Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
![]() |
| Foto: Wikipedia/KITLV |
“Kamarku tidak pakai jendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun di siang hari.”
Begitu Sukarno menceritakan kisahnya semasa indekost di rumah HOS Tjokroaminoto. Cerita itu ia tuturkan kepada penulis biografinya, Cindy Adams.
Hunian yang diceritakan Sukarno itu hingga kini masih terjaga dan diabadikan sebagai cagar budaya. Bangunan
sederhana itu terletak di Gang Peneleh VII, Surabaya. Di sana, Sokearno, atau
dahulu masih bernama Koesno Sosrodihardjo, dititipkan ayahnya untuk ‘mondok’ di tempat tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto. Sukarno kala itu tengah menempuh pendidikan Hogere Burgerlijks School (HBS). Pada 1916 saat itu, usianya baru 15 tahun.
Bertamu
ke rumah HOS Tjokro suatu sore di akhir Februari 2015, saya menelusuri cerita
Sukarno tentang rumah tersebut. “Kalau dari perkataan Pak Karno, kemungkinan
sih kamar dia di sini,” ujar Eko Hadiratno, penjaga rumah, menunjukan ruangan
yang kami jejak.
Eko
bercerita, selain berdasarkan cerita Seokarno, jejak sang Proklamator itu di
rumah tersebut juga ditunjukan oleh sebuah foto. Pose Seokarno bergambar di
bawah pohon belimbing diyakini Eko berada di halaman belakang rumah tersebut.
Sayang, halaman belakang itu kini telah hilang dan tersekat benteng sekolah.
Di
rumah itu, Sukarno muda mulai mengasah wawasan politik dan pengetahuan tentang
gerakan sosial. Sementara sekolah menyediakan pelajaran formal sebagai latar
pengetahuan umum, pelajaran politik dia dapat dari HOS Tjokroaminoto, sang
bapak kost yang tak lain adalah ketua Sarikat Islam. Organisasi itu, pada
zamannya merupakan perkumpulan pribumi terbesar beranggotakan 2,5 juta orang.
Tak
hanya Sukarno, sejumlah pemuda indekost lainnya juga mendapatkan
gemblengan HOS Tjokro. Beberapa di antaranya, kelak berseberangan jalan dengan
Sukarno, bahkan dengan sang guru sendiri. Mereka adalah Semaoen, Muso, Alimin
dan Darsono yang kemudian menjadi pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sementara, pemuda lainnya, yakni SM Kartosuwijo, di masa tuanya menyatakan
perang terhadap Republik Indonesia dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia.
Di
rumah itu pula, Sukarno mengenal tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang kerap datang
bertamu. Mereka di antaranya adalah Tan Malaka, KH Agus Salim, Suwardi
Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara), pentolan Perhimpunan Sosial-Demokratik
Hindia (ISDV) Henk Sneevliet, dan masih banyak lagi.
Di
kamar kost-nya yang pengap itu, di depan cermin, Seokarno muda gemar berlatih
orasi. Dia mengaku terilhami oleh perkataan HOS Tjokro, demimenjadi orang
besar, pemuda harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.
Polah
Sukarno yang gemar teriak-teriak itu, terkadang membuat kawan-kawannya
jengkel. Di antara mereka, Kartoseowirdjo yang merupakan kawan karibnya sering
menyebutnya orang gila karena hobi berbicara sendiri. Sementara dari Muso yang
berusia empat tahun lebih tua, Sukarno mengaku belajar tenatang Marxisme.
Tahun
1921, ketika berusia 20 tahun, Sukarno dinikahkan HOS Tjokro dengan putri
sulungnya, Siti Oetari. Ketika itu, sang gadis yang juga menjadi rebutan para
pemuda indekost masih berumur 16 tahun. Pascapernikahan mereka, sang
mertua pidah rumah ke daerah Plampitan, yang berjarak tak jauh dari Peneleh.
Sayang,
pernikahan Sukarno dan Oetari tak bertahan lama. Begitu lulus HBS dan
melanjutkan pendidikan ke Tecnische Hogeschool (kini ITB) di Bandung, pada
1923, Sukarno mengembalikan Oetari pada ayahnya, HOS Tjokroaminoto. Konon,
sejak semula, keduanya sudah tak saling cinta. Dan pernikahan itu, mereka
lakukan untuk menyenangkan HOS Tjokro.
