Bergerilya di Hutan Mangrove

Mahasiswa menanam mangrove di pantai Surabaya, Desember 2014. Foto: Andi Nurroni
Hampir separuh badan Gatot terbenam ke dalam lumpur. Seperti lalat terjerat jaring laba-laba, mahasiswa tingkat akhir itu berjibaku menarik tububuhnya ke luar dari bekapan lumpur yang hitam pekat. Sekuat tenaga ia berusaha membebaskan diri, namun medan lumpur yang kelewat gembur dan licin itu sangat sulit ditaklukan.
Gatot tidak sendiri terjebak di dalam lumpur. Sejumlah temannya yang lain juga mengalami hal yang sama. Walhasil, keriuhan dan tawa meledak mengolok-olok sesama mereka. Gatot dan 40-an kawannya tidak sedang mengikuti lomba Agustusan. Awal Desember 2014 lalu, Rombongan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) salah satu universitas swasta di Surabaya itu sedang melakukan bakti menanam pohon mangrove. Saya ada di antara mereka.

Lokasi penanaman ratusan benih mangrove tersebut berada di kawasan Muara Kali Gunung Anyar, Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Untuk mencapai titik itu, rombongan mahasiswa harus menyewa beberapa perahu nelayan yang bersandar di dermaga Desa Gunung Anyar Tambak. Menyusuri sungai yang diapit rawa hutan mangrove, butuh Sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.

Soni Mohoson, pemandu mereka, tak hentinya menyungging senyum melihat polah anak-anak muda itu. Soni-lah yang membawa para mahasiswa ke sana. Titik itu telah Soni survei sebelumnya untuk memastikan bibit-bibit mangrove yang baru ditancapkan tidak mengalami kekeringan, juga tidak karam ketika rob datang.

Waktu penanaman telah diperhitungkan benar, pagi-pagi, sebelum pukul 09.00. Itulah saat pertemuan surut dan psang. Jika air terlalu surut, menurut Soni, perahu bisa kandas. Sedangkan ketika pasang, lokasi penanaman telah terendam oleh air. Ibarat gerilyawan, Soni tahu betul medan pertempuran dan ancaman musuh yang dihadapi.

Turut membenamkan tubuhnya ke dalam lumpur, lelaki 53 tahun itu menjelaskan berbagai hal tentang mangrove kepada para mahasiswa. Mula-mula, Soni menancapkan bilah-bilah kecil bambu, dengan memerhatikan kerapatannya. Selanjutnya, dicontohkan bagaimana tanaman mangrove harus dibenamkan ke dalam lumpur dan diikat dengan tali.

Koordinator Kelompok Tani Mangrove Wonorejo tersebut menjelaskan, jenis mangrove yang ditanam kali itu adalah sonneratia alba. Jenis tersebut, menurutnya tergolong dalam kategori mangrove mayor, yakni memiliki habitat di daerah pasang-surut. “Beda sama mangrove minor yang tumbuh di daerah yang jarang kena pasang-surut, sang Pencipta sudah mendesain dia (sonneratia alba) memiliki akar-akar yang menancap kuat hingga 20 meter ke dalam tanah,” ujar Soni.    

Lima belas tahun bergiat dalam konservasi mangrove, mantan pekerja kontrak PLN itu bisa dibilang saksi yang sahih bagaimana mangrove yang dulu disisia-siakan manusia kini menjadi simbol gerakan pro-lingkungan. Dahulu, Soni menggambarkan, tak banyak yang peduli ketika warga membabat hutan mengrove Pamurbaya untuk tambak atau menebang pohon-pohon mangrove besar untuk dijual sebagai material kayu.

Sejalan dengan berkembangannya kampanye lingkungan, menurut Soni, aktivitas menanam mengrove kini menjadi salah satu budaya yang popular. Tak heran, mulai dari masyarakat pesisir, murid TK, mahasiswa, hingga perusahaan-perusahaan besar kerap mencurahkan kontribusi mereka untuk penghijauan hutan mangrove.

Terlepas apapun motivasinya, entah senang-senang atau promosi perusahaan, Soni senang bisa membawa semakin banyak orang peduli hutan mangrove. Tak hanya giat menanam mangrove, karena kecintaan dan ketelatenannya, Soni yang hanya lulusan SMK itu telah berhasil mengembangkan berbagai produk pemanfaatan mangrove.


