Bergerilya di Hutan Mangrove
![]() |
| Mahasiswa menanam mangrove di pantai Surabaya, Desember 2014. Foto: Andi Nurroni |
Hampir separuh badan Gatot terbenam ke dalam lumpur. Seperti lalat terjerat jaring laba-laba, mahasiswa tingkat akhir itu berjibaku menarik tububuhnya ke luar dari bekapan lumpur yang hitam pekat. Sekuat tenaga ia berusaha membebaskan diri, namun medan lumpur yang kelewat gembur dan licin itu sangat sulit ditaklukan.
Gatot
tidak sendiri terjebak di dalam lumpur. Sejumlah temannya yang lain juga
mengalami hal yang sama. Walhasil, keriuhan dan tawa meledak mengolok-olok
sesama mereka. Gatot dan 40-an kawannya tidak sedang mengikuti lomba Agustusan.
Awal Desember 2014 lalu, Rombongan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) salah satu
universitas swasta di Surabaya itu sedang melakukan bakti menanam pohon
mangrove. Saya ada di antara mereka.
Lokasi
penanaman ratusan benih mangrove tersebut berada di kawasan Muara Kali Gunung
Anyar, Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Untuk mencapai titik itu, rombongan
mahasiswa harus menyewa beberapa perahu nelayan yang bersandar di dermaga Desa
Gunung Anyar Tambak. Menyusuri sungai yang diapit rawa hutan mangrove, butuh
Sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.
Soni
Mohoson, pemandu mereka, tak hentinya menyungging senyum melihat polah
anak-anak muda itu. Soni-lah yang membawa para mahasiswa ke sana. Titik itu
telah Soni survei sebelumnya untuk memastikan bibit-bibit mangrove yang baru
ditancapkan tidak mengalami kekeringan, juga tidak karam ketika rob datang.
Waktu
penanaman telah diperhitungkan benar, pagi-pagi, sebelum pukul 09.00. Itulah
saat pertemuan surut dan psang. Jika air terlalu surut, menurut Soni, perahu
bisa kandas. Sedangkan ketika pasang, lokasi penanaman telah terendam oleh air.
Ibarat gerilyawan, Soni tahu betul medan pertempuran dan ancaman musuh yang
dihadapi.
Turut
membenamkan tubuhnya ke dalam lumpur, lelaki 53 tahun itu menjelaskan berbagai
hal tentang mangrove kepada para mahasiswa. Mula-mula, Soni menancapkan
bilah-bilah kecil bambu, dengan memerhatikan kerapatannya. Selanjutnya,
dicontohkan bagaimana tanaman mangrove harus dibenamkan ke dalam lumpur dan diikat
dengan tali.
Koordinator
Kelompok Tani Mangrove Wonorejo tersebut menjelaskan, jenis mangrove yang
ditanam kali itu adalah sonneratia alba. Jenis tersebut, menurutnya
tergolong dalam kategori mangrove mayor, yakni memiliki habitat di daerah
pasang-surut. “Beda sama mangrove minor yang tumbuh di daerah yang jarang kena
pasang-surut, sang Pencipta sudah mendesain dia (sonneratia alba)
memiliki akar-akar yang menancap kuat hingga 20 meter ke dalam tanah,” ujar
Soni.
Lima
belas tahun bergiat dalam konservasi mangrove, mantan pekerja kontrak PLN itu
bisa dibilang saksi yang sahih bagaimana mangrove yang dulu disisia-siakan
manusia kini menjadi simbol gerakan pro-lingkungan. Dahulu, Soni menggambarkan,
tak banyak yang peduli ketika warga membabat hutan mengrove Pamurbaya untuk
tambak atau menebang pohon-pohon mangrove besar untuk dijual sebagai material
kayu.
Sejalan
dengan berkembangannya kampanye lingkungan, menurut Soni, aktivitas menanam
mengrove kini menjadi salah satu budaya yang popular. Tak heran, mulai dari
masyarakat pesisir, murid TK, mahasiswa, hingga perusahaan-perusahaan besar
kerap mencurahkan kontribusi mereka untuk penghijauan hutan mangrove.
Terlepas
apapun motivasinya, entah senang-senang atau promosi perusahaan, Soni senang
bisa membawa semakin banyak orang peduli hutan mangrove. Tak hanya giat menanam
mangrove, karena kecintaan dan ketelatenannya, Soni yang hanya lulusan SMK itu
telah berhasil mengembangkan berbagai produk pemanfaatan mangrove.