Setelah
menjadi presiden, Sukarno pernah pulang ke Gang Peneleh VII. Di depan rumah
joglo itu, dia mengumpulkan warga dan mengajak mereka diskusi tentang berbagai
hal. Cerita itu disampaikan Eko, penjaga rumah yang juga Ketu RT. “Nenek saya
pernah cerita begitu. Makanya, orang-orang tua sampai sekarang nyebut rumah
ini, ya Rumah Pak Karno,” kata dia.
Di
rumah itu, yang disembunyikan rapat sepanjang sejarah Orde Baru, Sukarno
melewati babak penting dalam sejarah hidupnya. Rumah itu kini bukan hanya
menjadi bagian sejarah presiden pertama Indonesia bernama Sukarno. Sejarah itu
hari ini telah menjadi warisan bangsa yang wajib dilestarikan.
Sejarawan
Surabaya Dukut Imam Widodo berharap, situs rumah HOS Tjokroaminoto yang masih
sepi pengunjung itu terus dikembangkan. “Paling tidak ada perpustakaan atau
ruang pemutaran film. Jadi orang punya banyak alasan untuk datang dan betah
lama di sana,” ujar dia.
Suatu Sore di Rumah HOS Tjokro
![]() |
| Rumah HOS Tjokroaminoto. Foto: Andi Nurroni |
Ashar hampir menjelang ketika saya
berhasil menemukan rumah tua berpagar hijau itu di Gang Peneleh VII, Surabaya,
akhir Februari lalu. Penampakan rumah joglo dari akhir abad ke-19 itu persis
seperti saya lihat di catatan blog sejumlah peminat wisata sejarah.
Itulah rumah peninggalan HOS Tjokroaminoto, seorang bapak bangsa yang namanya kini banyak diabadikan menandai jalan-jalan protokol di negeri ini. Tak hanya HOS Tjokro, hunian sederhana itu juga memiliki ikatan sejarah dengan sejumlah tokoh politik penting zaman pergerakan. Sebut saja Sukarno, Semaun, Muso, dan Kartosuwirjo.
Di rumah itu, Sukarno indekost selama beberapa tahun sejak 1916, semasa dia bersekolah di Hogere Burgerlijks School (HBS). Tak hanya menyewa kamar, Soekarno dan kawan-kawannya yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting mendapatkan wawasan politik, pergerakan sosial, hingga ilmu agama dari sang bapak kos, HOS Tjokroaminoto. Ketika, ia sudah memimpim perhimpunan Sarekat Islam.
Melihat pintu pagar tumah itu disegel gembok, rasa senang saya menjadi tercampur waswas. Sementara, gang yang tak seberapa lebar tempat rumah itu berdiri saya dapati sepi. Hanya kain bendera dujung tiang yang bergerak-gerak tersibak angin. Beberapa menit saya tertegun mencari orang untuk dimintai tanya.
Memasuki gang, seorang bapak turun dari sepeda motornya, lalu mendorong kuda besinya itu hendak melintas di depan saya. Oh, rupanya pengendara sepeda motor harus turun jika memasuki gang dan melintas di rumah itu—hal yang tidak saya lakukan sebelumnya. Peringatan itu, kemudian saya lihat dari jauh terpasang di pintu gerbang gang. Dari si Bapak, saya diberi petunjuk ke mana harus menemukan sang penjaga rumah.
Berjalan ke ujung gang hingga seratus meter jauhnya, saya menemukan rumah sang penjaga, Eko Hadiratno. Pria 40-an tahun yang dipercaya mengelola rumah HOS Tjokro itu adalah Ketua RT di lingkungan setempat. “Silakan masuk,” ujar dia ramah, setiba kami di joglo HOS Tjokro.
Memasuki rumah berukuran sekitar 13 x 9 meter itu, saya merasa diserbu berbagai bayangan sejarah. Meja-kursi kayu lawas, bufet, meja rias, foto-foto, benda-benda itu satu per satu menarik saya untuk mendekat. Gambar-gambar HOS Tjokro dalam berbagai suasana, juga foto-foto Sukarno dan yang lainnya, dipasang di sepanjang dinding rumah. “Foto-foto ini sebagian didatangkan dari Belanda,” ujar Eko yang menyertai langkah saya.