Buah tangannya yang paling terkenal adalah sirup dari buah mangrove. Selain itu soni juga membuat beras mangrove, dodol mangrove, brownies mangrove, dan masih banyak lagi. Kelompok Tani Mangrove Wonorejo yang dia dirikan sejak 2006. Bersama dia, kini bergabung para pemuda, termasuk sejumlah alumni pergguruan tinggi di Surabaya.

Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Desember 2014.

POSTED BY
POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Ramai-Ramai Fotografi Jalanan

Foto: AUWH/celesteprize.com
Fotografi kini menjadi salah satu tren yang paling digemari kaum muda perkotaan. Ramai-ramai budaya fotografi terasa, mulai dari munculnya banyak komunitas penghobi fotografi hingga perdebatan berbagai isu fotografi. Salah satu tema yang sedang hangat diperbincangkan adalah soal street photography atau fotografi jalanan.
Turut menyemarakan diskursus fotografi jalanan, Selasa malam, 10 Juni 2014, Komunitas Salihara menyelenggarakan dikusi publik bertema “Jakarta and Street Photography”. Bertempat di Serambi Salihara, kompleks Komunitas Salihara di Jakarta Selatan, acara tersebut ramai dihadiri seratusan orang, yang didominasi wajah muda-mudi . Sebagai pembicara, hadir Erik Prasetia, praktisi fotografi senior, serta Irma Chantily, pengajar fotografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Sebagai fotografer yang sudah 25 tahun menekuni genre fotografi jalanan, Erik menarik satu kesimpulan bahwa di Indonesia, konsep fotografi jalanan masih belum dipahami sepenuhnya, terutama oleh para pehobi muda.  Menurut Erik, meskipun memiliki irisan, fotografi jalanan dapat dibedakan dari fotografi dokumenter atau fotografi jurnalistik. Sebagai titik pangkal, Erik mengemukakan pemahamannya bahwa fotografi jalanan adalah sebuah pendekatan yang berusaha menangkap emosi sebuah kota dengan berbegai cara.
Foto: David Parker/urbantimes.co
Menurut Erik, cara-cara dalam pendekatan tersebut khas, dan bisa dibedakan dari jenis pendeketan lain. Dia mencontohkan, berbeda dengan fotografi dokumenter, fotografi jalanan bersifat subjektif, diambil secara candid atau alami, serta mengutamakan estetika daripada kelengkapan informasi. Sebaliknya, menurut dia, fotografi dokumenter bersifat objektif, bisa direka, serta lebih mengutamakan kelengkapan informasi daripada estetika.
Sementara dibandingkan dengan fotografi jurnalistik, menurut Erik, fotografi jalanan bersifat mengabadikan peristiwa bertegangan rendah dan bersifat keseharian, sedangkan fotografi jurnalistik, membidik peristiwa bertegangan tinggi serta bersifat dramatis. “Tapi semua memiliki irisan, sehingga masing-masing genre kadang memiliki unsur dari genre-genre lain,” ujar dia.
Beberapa kali Erik menekankan, fotografi jalanan adalah sebuah pendekatan, bukan semata-mata genre yang berhubungan dengan lokasi (jalanan). Istilah jalanan digunakan mengacu pada sejarah kemunculannya yang banyak mengabadikan peristiwa-peristiwa di sekitar jalan. “Fotografi jurnalistik intinya memotret di ruang publik, bukan ruang privat. Ruang publik, bisa bersifat konkret, seperti jalan, taman, pasar atau kendaraan umum. Bisa juga bersifat konseptual, yakni relasi manusia dengan dunia publik, bukan dunia batin,” kata dia.
Sementara itu, Irma Chantily berpendapat, pendekatan fotografi jalanan semakin populer seiring dengan perkembangan teknologi kamera, serta media informasi internet dan media sosial. Namun demikian, menurut Irma, foto-foto yang mengabadikan aktivitas jalanan kota dan manusianya sudah ada sejak akhir abad ke-19, meskipun istilah “street photography” atau fotografi jalanan baru mucul pada tahun 1990-an.
Di antara sejumlah generasi awal fotografer jalanan, Irma menyebut fotografer Prancis Henri Cartier-Bresson (1908-2004) berjasa dalam meletakan dasar-dasar fotografi jalanan. Menurut Irma, prinsip Bresson tentang “decisive moment” masih dijadikan acuan oleh para pelaku fotografi jalanan. Dikutip Irma, Bresson menganggap ada momen puncak di dalam suatu peristiwa, dan keberhasilan fotografer adalah menangkap peristiwa tersebut.
Di Jakarta sendiri, menurut Irma, tradisi awal fotografi jalanan bisa dikaitkan dengan keberadaan para penjaja jasa foto di sekitar Monas sejak 1970-an. Irma berpendapat, pada prinsipnya, mereka mempraktikan apa yang sekarang dikenal sebagai fotografi jalanan. “Sang fotografer akan memanfaatkan perfeksi, kedalaman serta cara pandang lensa, sehingga Anda bisa berlagak menyentuh, memeluk, atau menduduki Monas,” ujar Irma.

