi. “Katulampa tidak bisa menahan laju air,” lanjutnya.
Sesekali percakapan kami terhenti karena Andi
harus menjawab berbagai panggilan lewat seabrek alat komunikasinya. Maklum
saja, hujan sedang mengguyur langit Bogor dan banyak pihak khawatir debit air
naik. Sore itu, dia hanya dibantu seorang stafnya.
Selain Andi dan rekannya, pos tersebut
sejatinya ramai oleh manusia. Tak hanya lelaki dan perempuan dewsa, anak-anak
hingga balita ada di sana. Baru kemudian saya ketahui, mereka adalah warga
sekitar yang penasaran menengok suasana bendung yang sedang ramai diberitakan
itu. Kepada tamu-tamunya itu, Andi nampak begitu ramah. Dipersilakannya mereka
masuk menduduki sofa dan kursi-kursi yang tersedia. Dengan berkelakar, Andi
menyebut mereka sebagai ‘wisatawan banjir’.
Kata Andi, Bendung Katulampa memang sudah tak
ubahnya tempat wisata, terlebih di musim hujan. Banyak yang sengaja datang ke
sana karena rasa penasaran. “Kebanyakan warga Bogor, tapi kadang ada juga orang
Jakarta yang sedang liburan di Bogor mampir”, ujarnya.
Andi menambahkan, selain musim hujan, Bendung
Katulampa juga banyak dikunjungi orang ketika hari libur, bulan puasa, dan
sering juga di malam Minggu, menjadi tempat muda-mudi berkasih-kasihan. Ketika
air sedang besar, banyak pengendara motor yang sengaja berhenti untuk mengambil
foto, seperti yang saya
saksikan kala itu.
Seperti umumnya bangunan bendung, konstruksi
Bendung Katulampa melintang memotong sungai. Bagian atas bendung berfungsi
sebagai jembatan yang menghubungkan Kecamatan Bogor Timur dan Kecamatan
Sukaraja. Dengan lebar sekitar satu meter, jembatan berlapis aspal itu tak
pernah sepi dilewati warga, baik pejalan kaki, pengendara motor, atau para
pedagang yang mendorong gerobak mereka.
Sebagai fasilitas pengatur aliran air,
bangunan Bendung Katulampa bisa dibedakan menjadi dua, yakni bangunan utama
yang mengalirkan air ke Ciliwung, serta bangunan lainnya yang mengatur aliran
air ke sungai sodetan. Terdapat sepuluh rongga pada bangunan utama, yang mana
tiga di antaranya dilengkapi dengan daun pintu yang bisa dinaik-turunkan sesuai
kebutuhan dengan tuas pemutar hidrolik.
Sementara pada bangunan pengatur sodetan,
terdapat lima rongga dengan sepuluh daun pintu pada bagian depan dan
belakangnya. Lima merupakan daun pintu utama, sedangkan lima lainnya adalah
daun pintu cadang jika sewaktu-waktu daun-daun pintu utama macet.
Pada salah satu dinding beton di bendung
utama, di jalur lalu lintas air, tergambar skala pengukur ketinggian air. Dari
sana bisa diketahui berapa ketinggian air, apakah di bawah 50 cm atau dalam
keadaan ‘normal’, ‘siaga empat’ (50-80 cm), ‘siaga tiga’ (80-150 cm), ‘siaga
dua’ (150-200 cm), atau ‘siaga satu’ (di atas 200 cm). Ketika terjadi
peningkatan debit air di Bendung Katulampa, diperkirakan 3-4 jam kemudian
limpahan air tersebut akan sampai di Pintu Air Depok, dan sekitar 11 jam
kemudian air akan tiba di Pintu Air Manggarai.
Setelah CCTV rusak tersambar petir akhir tahun
lalu, pengamatan dilakukan dengan mata telanjang. Ketika air besar, seorang
petugas akan memantau pengukur air dan melaporkan ke pos penjagaga melalui handy-talky.
Di samping kiri bangunan utama bendung,
terletak pos penjaga yang bentuknya menyerupai rumah penduduk, menghadap ke
arah bendung. Ada beberapa ruangan di sana, mencakup ruang utama, kamar tidur,
kamar mandi, dapur, gudang, serta mushola. Di salah satu sudut di ruang utama,
terdapat meja kendali komunikasi beserta kelengkapannya yang sederhana saja:
telfon, beberapa unit radio amatir, serta tumpukan berbagai berkas.
Terkait keberadaan mushola di pos tersebut, Andi punya cerita menarik.