Memasuki joglo itu, pengunjung akan menemukan beberapa ruangan. Ruangan utama, tempat meja-kuris kayu diletakkan, adalah ruang tamu. Melewati lorong menuju bagian belakang, di kanan-kiri terdapat ruangan. Ruangan di sebelah kanan terlihat jelas seperti kamar, lengkap dengan daun pintu yang masih tersisa.
Di kamar itu, tergantung logo Partai Sarikat Islam Indonesia dalam bingkai besar. Menurut Eko, itulah benda paling bernilai yang diwanti-wanti pihak ahli waris untuk dijaga benar-benar. Sementara, ia melanjutkan, perabot dan barang-barang lain, sebagian besar ditambahkan sebagai pelengkap. Barang-barang asli sendiri, menurtu dia, sudah tidak jelas rimbnya, sejak rumah tersebut dijadikan tempat kost, hingga tahun 1998.
Eko bercerita, tata ruang di rumah tersebut adalah hasil dari beberapa kali pemugaran. Sejumlah dinding penyekatdi bagian depan dan tengah, kata dia, terpaksa dihilangkan agar rumah lebih leluasa menerima pengunjung.
Di belakang, masih ada satu ruangan lain. Ruangan itu juga menjadi akses untuk menemukan ruangan lainnya di bagian atap. Menaiki anak-anak tangga dari besi, saya menghadapi ruangan paling luas di rumah tersebut. Berukuran sekitar 10 x 5 meter, ruangan itu berdipan kayu dan hampir tak berjarak dengan atap.
Eko sendiri mengaku kurang yakin peruntukan ruangan tersebut. Berdasarkan pengakuan Sukarno, bahwa pemuda yang indekost hingga 30 orang, kemungkinan ruang tersebt disekat untuk kamar-kamar tidur.
Puas menjelajah setiap bagian rumah, Eko mengundang saya duduk di ruang tamu. Berbagai pertanyaan saya ajukan, setelah sebelumnya menyetel ponsel untuk merekam cerita dia. Mengawali kisahnya, Eko menyampaikan, sebelum tahun 1996, rumah HOS Tjokro boleh disebut ‘hilang’.
Sejarah joglo itu, kata dia, dirahasiakan keluarga HOS Tjokro, begitupun keluarga Soenarjo, warga kampung yang dititipi kunci. Menurut Eko, hingga kunci dipegang anak perempuan Soenarjo yang bernama Ema, sejarah rumah tersebut masih disimpan rapat-rapat. “Sepertinya karena alasan politik, waktu itu kan masih jaman Orde Baru, segala sesuatu yang berbau Sukarno tidak aman,” kata Eko.
Baru pada 1996, Eko bercerita, puteri Sukarno, Sukmawati membuka sejarah rumah tersebut kepada publik. Bersama dengan itu, Eko bercerita, kepemilikan rumah tersebut juga diserahkan kepada Pemkot Surabaya, dengan harapan menjadi cagar budaya.
Eko bercerita, perbaikan situs bersejarah tersesbut dilakukan secara berkala, terutama dalam tiga tahun terakhir. Genting dan flafon yang dulu bocor, kata dia, telah diperbaiki. Begitu juga dengan pengadaan berbagai bukti dokumentasi, seperti foto. Termasuk, perabot dan fasilitas penunjang, seperti perangkat audio untuk memeutar lagu-lagu perjangan.
Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar beberapa kali, menurut Eko, promosi rumah tersebut sebagai situs wisata sejarah masih kurang. Bahkan, kata dia, satu hari bisa sama sekali tidak ada yang datang berkunjung. Ia berharap, ke depan rumah tersebut terus disempurnakan, termasuk menyediakan pemutaran film dan menyediakan suvenir.
Berada satu jam di sana, langit semakin mendung ketika saya pamit untuk pulang. Senyum Eko yang ramah menyertrai saya mendorong sepeda motor menuju gerbang di depan sana.
Cat.: tulisan ini, dengan suntingan editor, pernah terbit di Harian Republika, Maret 2015
Kanvas Protes Yayak Yatmaka
![]() |
| Foto: goodhousekeeping.co.id |
Tiga bocah perempuan itu, dua di antaranya bahkan tampak belum genap sepuluh tahun. Tapi masing-masing mereka sudah menggendong bayi, terlihat begitu biasa tak ubahnya para ibu. Di jalanan kota-kota besar, seperti Jakarta, pemandangan seperti itu mungkin sudah biasa. Para bocah peminta-minta itu mematut diri agar terlihat menyedihkan, tak lain demi mendapat belas kasihan para tuan-nyonya bermobil.