Buah
tangannya yang paling terkenal adalah sirup dari buah mangrove. Selain itu soni
juga membuat beras mangrove, dodol mangrove, brownies mangrove, dan masih
banyak lagi. Kelompok Tani Mangrove Wonorejo yang dia dirikan sejak 2006.
Bersama dia, kini bergabung para pemuda, termasuk sejumlah alumni pergguruan
tinggi di Surabaya.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Desember 2014.
Ramai-Ramai Fotografi Jalanan
![]() |
| Foto: AUWH/celesteprize.com |
Fotografi kini menjadi salah satu tren yang paling digemari kaum muda perkotaan. Ramai-ramai budaya fotografi terasa, mulai dari munculnya banyak komunitas penghobi fotografi hingga perdebatan berbagai isu fotografi. Salah satu tema yang sedang hangat diperbincangkan adalah soal street photography atau fotografi jalanan.
Turut menyemarakan
diskursus fotografi jalanan, Selasa malam, 10 Juni 2014, Komunitas Salihara
menyelenggarakan dikusi publik bertema “Jakarta and Street Photography”.
Bertempat di Serambi Salihara, kompleks Komunitas Salihara di Jakarta Selatan,
acara tersebut ramai dihadiri seratusan orang, yang didominasi wajah muda-mudi
. Sebagai pembicara, hadir Erik Prasetia, praktisi fotografi senior, serta Irma
Chantily, pengajar fotografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Sebagai fotografer
yang sudah 25 tahun menekuni genre fotografi jalanan, Erik menarik satu
kesimpulan bahwa di Indonesia, konsep fotografi jalanan masih belum dipahami
sepenuhnya, terutama oleh para pehobi muda.
Menurut Erik, meskipun memiliki irisan, fotografi jalanan dapat
dibedakan dari fotografi dokumenter atau fotografi jurnalistik. Sebagai titik
pangkal, Erik mengemukakan pemahamannya bahwa fotografi jalanan adalah sebuah
pendekatan yang berusaha menangkap emosi sebuah kota dengan berbegai cara.
![]() |
| Foto: David Parker/urbantimes.co |
Menurut Erik,
cara-cara dalam pendekatan tersebut khas, dan bisa dibedakan dari jenis
pendeketan lain. Dia mencontohkan, berbeda dengan fotografi dokumenter,
fotografi jalanan bersifat subjektif, diambil secara candid atau alami, serta
mengutamakan estetika daripada kelengkapan informasi. Sebaliknya, menurut dia,
fotografi dokumenter bersifat objektif, bisa direka, serta lebih mengutamakan
kelengkapan informasi daripada estetika.
Sementara
dibandingkan dengan fotografi jurnalistik, menurut Erik, fotografi jalanan
bersifat mengabadikan peristiwa bertegangan rendah dan bersifat keseharian,
sedangkan fotografi jurnalistik, membidik peristiwa bertegangan tinggi serta
bersifat dramatis. “Tapi semua memiliki irisan, sehingga masing-masing genre
kadang memiliki unsur dari genre-genre lain,” ujar dia.
Beberapa kali Erik
menekankan, fotografi jalanan adalah sebuah pendekatan, bukan semata-mata genre
yang berhubungan dengan lokasi (jalanan). Istilah jalanan digunakan mengacu
pada sejarah kemunculannya yang banyak mengabadikan peristiwa-peristiwa di sekitar
jalan. “Fotografi jurnalistik intinya memotret di ruang publik, bukan ruang
privat. Ruang publik, bisa bersifat konkret, seperti jalan, taman, pasar atau
kendaraan umum. Bisa juga bersifat konseptual, yakni relasi manusia dengan
dunia publik, bukan dunia batin,” kata dia.
Sementara itu, Irma
Chantily berpendapat, pendekatan fotografi jalanan semakin populer seiring
dengan perkembangan teknologi kamera, serta media informasi internet dan media
sosial. Namun demikian, menurut Irma, foto-foto yang mengabadikan aktivitas
jalanan kota dan manusianya sudah ada sejak akhir abad ke-19, meskipun istilah
“street photography” atau fotografi
jalanan baru mucul pada tahun 1990-an.
Di antara sejumlah
generasi awal fotografer jalanan, Irma menyebut fotografer Prancis Henri
Cartier-Bresson (1908-2004) berjasa dalam meletakan dasar-dasar fotografi
jalanan. Menurut Irma, prinsip Bresson tentang “decisive moment” masih dijadikan acuan oleh para pelaku fotografi
jalanan. Dikutip Irma, Bresson menganggap ada momen puncak di dalam suatu
peristiwa, dan keberhasilan fotografer adalah menangkap peristiwa tersebut.