Dikisahkannya, mushola 6 x 8 meter yang
sekarang berdiri di bagian belakang pos utama itu dibangun atas permintaan
Gubernur Jakarta Joko Widodo (sekarang presiden) pada 2013 lalu. Ketika itu,
sang Gubernur secara mengejutkan datang membawa rombongan untuk menjumpai Andi,
memastikan kesiapan bendung menjelang musim banjir. “Waktu itu dia (Jokowi) mau
sholat, dia menanyakan mushola. Ya, sayangnya memang enggak ada. Jadi
dia minta ke orang PU (Kementrian Pekerjaan Umum,) untuk membangun mushola di
sini,” papar Andi.
Sejak bertugas mengantikan pendahulunya pada
tahun 2000, Andi banyak menyimpan kisah-kisah menarik tentang si Bendung.
Misalnya, pernah beberapa kali Andi dan kawan-kawan menemukan jasad manusia
yang terdampar di sana. “Tiga kali kami pernah menemukan mayat, salah satunya
korban kecelakaan di tol Jagorawi yang jatuh ke sungai,” papar dia.
Selain, soal penemuan mayat, cerita ganjil
lainnya adalah seringnya petir menyambar fasilitas bendung. Sudah tak terbilang
unit televisi, komputer, termasuk perangkat CCTV yang rusak karena samabaran
petir. Andi sendiri kurang tahu pasti penyebabnya. Tak hanya merusak perabot
elektronik, Andi sendiri mengaku pernah tersambar petir. “Waktu itu hujan, saya
lagi meriksa bendung. Petir nyamber,
saya mental, ada kali sepuluh meter” ujar dia dengan antusias.
Tak heran, kini Andi sedikit trauma dengan
petir. Setiap kali terdengar suara geledek, dia langsung sigap mematikan aliran
listrik di kantornya. saya
menyeksikan sendiri aksinya tersebut kala gemuruh petir mulai terdengar ketika
itu.
Di pos Bendung Katulampa, Andi kini bekerja
dibantu enam orang staf. Rata-rata mereka adalah pemuda setempat. Selain
memberi laporan soal debit air, tugas mereka sehari-hari adalah merawat
fasilitas bendung, serta membersihkan sampah di mulut bendung dua kali dalam
sepekan. Sekali membersihkan sampah, tak tanggung-tanggung, Andi dan
rekan-rekan bisa menjaring 15 karung limbah.
Pengabdian Andi dan kawan-kawannya telah
banyak mengundang apresiasi dari berbagai pihak. Sejumlah piagam penghargaan
banyak dijumpai tergantung di dinding ruangan serta pada lemari kaca di salah
satu sudut ruangan. Sebagian besar piagam-piagam tersebut menyatakan rasa
terimakasihnya atas kerja keras Andi dan kawan-kawan dalam menjaga Bendung
Katulampa dan menjadi juru informasi yang mengamankan jutaan nyawa manusia.
Sejauh ini Andi mengaku senang dan merasa
punya kepuasan tersendiri dalam menjalani pekerjaannya. Walau demikian, ketika
ditanya harapannya, Andi tak sungkan menitip pesan agar para pejabat yang
berwenang lebih memerhatikan fasilitas dan kesejahteraan para pekerja di sana.Cat.: tulisan ini pernah dibuplikasikan di Harian Republika pada Januari 2014
Vila Hancur, Kami Pun Menganggur
| Foto: Andi Nurroni |
Mendengar kisahnya, niscaya banyak yang akan berkerut kening. Lelaki lusuh itu mengenalkan diri bernama Dedih. Dulu, usianya baru 15 tahun ketika dia memulai pekerjaanya, menjaga vila milik seorang bos asal Jakarta. Kini, empat tahun berselang, umurnya bertambah menjadi 19 tahun. Namun nahas, gajinya tak pernah berubah sejak semula, hanya Rp 300 ribu sebulan. Kepada saya, dengan haru Dedih menceritakan kisahnya pada Februari 2014.
Selain menjaga vila, Dedih juga bertugas merawat kebun cengkih di sekitar vila. Kebun cengkih itu juga milik majikan yang sama. Di gubuk sederhana tak jauh dari vila, Dedih melewatkan hidup sehari-hari. Di sana dia tak tingal sendiri. Ada istri yang menemani, seorang perempuan belia yang dia nikahi dua tahun lalu, serta seorang balita buah hati mereka.
Walau hidup serba kekurangan, Dedih dan
keluarga kecilnya tetap bertahan menjaga vila. Tentu bukan semata-mata karena
sabar, tapi lantaran dia merasa tak ada pekerjaan lain. Maklumlah, Dedih sama
sekali tak pernah bersekolah. Dia tak juga bisa membaca dan menulis. Sampai-sampai,
sang majikan selalu menelepon, tak pernah mengajaknya berkomunikasi lewat sms.