Sebagian kita mungkin risih melihatnya, ada juga yang tidak peduli. Bagi Yayak Yatmaka, si pelukis sepuh yang tetap radikal itu, kenyataan tersebut benar-benar mengusik jiwanya. Dia pun lantas mengabadikan kisah para bocah penggendong bayi di atas pada kanvasnya, lantas memberinya judul “Pemburu Jendela Mobil Mewah”. Dua pekan pada awal Mei 2014, bertempat di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Selatan, Yayak menggelar pameran tunggal bertema “Anak dan Perempuan Perkasa”.
Berbagai potret sosial seputar anak dan perempuan pinggiran dihadirkan secara realis. Ada dua orang ibu terbungkuk memikul masing-masing sekarung kubis dan wortel. Ada seorang nenek bersepeda ontel, menopang setumpuk keranjang anyaman bambu di kepalanya. Ada Anak pemecah batu, anak pembuat grabah, anak menjinjing tandan sawit, dan masih banyak lagi. Semua gambar itu, tak pelak adalah kritik sosial yang nyaris tanpa metafor.
Berkunjung ke pameran Yayak beberapa hari lalu, beruntung saya bertemu dengan sang pelukis. Seniman yang terkenal ramah itu menyapa kami dengan hangat. “Selamat datang, silakan-silakan,” ujar dia sambil menganjurkan tangan, menyilakan saya melihat-lihat.
Kata sang pelukis, gambar-gambar di atas kanvas itu bukan cerita rekaan atau buah imajinasinya. Menurut Yayak, semua diambil dari foto-foto yang dia jumpai di berbagai media, dari mulai surat kabar, majalah, hingga internet. Potret-potret getir anak dan perempuan itu dipilih dengan pertimbangan keterwakilan golongan sosial. Ada perempuan petani, perempuan buruh, anak miskin perkotaan, anak dari suku bangsa minoritas, dan masih banyak lagi.
Kata Yayak, sengaja dia mendasarkan gambar-gambarnya pada foto agar dia memiliki daya kritik yang kuat. “Ini fakta, tak terbantahkan lagi. Mau bilang apa lagi pemerintah,” ujar dia dengan nada tinggi.
Sejak masa Orde Baru, Yayak memang dikenal sebagai juru kritik hebat terhadap penguasa. Sebelumbya, Yayak dikenal karena kekhasan karikatur bertema orde baru, serta gambar-gambar perjuangan buruh dan petani. Sekarang, Yayak menawarkan permenungannya mengenai nasib anak dan perempuan marjinal.
Kata dia, tema anak dan perempuan dia pilih karena dua golongan tersebut merupakan korban pertama dari setiap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak. Namun demikian, kata dia, selain bentuk kritik, karya-karya yang dia suguhkan juga ingin menyampaikan pesan. Bahwa di tengah himpitan berbagai kesulitan, anak dan perempuan marjinal itu hadir sebagai pejuang gigih untuk kemanusiaan.
Dibuka secara khusus oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, pameran Yayak ramai mendapat kunjungan. Diterangkan Yayak, seluruh hasil penjualan lukisannya itu akan dia gunakan untuk menjalankan Padepokan Neng Ning Nung Nang, lembaga pendidikan yang dia dirikan di Yogyakarta.
Yayak Yatmaka, Pengabdian Sepanjang Usia
![]() |
| Foto: yayak-yatmaka.blogspot.com |
Di kalangan kaum gerakan pro-demokrasi, nama Yayak Yatmaka sudah di kenal sejak lama. Lewat berbagai talenta seninya, dari mulai ganbar, musik, hingga teater, Yayak membela kaum sosial yang tertindas serta lantang menyuarakan kritiknya terhadap penguasa. Sejak kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1977, Yayak sudah terlibat berbagai aktivitas pengorganisasian rakyat. Kini, menjelang enam puluh tahun usianya, pria humoris kelahilaran Yogyakarta 1956 itu masih teguh dengan jalan perjuangan sosial yang dia tempuh.
Dua pekan pada awal Mei ini, Yayak kembali menggelar pameran lukisan tunggal, mengangkat tema “Anak dan Perempuan Perkasa”. bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pameran tersebut menampilkan berbagai gambaran sosial anak dan perempuan pinggiran. Kepada saya, Yayak berbagi cerita seputar pameran teerbarunya itu, serta sejumlah kisah menarik soal gagasan dan perjalanan hidupnya.