Di Jakarta sendiri,
menurut Irma, tradisi awal fotografi jalanan bisa dikaitkan dengan keberadaan
para penjaja jasa foto di sekitar Monas sejak 1970-an. Irma berpendapat, pada
prinsipnya, mereka mempraktikan apa yang sekarang dikenal sebagai fotografi
jalanan. “Sang fotografer akan memanfaatkan perfeksi, kedalaman serta cara
pandang lensa, sehingga Anda bisa berlagak menyentuh, memeluk, atau menduduki
Monas,” ujar Irma.
Berlangsung sekitar
dua jam, diskusi berjalan hangat. Berbagai tanggapan dan pertanyaan mengemuka,
dari mulai soal etika memotret wajah orang, hingga kiat-kiat memotret suasana
Kota Jakarta.
Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014
Ketika Mahluk Galaksi Hebohkan Jakarta
![]() |
| Foto: Adriandhy/deviantart.com |
Jakarta, akhir pekan di awal Mei 2014, geger diserbu para mahluk galaksi. Dua kubu, baik dan jahat, terlibat peperangan. Aidan, bocah Bumi berumur enam tahun, turut mengangkat senjatanya. Tak terlihat takut, bocah kelas enam SD itu menembaki sejumlah prajurit jahat yang dia temui. Atas kebaikannya membantu pasukan baik, Aidan mendapat stiker tanda jasa. Dia tampak senang dan berlari menuju ibunya.
Begitu sedikit cerita dari Star Wars Weekend
Jakarta 2014, pesta akbar para penggemar Star Wars di Indonesia. Digelar akhir
pekan lalu di mal Kuningan City, Jakarta Selatan, kegitan tersebut menghadirkan
semua hal tentang Star Wars, film fiksi ilmiah rekaan Hollywood. Mulai dari peragaan
kostum, pameran poster, pameran mainan dan pernak-pernik, dan lain-lain, ada di
sana.
Kisah bocah Aidan di atas terjadi di salah
satu pojok, di stan 501st (baca: five-o-first) Legion Indonesia. Dalam
kegitan tersebut, 501st Legion, komunitas kreator dan pencinta kostum Star
Wars, menyuguhkan permainan amal bertema “Blast A Trooper”. Dengan
membayar Rp 20 ribu, pengunjung bisa bersenang-senang menembaki para
Stormtrooper, yakni pasukan jahat dalam kisah Star Wars. Menurut panitia,
seluruh dana yang terumpul dari permainan amal tersebut akan disumbangkan kepada
Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo.
Serunya Star Wars Weekend terasa, bahkan
sebelum saya memasuki gerbang
arena kegiatan. Mendengar musik orkestra pengiringnya yang khas, atmosfer Star
Wars langsung mendominasi perasaan. Terlebih berjumpa dengan orang-orang
berkostum tokoh Star Wars, suasana kadang benar-benar terasa seperti berada di galaksi
ruang angkasa. Semua tampak begitu mirip, dari mulai Darth Veder, si pemimpin
pasukan jahat, hingga R2-D2, robot penyimpan pesan yang menggemaskan.
Rahmi, seorang ibu muda datang bersama putera-puterinya,
Haman (7) dan Raka (4). Sejak kecil, Rahmi mengaku menggemari film-film Star
Wars, bahkan berhasil menularkan kegemarannya itu pada anak-anaknya. Haman,
anak tertuanya, kata dia, begitu menyukai Star Wars, bahkan masih sering
menonton film-filmnya berulang-ulang. “Filmnya menurut saya, sih,
edukatif, aman lah buat ditonton anak-anak,” ujar Rahmi.
Rahmi yang seorang desain grafis kali itu sengaja
membuatkan jubah kaum Jawa (mahluk-mahluk mungil penghuni planet Tatooine)
untuk kedua anaknya. Haman tampak asik memain-mainkan lightsaber, pedang
bersinar milik para tokoh jagoan dalam Star Wars. Sementra adiknya, Raka,
terlihat senang bermain di kolam lego.
Menikmati meriahnya Star Wars Weekend rasanya
tak cukup hanya dengan satu atau dua jam, terlebih bagi mereka para pehobi Star
Wars. Berbagai pertunjukan ditampilkan di panggung yang desain khusus bergaya
luar angkasa, dari mulai atraksi lightsaber, hingga parade kostum tokoh-tokoh
Star Wars.