November 2013, kisah hidup Dedih berubah
tragis. Mesin-mesin penghancur dikerahkan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk
meratakan vila-vila yang dianggap tak berizin di Desa Tugu Utara, Kecamatan
Cisarua. Salah satu yang menjadi sasaran adalah kepunyaan Haji Subroto, seorang
pensiunan kaya asal Jakarta. Itu tak lain adalah vila yang Dedih jaga. Merasa
nasibnya terancam, dia turut bersama ratusan penjaga vila lainnya untuk
menghadang pasukan gabungan pemerintah.
Bentrokan pun tak terhindarkan. Nasib sial tak
bisa terhindarkan, warga tak kuasa membendung aparat yang jumlahnya jauh lebih
banyak. Vila Dedi runtuh diterjang ekskavator hanya dalam hitungan detik.
Hancurnya vila mewah di atas bukit itu menimbun banyak barang yang belum sempat
terselamatkan, termasuk dompet berisi sisa gajinya. Sejak saat, itu hidup Dedih
berubah sangat sengsara.
Hampir dua bulan berlalu setelah penggusuran,
sang majikan belum juga memanggilnya ke Jakarta. Biasanya, setelah dipanggil,
Dedih sendiri yang menjemput gajinya ke rumah sang bos di daerah Kampung
Rambutan. Menurut Dedih, pascapenggusuran itu, Pak Haji, begitu dia memanggil
majikannya, jatuh sakit dan belum kunjung membaik.
Dengan mata berkaca, lelaki berkulit gelap itu
meluapkan banyak isi hati yang selama ini dia pendam. Setelah tak lagi mendapat
gaji, Dedih dan keluarga benar-benar kepayahan. Ia bercerita, beberapa waktu
lalu, dia sekeluarga hampir tidak makan, kecuali menyantap mi instan yang dia
dapat dengan cara menghutang ke warung tetangga.
Kini hutangnya ke warung langganan itu sudah
mencapai Rp 400 ribu, sampai-sampai si pemilik sudah menolak dia untuk menambah
tunggakannya. “Karena istri marah-marah terus dan saya kasihan sama anak, saya
pinjam uang ke teman dan menitipkan dulu mereka ke rumah mertua,” ujarnya dalam
Bahasa Indonesia yang terbata-bata.
Faktanya, Dedih hanyalah satu dari ratusan
para penjaga vila yang bernasib serupa. Tak hanya penjaga vila, program
penertiban vila di Kawasan Puncak juga mengancam banya warga yang hidupnya
bergantung pada keberadaan vila, semisal tukang ojeg, pemilik warung, calo
vila, dan masih banyak lagi.
Di Desa Tugu Selatan, Ahmad Sobari, kakek
berusia 107 tahun juga tengah meratapi nasibnya. Ketika ditemui akhir pekan
lalu, dia tengah termenung menyaksikan vila yang dia jaga lebih dari tiga puluh
tahun dirobohkan. Hal yang menarik, vila Sobari tidak dihancurkan oleh alat
berat, seperti vila-vila sasaran pembongkaran lainnya. Vila sang majikan dirobohkkan
dengan hantaman godam-godam kuli bangunan.
Dari sang kakek, diketahui ternyata sang
majikan, Pak Hasan, berinisiatif melego bangunannya itu kepada seorang
pemborong seharga Rp 7 juta. Dari vila itu, pemborong mengambil material yang
bisa dimanfaatkan, seperti kayu-kayu jati, genting, batu-bata, hingga
rangka-rangka besi.
Kakek Sobari mengeluh, dia hanya diberi
seratus ribu oleh sang majikan dari penjualan material vila itu. Sobari sempat
bertanya soal kelanjutan pekerjaanya, sang majikan hanya bergeming sembari
menyesali nasibnya.
Dikisahkan Kakek Sobari, sedianya, tahun lalu
vila itu hendak dijual Hasan seharga Rp 2 miliar. Sang bos tak melepaskannya
ketika ada yang menawar Rp 1,2 miliar. Padahal, jika vila itu berhasil terjual,
Sobari berharap mendapat persenen
atas jasa pengabdiannya. Dia membayangkan, uang itu akan dia gunakan untuk
mewujudkan mimpi terakhirnya sebelum meninggal, yakni mengirim istrinya, Encum
(60) pergi menunaikan haji ke tanah suci.
Alasan si kakek sederhana ingin mengirim Nenek
Encum, istri keduanya itu, perg berhaji. Hal itu lantaran, istri pertamanya
dahulu pernah dia ajak naik haji. Ketika itu, usahanya memang sedang makmur
sebagai peternak sapi.
Kini, Sobari tinggal di rumahnya yang sangat
sederhana, tak jauh dari vila yang dia jaga. Tak kepalang, rumah itu ditinggali
lima keluarga anaknya dan satu keluarga cucunya. Anak-cucu itu selama ini masih
hidup bernaung pada sang kakek, yang hanya menerima gaji Rp 300 ribu sebulan.
Cat.: tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Februari 2014
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)