Kata dia, ide mengangkat tema anak dan perempuan dimotivasi oleh seorang kawannya. Kata Yayak, sang teman memberi saran, agar karya-karya lukisnya jangan terlalu frontal seperti sebelum-sebelumnya, agar lebih bisa diterima publik. Mereka yang akrab dengan karya-karya seniman sepuh itu sangat tahu bagaimana gambar-gambar Yayak. Karya dia umumnya karikatif, dengan tanpa tendeng aling-aling menggambar para penguasa dengan wajah-wajah monster dan metafor-metafor keras lainnya.
Yayak bercerita, kemudian dia merenungkan saran itersebut. Dia pun merasa, saran tersebut sejalan dengan kegelisahan yang dia rasakan soal nasib anak dan perempuan di Indonesia. Menurut Yayak, negara hari ini telah berlaku inkonstitusional. Berbagai peraturan tidak dijalankan, termasuk Pasal 34 ayat 1. “Katanya fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, mana buktinya?” Ujar kawan Widji Thukul itu.
Selain anak-anak yang terlantar di jalanan, dia juga mengaku sangat prihatin terhadap maraknya kejahatan seksual terhadap anak. “Itu kegagalan pemerintah. Mereka gagal mendidik orang dewasa,” Kata Yayak, seraya tertawa.
Menurut Yayak, setiap anak berhak bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. Namun sayang, kata dia, sistim pendidikan Indonesia hari ini lebih banyak mencetak orang-orang gagagal daripada melahirkan genarasi emas penerus bangsa. Mengekspresikan ketidak puasannya terhadap tatanan pendidikan di Indonesia saat ini, Yayak hari ini mengelola lembaga pendidikan yang dia berinama Padepokan Neng Ning Nung Nang.
Nama yang terdengar ganjil tersebut kata dia merupakan gagasan pendidikan Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni Ning, berarti ‘hening, Neng, berarti diam, Nong adalah aksi dan Nang adalah menang. Di Yogyakarta, kata Yayak padepokan tersebut dihidupi oleh 170 orang guru relawan, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk kawan-kawannya dari Jerman, Perancis, dan Austria.
Kata Yayak, tempat pendidikan itu mereka buat senyap, di tengah lingkungan alam yang masih asri. Kehiningan itu yang menrut dia akan efektif mendukung terjadinya transfer ilmu pengetahuan. Yayak melanjutkan, di sana para guru tak hanya mengajar, tapi juga berkarya. Mereka didorong untuk membuat berbagai buku panduan.
“Buku-buku panduan praktis itu adalah bentuk berbgai ilmu. Itu yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Panduan bercocok tanam, tanam ini-tanam itu, dan sebagainya,” ujar pria yang lama tinggal di Jerman itu. 5/18/14
Cat.: Tulisan ini, dengan suntingan redaktur, pernah terbit di Harian Republika, Mei 2014
Suara-Suara di Seputar 1998
![]() |
| Foto: www. thejakartapost.com |
Sebuah negara lahir melewati bermacam benturan kepentingan. Berbagai pihak menyuarakan kepentingan mereka dengan banyak cara, dari yang terang-terangan hingga yang sembunyi-sembunyi. Menyingkap berbagai motif kepentingan dalam suatu pergolakan besar kekuasaan selalu menjadi tema menarik, tak hanya bagi akademisi, tapi juga untuk seniman.
Di panggung itu berdiri sebuah rumah kaca,
serupa etalase besar. Di depannya terdapat emperan, dengan meja dan sejumlah
kursi melingkarinya. Di sekeliling, pelantang suara berbagai ukuran terikat
pada tiang-tiang besi. Samar-samar terdengar banyak suara timbul-tenggelam.
Lalu muncullah Po si teletubbies merah. Dia berjalan-jalan di dalam rumah kaca,
lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah penonton.
Itulah tata panggung dan adegan pembuka
pertunjukan drama-tari Sehabis Suara #1, yang dimainkan oleh Teater Garasi.
Dibawakan di pusat kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Rabu, 26
Maret 2014 lalu, karya terbaru sutradara Yudi Ahmad Tajudin tersebut
menyuguhkan interpretasi seni panggung atas huru-hara 1998 dan masa setelah
itu.