Riza Satyagraha, salah seorang inisiator
kegiatan, menjelaskan, Star Wars Weekend diselenggarakan sebagai perayaan
Star Wars Day yang jatuh setiap tanggal 4 Mei. Pada tanggal tersebut, menurut
Riza, penggemar Star Wars di seluruh dunia akan menyelenggarakan berbagai
kegiatan seputar Star Wars. “Kegiatan ini bertujuan mempopulerkan Star Wars di
Indonesia, selebihnya menjadi tempat berbagi sesama penggemar Star Wars,” ujar
Riza, yang juga pegiat Order 66, kominitas penggemar Star Wars terbesar di
Indonesia.
Menurut Riza, tahun ini, penyelenggaraan Star
Wars Weekend adalah yang ketiga kalinya di Indonesia. Tahun ini, kata dia,
panitia menargetkan seribu hingga 1200 pengunjung, setelah tahun sebelumnya
sukses dihadiri lebih dari 800 orang.
“Star Wars”, dari Film ke Budaya Pop
![]() |
| Foto: magz.shoutnet.co |
Bermula dari sebuah film, Star Wars kini
menjadi salah satu budaya populer yang mendunia. Sejak pertama kali dirilis
pada 1977, Star Wars berhasil mendapat pengakuan sebagai salah satu tonggak
perfilman fiksi ilmiah. Saking gandrungnya banyak orang terhadap cerita
rekaan George Lucas tersebut, para penggemar membuat peringatan khusus bernama
Star Wars Day.
Star Wars Day yang jatuh setiap 4 Mei,
ditetapkan mengacu pada sejumlah momen bersejarah dalam perjalanan Star Wars.
Kini, Star Wars Day dirayakan di seluruh dunia, dimotori oleh
komunitas-komunitas penggemar, yang juga terorganisasi secara internasional. Di
Indonesia, akhir pekan di awal Mei 2014, Star Wars Day dirayakan di mal
Kuningan City, Jakarta Selatan, dengan tajuk Star Wars Weekend Jakarta 2014.
Star Wars adalah cerita peperangan
antarkelompok mahluk galaksi, yang berpusat pada pertentangan dua kubu, yakni
Galactic Empire yang ingin menguasai tatasurya, melawan Rebel Alliance,
kelompok yang bertekad mengembalikan perdamaian. Hingga kini, telah terbit enam
film Star Wars. Trilogi pertama, yang kemudian disebut original trilogy dirilis
berturut-turut pada 1977, 1980, dan 1983. Sementara trilogi kelanjutannya
diluncurkan pada 1999, 2002,dan 2005. Menyusul kesuksesan dua trilogi
sebelumnya, trilogi ketiga diberitakan sedang diproduksi, dan akan mulai
diluncurkan pada 2015 ini.
Menurut Aryo Gono, pegiat 501st Legion
Indonesia, komunitas penggemar Star Wars Indonesia yang terafiliasi secara
internasional, kisah Star Wars sebenarnya tak beda dengan kisah kepahlawanan
lainnya. Diceritakan, kubu baik melawan kubu jahat, dibumbui dengan
drama-drama, yang menurut Aryo, tak lebih dari opera sabun. Namun demikian, menurut
Aryo, yang istimewa adalah latar kisah tersebut yang berlangsung di luar
angkasa. “Ketika itu, konsep seperti ini untuk pertama kalinya diciptakan,”
ujar Aryo.
Bagi Aryo, yang sudah menggemari Star Wars
sejak 1980-an, imajinasi si pembuat (George Lucas) tetang kehidupan tatasurya
sangat orisinal. Tak heran, sejak kemuculannya, tema luar angkasa mulai
digemari secara populer, termasuk menginspirasi lahirnya film-film sejenis.
Orisinalitas juga mencakup karakter-karakter yang diciptakan, yang hingga kini
masih sangat ikonik. Sebut saja Darth Veder, Strormtrooper, atau robot C-3PO.