Berlangsung sekitar dua jam, diskusi berjalan hangat. Berbagai tanggapan dan pertanyaan mengemuka, dari mulai soal etika memotret wajah orang, hingga kiat-kiat memotret suasana Kota Jakarta. 

Cat.: Tulisan ini, dengan penyuntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Juni 2014

POSTED BY
POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Ketika Mahluk Galaksi Hebohkan Jakarta


Foto: Adriandhy/deviantart.com
Jakarta, akhir pekan di awal Mei 2014, geger diserbu para mahluk galaksi. Dua kubu, baik dan jahat, terlibat peperangan. Aidan, bocah Bumi berumur enam tahun, turut mengangkat senjatanya. Tak terlihat takut, bocah kelas enam SD itu menembaki sejumlah prajurit jahat yang dia temui. Atas kebaikannya membantu pasukan baik, Aidan mendapat stiker tanda jasa. Dia tampak senang dan berlari menuju ibunya.
Begitu sedikit cerita dari Star Wars Weekend Jakarta 2014, pesta akbar para penggemar Star Wars di Indonesia. Digelar akhir pekan lalu di mal Kuningan City, Jakarta Selatan, kegitan tersebut menghadirkan semua hal tentang Star Wars, film fiksi ilmiah rekaan Hollywood. Mulai dari peragaan kostum, pameran poster, pameran mainan dan pernak-pernik, dan lain-lain, ada di sana.
Kisah bocah Aidan di atas terjadi di salah satu pojok, di stan 501st (baca: five-o-first) Legion Indonesia. Dalam kegitan tersebut, 501st Legion, komunitas kreator dan pencinta kostum Star Wars, menyuguhkan permainan amal bertema “Blast A Trooper”. Dengan membayar Rp 20 ribu, pengunjung bisa bersenang-senang menembaki para Stormtrooper, yakni pasukan jahat dalam kisah Star Wars. Menurut panitia, seluruh dana yang terumpul dari permainan amal tersebut akan disumbangkan kepada Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo.  
Serunya Star Wars Weekend terasa, bahkan sebelum saya memasuki gerbang arena kegiatan. Mendengar musik orkestra pengiringnya yang khas, atmosfer Star Wars langsung mendominasi perasaan. Terlebih berjumpa dengan orang-orang berkostum tokoh Star Wars, suasana kadang benar-benar terasa seperti berada di galaksi ruang angkasa. Semua tampak begitu mirip, dari mulai Darth Veder, si pemimpin pasukan jahat, hingga R2-D2, robot penyimpan pesan yang menggemaskan.
Rahmi, seorang ibu muda datang bersama putera-puterinya, Haman (7) dan Raka (4). Sejak kecil, Rahmi mengaku menggemari film-film Star Wars, bahkan berhasil menularkan kegemarannya itu pada anak-anaknya. Haman, anak tertuanya, kata dia, begitu menyukai Star Wars, bahkan masih sering menonton film-filmnya berulang-ulang. “Filmnya menurut saya, sih, edukatif, aman lah buat ditonton anak-anak,” ujar Rahmi.
Rahmi yang seorang desain grafis kali itu sengaja membuatkan jubah kaum Jawa (mahluk-mahluk mungil penghuni planet Tatooine) untuk kedua anaknya. Haman tampak asik memain-mainkan lightsaber, pedang bersinar milik para tokoh jagoan dalam Star Wars. Sementra adiknya, Raka, terlihat senang bermain di kolam lego.
Menikmati meriahnya Star Wars Weekend rasanya tak cukup hanya dengan satu atau dua jam, terlebih bagi mereka para pehobi Star Wars. Berbagai pertunjukan ditampilkan di panggung yang desain khusus bergaya luar angkasa, dari mulai atraksi lightsaber, hingga parade kostum tokoh-tokoh Star Wars.
Riza Satyagraha, salah seorang inisiator kegiatan,  menjelaskan, Star Wars Weekend diselenggarakan sebagai perayaan Star Wars Day yang jatuh setiap tanggal 4 Mei. Pada tanggal tersebut, menurut Riza, penggemar Star Wars di seluruh dunia akan menyelenggarakan berbagai kegiatan seputar Star Wars. “Kegiatan ini bertujuan mempopulerkan Star Wars di Indonesia, selebihnya menjadi tempat berbagi sesama penggemar Star Wars,” ujar Riza, yang juga pegiat Order 66, kominitas penggemar Star Wars terbesar di Indonesia.
Menurut Riza, tahun ini, penyelenggaraan Star Wars Weekend adalah yang ketiga kalinya di Indonesia. Tahun ini, kata dia, panitia menargetkan seribu hingga 1200 pengunjung, setelah tahun sebelumnya sukses dihadiri lebih dari 800 orang.