Musik berubah gaduh dengan tetabuhan. Di rumah
kaca itu tiga orang anonim berpakaian lusuh beratribut warna warni menarikan
adegan demonstrasi. Seorang anonim lain berseragam memangku genderang, hilir
mudik di antara mereka. Gerak mereka semakin liar, dengan iringan musik yang
semakin cepat. Brak! Pintu rumah kaca itu mereka buka paksa.
Orang-orang tanpa nama lainnya keluar dari
balik panggung, lalu berlarian keluar-masuk rumah tak menentu arah. Tiga orang
dari mereka bersimpuh di bawah meja, di pelataran rumah. Dari belakang meja,
seorang perempuan Jepang mencecar mereka dengan bahasa asing. Ia meracau
sembari mengiris-iris dan mulut penuh dengan buah tomat. Di dalam rumah,
orang-orang terus menarikan demonstrasi.
Begitulah beberapa potong adegan pertunjukan berdurasi
30 menit itu yang membuat penonton terpukau. Dengan tata panggung dan
perlengkapan yang artistik, koreografi yang segar, serta metafora yang cerdas,
Teater Garasi berhasil memukai penonton. Meski terasa sangat eksperimental
dalam kemasan surealis, Sehabis Suara #1 begitu enak dinikmati.
Sehabis Suara #1 menggambarkan berbagai
kepentingan yang hilir mudik di seputar tahun 1998 dan setelahnya. Rumah kaca bisa
jadi melambangkan Indonesia. Di dalamnya ada pergolakan. Ada rakyat lusuh yang
tak henti-hentinya bersuara. Ada juga aparat keamanan memangku genderang perang
yang siaga menghalau mereka.
Diwakili oleh figur seorang perempuan Jepang,
Sehabis Suara #1 mengemukakan kecurigaan adanya kepentingan-kepentingan asing
yang terus mengawasi dan merongrong Indonesia. Orang-orang yang bersimpuh di
hadapan si perempuan Jepang menjurus pada representasi penguasa dan pengusaha
yang berebut menjual Indonesia demi kepentingan mereka.
Menurut Yudi, sang sutradara, Sehabis Suara #1
lahir dari rasa penasaran para seniman Teater Garasi menyaksikan dinamika
sosial yang berkembang di seputar dan setelah Reformasi 98. “Kami penasaran,
apa sebenarnya yang terjadi ketika itu dan setelah itu, apa yang mendasari
kelompok orang melakukan ini dan itu. Aku percaya ada suara-suara yang
menggerakan setiap fenomena,” ujar Yudi, ditemui seusai pertunjukan.
Yudi menjelaskan, Sehabis Suara #1 merupakan
karya awal dari konsep pertunjukan besar yang tengah mereka siapkan. Malam itu,
sengaja mereka menampilkan versi 30 menit dari konsep besar tersebut sebagai
perayaan kecil atas keberhasilan mereka meraih Prince Claus Award 2013.
Prince Claus Award
adalah anugerah dunia untuk berbagai bidang seni, sosial dan kebudayan yang
diterbitkan Price Claus Fund, lembaga sosial dan kebudayaan Belanda. Seperti
halnya Noble Prize, panitia bekerja menilai para kandidat tanpa sepengatahuan
mereka. Sebagai sebuah tradisi, selain mendapatkan penghargaan yang diberikan
langsung di negeri Belanda, di negara asal pemenang, penghargaan juga
diserahkan oleh Duta Besar Kerajaan Belanda.
Cat.: tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, April 2014.
Selamat Datang
Blog ini memuat sekumpulan karya jurnalistik yang saya buat. Tulisan-tulisan di blog ini [dengan suntingan editor] pernah terbit di Harian Republika.
Pos Populer
Arsip
-
▼
2015
(47)
-
▼
Oktober
(6)
- Bayangan Sukarno di Rumah HOS Tjokro
- Transmigrasi, Ketika Harapan Terbentur Kenyataan (...
- Transmigrasi, Berkah Kemajuan dari Tangan Perantau...
- Transmigrasi, Hari Pertama yang Penuh Tanda Tanya ...
- Transmigrasi, Membawa Luka ke Tanah Harapan (Bagia...
- Transmigrasi, Mengejar Mimpi Sampai Jauh (Bagian 1)
-
▼
Oktober
(6)