Aryo menceritakan, komunitas 501st Legion,
berfokus pada minat kreasi dan apresiasi kostum Star Wars. Diceritakan Aryo,
anggota 501st Legion berkreasi dengan cara mengimitasi semirip mungkin karakter
aslinya. Kadang, menurut dia, untuk membuat kostum yang bagus dan mirip,
diperlukan biaya yang tidak murah. Kostum Stormtrooper yang dia buat misalnya,
menghabiskan dana hingga Rp 7 juta. “Seperti halnya orang lain yang punya hobi,
ya, inilah hobi kami. Menerut kami, sih, uang yang dikeluarkan
tak seberapa kalau dibanding hobi golf, diving,
dan yang lainnya, yang lebih mahal,” ujar dia seraya tertawa.
Selain 501st legion, menurut Aryo, di
Indonesia masih ada sejumlah kelompok penggemar lainnya. Ia mencontohkan,
yang sedang booming di kalangan anak-anak muda perkotaan adalah
komunitas atraksi lightsaber, pedang sinar, senjata para jagoan di dalam
cerita Star Wars. Seperti kali itu, sejumlah komunitas lightsaber dijadwalkan
menunjukan atraksinya di atas panggung, berupa koreografi pertarungan.
Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Perjalanan Mudah dan Murah Ala Backpacker
![]() | |
Foto: makanjalan.com
|
Tahun 2013 lalu, Ali melancong ke tiga negara sekaligus: Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selama beberapa pekan di sana, pemuda 26 tahun itu memuaskan diri berkunjung ke berbagai destinasi wisata. Tak lupa, ia juga membeli sejumlah suvenir untuk kawan-kawannya di tanah air. Banyak orang mengira, dia pasti mengeluarkan banyak modal untuk itu. Ternyata, Ali mengaku hanya menghabiskan uang tak lebih dari Rp 2,3 juta.
Itulah sepenggal
kisah seorang backpacker alias
wisatawan beransel. Dalam kamus mereka, sudah tak ada lagi istilah takut keluar
ngeri karena urusan biaya. Di usianya yang masih muda, dengan uang hasil
kerjanya sendiri, Ali mengaku telah mengunjungi berbagai tempat di belasan
negara, termasuk yang terakhir, mendaki pegunungan es di Nepal. Ali adalah satu
dari ribunan warga Indonesia penghobi backpacking
yang bergabung dalam komunitas Backpacker Dunia.
Akhir pekan lalu,
lebih dari 200 orang anggota Backpacker Dunia region Jakarta menggelar
pertemuan bulanan rutin mereka. Bertempat di Museum Mandiri, Kawasan Kota Tua,
Jakarta Utara, mereka saling berbagi pengalaman. Beberapa orang bergantian
tampil ke depan menceritakan perjalanan baru mereka. Hadirin meresponnya dengan
berbagai pertanyaan, dari mulai biaya, jalur perjalanan, tempat-tempat bagus
yang direkomendasikan, serta lain sebagainya.
Setidaknya satu
dekade terakhir, backpacking mulai
membudaya Indonesia, khususnya di kalangan kaum muda perkotaan. Demam backpacking hadir seiring dengan
bermunculannya berbagai maskapai penerbangan murah, sehingga berpergian ke luar
negeri menjadi jauh lebih terjangkau. Karena akses yang cepat, perjalanan ke
luar negeri bisa dilakukan di sela-sela waktu sibuk, tanpa harus mengganggu
pekerjaan. Tak heran, salah satu kebiasaan unik para backpacker adalah memantau situs-situs penjaja tiket penerbangan untuk
berburu penerbangan murah.
Selain soal
kemudahan akses transportasi, kemajuan teknologi informasi juga berperan
signifikan trrhadap budaya backpacking.
Orang-orang kini tak takut lagi bertualang ke tempat-tempat asing karena informasi
dapat dengan mudah ditemukan melalui gawai (gadget)
mereka, entah komputer jinjing atau ponsel pintar.
Tak kalah penting,
budaya wisata beransel juga tumbuh disokong oleh keterbukaan politik dan
ekonomi negara-negara di dunia. Hanya beberapa negara saja yang masih tertutup dan
sulit dikunjungi, seperti Korea Utara atau negara-negara yang tengah dilanda
konflik. Selebihnya, pemerintah negara-negara dunia justeru berlomba-lomba
merangkul para wisatawan mancanegara untuk datang ke negeri mereka.
Berbekal beberapa
potong pakaian dalam ransel dan uang alakadarnya, para backpacker tak ragu melanglang buana ke negeri-negeri asing. Tak
ingin hanya sekedar lewat, banyak dari mereka mengabadikan petualangannya dalam
bentuk catatan, foto atau video. Tak heran, buku-buku kisah perjalanan kini
menjamur di rak-rak toko buku.