“Star Wars”, dari Film ke Budaya Pop
Foto: magz.shoutnet.co
Bermula dari sebuah film, Star Wars kini menjadi salah satu budaya populer yang mendunia. Sejak pertama kali dirilis pada 1977, Star Wars berhasil mendapat pengakuan sebagai salah satu tonggak  perfilman fiksi ilmiah. Saking gandrungnya banyak orang terhadap cerita rekaan George Lucas tersebut, para penggemar membuat peringatan khusus bernama Star Wars Day.
Star Wars Day yang jatuh setiap 4 Mei, ditetapkan mengacu pada sejumlah momen bersejarah dalam perjalanan Star Wars. Kini, Star Wars Day dirayakan di seluruh dunia, dimotori oleh komunitas-komunitas penggemar, yang juga terorganisasi secara internasional. Di Indonesia, akhir pekan di awal Mei 2014, Star Wars Day dirayakan di mal Kuningan City, Jakarta Selatan, dengan tajuk Star Wars Weekend Jakarta 2014.
Star Wars adalah cerita peperangan antarkelompok mahluk galaksi, yang berpusat pada pertentangan dua kubu, yakni Galactic Empire yang ingin menguasai tatasurya, melawan Rebel Alliance, kelompok yang bertekad mengembalikan perdamaian. Hingga kini, telah terbit enam film Star Wars. Trilogi pertama, yang kemudian disebut original trilogy dirilis berturut-turut pada 1977, 1980, dan 1983. Sementara trilogi kelanjutannya diluncurkan pada 1999, 2002,dan 2005. Menyusul kesuksesan dua trilogi sebelumnya, trilogi ketiga diberitakan sedang diproduksi, dan akan mulai diluncurkan pada 2015 ini.  
Menurut Aryo Gono, pegiat 501st Legion Indonesia, komunitas penggemar Star Wars Indonesia yang terafiliasi secara internasional, kisah Star Wars sebenarnya tak beda dengan kisah kepahlawanan lainnya. Diceritakan, kubu baik melawan kubu jahat, dibumbui dengan drama-drama, yang menurut Aryo, tak lebih dari opera sabun. Namun demikian, menurut Aryo, yang istimewa adalah latar kisah tersebut yang berlangsung di luar angkasa. “Ketika itu, konsep seperti ini untuk pertama kalinya diciptakan,” ujar Aryo.
Bagi Aryo, yang sudah menggemari Star Wars sejak 1980-an, imajinasi si pembuat (George Lucas) tetang kehidupan tatasurya sangat orisinal. Tak heran, sejak kemuculannya,  tema luar angkasa mulai digemari secara populer, termasuk menginspirasi lahirnya film-film sejenis. Orisinalitas juga mencakup karakter-karakter yang diciptakan, yang hingga kini masih sangat ikonik. Sebut saja Darth Veder, Strormtrooper, atau robot C-3PO.
Aryo menceritakan, komunitas 501st Legion, berfokus pada minat kreasi dan apresiasi kostum Star Wars. Diceritakan Aryo, anggota 501st Legion berkreasi dengan cara mengimitasi semirip mungkin karakter aslinya. Kadang, menurut dia, untuk membuat kostum yang bagus dan mirip, diperlukan biaya yang tidak murah. Kostum Stormtrooper yang dia buat misalnya, menghabiskan dana hingga Rp 7 juta. “Seperti halnya orang lain yang punya hobi, ya, inilah hobi kami. Menerut kami, sih, uang yang dikeluarkan tak seberapa kalau dibanding hobi golf, diving, dan yang lainnya, yang lebih mahal,” ujar dia seraya tertawa.
Selain 501st legion, menurut Aryo, di Indonesia masih ada  sejumlah kelompok penggemar lainnya. Ia mencontohkan, yang sedang booming di kalangan anak-anak muda perkotaan adalah komunitas atraksi lightsaber, pedang sinar, senjata para jagoan di dalam cerita Star Wars. Seperti kali itu, sejumlah komunitas lightsaber dijadwalkan menunjukan atraksinya di atas panggung, berupa koreografi pertarungan.

Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014


POSTED BY
POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Perjalanan Mudah dan Murah Ala Backpacker

Foto: makanjalan.com

Tahun 2013 lalu, Ali melancong ke tiga negara sekaligus: Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selama beberapa pekan di sana, pemuda 26 tahun itu memuaskan diri berkunjung ke berbagai destinasi wisata. Tak lupa, ia juga membeli sejumlah suvenir untuk kawan-kawannya di tanah air. Banyak orang mengira, dia pasti mengeluarkan banyak modal untuk itu. Ternyata, Ali mengaku hanya menghabiskan uang tak lebih dari Rp 2,3 juta.
Itulah sepenggal kisah seorang backpacker alias wisatawan beransel. Dalam kamus mereka, sudah tak ada lagi istilah takut keluar ngeri karena urusan biaya. Di usianya yang masih muda, dengan uang hasil kerjanya sendiri, Ali mengaku telah mengunjungi berbagai tempat di belasan negara, termasuk yang terakhir, mendaki pegunungan es di Nepal. Ali adalah satu dari ribunan warga Indonesia penghobi backpacking yang bergabung dalam komunitas Backpacker Dunia.
Akhir pekan lalu, lebih dari 200 orang anggota Backpacker Dunia region Jakarta menggelar pertemuan bulanan rutin mereka. Bertempat di Museum Mandiri, Kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, mereka saling berbagi pengalaman. Beberapa orang bergantian tampil ke depan menceritakan perjalanan baru mereka. Hadirin meresponnya dengan berbagai pertanyaan, dari mulai biaya, jalur perjalanan, tempat-tempat bagus yang direkomendasikan, serta lain sebagainya.
Setidaknya satu dekade terakhir, backpacking mulai membudaya Indonesia, khususnya di kalangan kaum muda perkotaan. Demam backpacking hadir seiring dengan bermunculannya berbagai maskapai penerbangan murah, sehingga berpergian ke luar negeri menjadi jauh lebih terjangkau. Karena akses yang cepat, perjalanan ke luar negeri bisa dilakukan di sela-sela waktu sibuk, tanpa harus mengganggu pekerjaan. Tak heran, salah satu kebiasaan unik para backpacker adalah memantau situs-situs penjaja tiket penerbangan untuk berburu penerbangan murah.
Selain soal kemudahan akses transportasi, kemajuan teknologi informasi juga berperan signifikan trrhadap budaya backpacking. Orang-orang kini tak takut lagi bertualang ke tempat-tempat asing karena informasi dapat dengan mudah ditemukan melalui gawai (gadget) mereka, entah komputer jinjing atau ponsel pintar.
Tak kalah penting, budaya wisata beransel juga tumbuh disokong oleh keterbukaan politik dan ekonomi negara-negara di dunia. Hanya beberapa negara saja yang masih tertutup dan sulit dikunjungi, seperti Korea Utara atau negara-negara yang tengah dilanda konflik. Selebihnya, pemerintah negara-negara dunia justeru berlomba-lomba merangkul para wisatawan mancanegara untuk datang ke negeri mereka.
Berbekal beberapa potong pakaian dalam ransel dan uang alakadarnya, para backpacker tak ragu melanglang buana ke negeri-negeri asing. Tak ingin hanya sekedar lewat, banyak dari mereka mengabadikan petualangannya dalam bentuk catatan, foto atau video. Tak heran, buku-buku kisah perjalanan kini menjamur di rak-rak toko buku.
Sebagian penghobi wisata beransel menganggap backpacking bukan sekedar jalan-jalan, melainkan sebuah media edukasi. Bagi sebagian besar mereka, monumen atau tugu tak begitu menarik. Mereka lebih suka menyelami kebudayaan dan menjalin pertemanan dengan masyarakat lokal di tempat-tempat asing yang dikunjungi.