Sebagian penghobi
wisata beransel menganggap backpacking
bukan sekedar jalan-jalan, melainkan sebuah media edukasi. Bagi sebagian besar
mereka, monumen atau tugu tak begitu menarik. Mereka lebih suka menyelami
kebudayaan dan menjalin pertemanan dengan masyarakat lokal di tempat-tempat asing
yang dikunjungi.
Ketika Ratusan
Backpacker Berkumpul
![]() |
| Foto: xtreamegapyear.co.za |
Begitu banyak orang
mengidamkan perjalanan ke luar negeri. Sayang, tak banyak yang beruntung bisa
mewujudkannya. Faktor biaya sering dikeluhkan sebagai kendala utama. Selebihnya
adalah soal bermacam kebingungan, dari mulai mengurus administrasi hingga
ketidakpercayaan diri karena tak cakap berbahasa asing.
Ruang pertemuan
berdaya tampung 200 orang di Museum Mandiri, Jakarta Utara, suatu sore di
penghujung April sesak oleh manusia. Sebagian harus puas berdiri karena tak
mendapatkan kursi. Di depan, seorang pemuda terlihat bersemangat menyampaikan
presentasi, lengkap dengan gambar-gambar peraga di layar besar. Pemuda itu tak
sedang menggantikan dosennya memberi kuliah. Dia tengah berbagi cerita
perjalanan terbarunya, mendaki pegunungan bersalju di Nepal.
Mereka yang
berkumpul di sana adalah para pegiat komunitas Backpaker Dunia, wadah yang
menampung para penghobi wisata beransel ke luar negeri. Sebulan sekali mereka bertemu,
saling berbagi cerita dan pengalaman. Beberapa orang akan tampil ke depan
secara bergantian untuk menceritakan perjalanan terbaru mereka. Selebihnya,
saling tukar informasi mengalir begitu saja dari mulut ke mulut.
Sore itu, dan konon
seperti biasanya, pertemuan terasa seperti pesta sekumpulan teman lama. Patut
dimaklum, sehari-hari mereka dipisahkan berbagi aktivitas dan hanya bisa saling
sapa melalalui situs jejaring sosial. Orang-orang, dari yang terlihat sangat
belia hingga para ibu-bapak berwajah 50-an tahun bersendagurau dengan begitu lepas.
Di meja belakang, seabrek penganan, dari permen, makanan ringan kemasan, hingga
kue tradisional menumpuk tak karuan. Makanan-makanan itu dibawa para BDers,
sebutan untuk anggota mereka, secara sukarela.
Kepada saya, Elok
Dyah Messwati, sang inisiator komunitas, berbagi cerita. Dikisahkan Elok,
Semula, Backpacker Dunia hanyalah sebuah grup di Facebook. Dia membuatnya pada
2009 untuk sekedar mempromosikan buku catatan perjalanannya ke Australia, serta
mengundang para penghobi backpacking
datang menghadiri peluncuran bukunya. Tak di sangka, anggota grup itu terus
bertambah, bahkan kini tercatat hampir 65 ribu (Maret 2015).
Pertemuan rutin pun
digagas Elok agar anggota mengenal lebih dekat satu sama lain. Terlebih, itu
dilakukan demi menghindari modus penipuan yang mungkin terjadi di antara
mereka. Komunitas tersebut semakin berkembang dan hadir di berbagai region di tanah
air. Di Jakarta, pertemuan sudah menginjak tahun kelima, dan dua tahun terakhir
rutin digelar di Museum Mandiri.
“Komunitas ini,
anggotanya dari mulai anak 14 tahun hingga orang tua, dari orang yang enggak punya duit sampai milyarder,
semua ada. Lewat grup ini aku kepingin
menyampaikan satu hal, bahwa jalan-jalan keluar negeri enggak sulit dan enggak
musti mahal,” ujar Elok.
Hal yang lebih
penting bagi Elok, dia ingin mengampanyekan budaya berani berpergian sendiri.
Menurut Elok, berpergian sendiri adalah seni sebuah perjalanan, yang membuat
orang menemukan kemerdekaannya. Selain itu, bertualang sendiri juga jauh lebih
murah, tanpa perlu mengeluarkan uang yang dia anggap tidak perlu, misalnya
untuk agensi wisata. Menurut Elok, komunitas tersebut ingin menyadarkan
masyarakat bahwa berwisata ke luar negeri bukan lagi mimpi.
Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah dimuat di Harian Republika, Mei 2014.
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)