Ketika Ratusan Backpacker Berkumpul
Foto: xtreamegapyear.co.za
Begitu banyak orang mengidamkan perjalanan ke luar negeri. Sayang, tak banyak yang beruntung bisa mewujudkannya. Faktor biaya sering dikeluhkan sebagai kendala utama. Selebihnya adalah soal bermacam kebingungan, dari mulai mengurus administrasi hingga ketidakpercayaan diri karena tak cakap berbahasa asing.
Ruang pertemuan berdaya tampung 200 orang di Museum Mandiri, Jakarta Utara, suatu sore di penghujung April sesak oleh manusia. Sebagian harus puas berdiri karena tak mendapatkan kursi. Di depan, seorang pemuda terlihat bersemangat menyampaikan presentasi, lengkap dengan gambar-gambar peraga di layar besar. Pemuda itu tak sedang menggantikan dosennya memberi kuliah. Dia tengah berbagi cerita perjalanan terbarunya, mendaki pegunungan bersalju di Nepal.
Mereka yang berkumpul di sana adalah para pegiat komunitas Backpaker Dunia, wadah yang menampung para penghobi wisata beransel ke luar negeri. Sebulan sekali mereka bertemu, saling berbagi cerita dan pengalaman. Beberapa orang akan tampil ke depan secara bergantian untuk menceritakan perjalanan terbaru mereka. Selebihnya, saling tukar informasi mengalir begitu saja dari mulut ke mulut.
Sore itu, dan konon seperti biasanya, pertemuan terasa seperti pesta sekumpulan teman lama. Patut dimaklum, sehari-hari mereka dipisahkan berbagi aktivitas dan hanya bisa saling sapa melalalui situs jejaring sosial. Orang-orang, dari yang terlihat sangat belia hingga para ibu-bapak berwajah 50-an tahun bersendagurau dengan begitu lepas. Di meja belakang, seabrek penganan, dari permen, makanan ringan kemasan, hingga kue tradisional menumpuk tak karuan. Makanan-makanan itu dibawa para BDers, sebutan untuk anggota mereka, secara sukarela.
Kepada saya, Elok Dyah Messwati, sang inisiator komunitas, berbagi cerita. Dikisahkan Elok, Semula, Backpacker Dunia hanyalah sebuah grup di Facebook. Dia membuatnya pada 2009 untuk sekedar mempromosikan buku catatan perjalanannya ke Australia, serta mengundang para penghobi backpacking datang menghadiri peluncuran bukunya. Tak di sangka, anggota grup itu terus bertambah, bahkan kini tercatat hampir 65 ribu (Maret 2015).
Pertemuan rutin pun digagas Elok agar anggota mengenal lebih dekat satu sama lain. Terlebih, itu dilakukan demi menghindari modus penipuan yang mungkin terjadi di antara mereka. Komunitas tersebut semakin berkembang dan hadir di berbagai region di tanah air. Di Jakarta, pertemuan sudah menginjak tahun kelima, dan dua tahun terakhir rutin digelar di Museum Mandiri.
“Komunitas ini, anggotanya dari mulai anak 14 tahun hingga orang tua, dari orang yang enggak punya duit sampai milyarder, semua ada. Lewat grup ini aku kepingin menyampaikan satu hal, bahwa jalan-jalan keluar negeri enggak sulit dan enggak musti mahal,” ujar Elok.
Hal yang lebih penting bagi Elok, dia ingin mengampanyekan budaya berani berpergian sendiri. Menurut Elok, berpergian sendiri adalah seni sebuah perjalanan, yang membuat orang menemukan kemerdekaannya. Selain itu, bertualang sendiri juga jauh lebih murah, tanpa perlu mengeluarkan uang yang dia anggap tidak perlu, misalnya untuk agensi wisata. Menurut Elok, komunitas tersebut ingin menyadarkan masyarakat bahwa berwisata ke luar negeri bukan lagi mimpi.

Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah dimuat di Harian Republika, Mei 2014.

POSTED BY
POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments